Ketika Tradisi Rasulan Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Adnan Shavril Arpinsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Desa Jetu, Tegalgede, Karanganyar, masih mempertahankan tradisi bersih desa yang telah diwariskan turun-temurun. Bukan sekadar kegiatan tahunan yang diisi makan bersama dan hiburan, tradisi ini menyimpan sejarah yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jetu pada masa lalu.
Kegiatan bersih desa tahun ini dilaksanakan pada Jumat Pon, 18 September 2026, di Punden Rekso Husodo, tempat yang dipercaya sebagai salah satu tempat yang berkaitan dengan cikal bakal Desa Jetu. Kegiatan berlangsung mulai pukul 19.30 hingga tengah malam. Kegiatan Bersih desa melibatkan semua lapisan masyarakat Jetu seperti, karang taruna, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para sesepuh. Keterlibatan berbagai generasi ini menjadi salah satu gambaran bahwa kegiatan bersih desa masih eksis dalam kehidupan masyarakat Jetu.
Rangkaian acara bersih desa diawali dengan pertunjukan Tari Gambyong. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan oleh ketua pelaksana, ketua RW, camat, dan koordinator lingkungan. Salah satu rangkaian yang menjadi simbol penting dalam kegiatan tersebut yakni pemotongan tumpeng. Tumpeng menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan harapan agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Lalu dilanjutkan makan bersama dengan disuguhi pertunjukan ledek atau tayub yang berasal dari Mojogedang, Karanganyar.
Rangkaian bersih desa tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi tempat warga Jetu untuk berkumpul dan menikmati hiburan bersama. Di balik momen kemeriahan tersebut, terdapat cerita yang panjang mengenai asal-usul tradisi ini. Menurut Sunarto (71), warga Desa Jetu yang pernah terlibat sebagai panitia rasulan, tradisi yang dikenal sebagai bersih desa berlangsung sejak tahun 1959. Pada masa itu masyarakat lebih mengenalnya dengan istilah rasulan.
Rasulan merupakan tradisi yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang pada masa lalu banyak bergantung pada pertanian. Hasil panen padi menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat zaman dulu, sehingga rasa syukur atas hasil panen diwujudkan melalui tradisi rasulan. Pelaksanaannya pun biasanya bertepatan dengan hari Jumat Pon, karena berkaitan dengan adanya Punden Rekso Husodo di Desa Jetu. Sebelum acara malam berlangsung, masyarakat terlebih dahulu mengadakan kondangan atau tasyakuran pada sore hari. Warga membawa nasi beserta lauk pauk dari rumah masing-masing. Makanan itu nantinya dikumpulkan dan dibagikan kembali, termasuk masyarakat yang membutuhkan. Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan hiburan berupa ledek atau tayub.
Menariknya dari pelaksanaan bersih desa di Jetu adalah keberadaan pohon beringin di Punden Rekso Husodo. Pohon beringin tersebut masih berdiri dari zaman dulu hingga sekarang, meskipun ukurannya tidak sebesar dahulu. Keberadaan pohon tersebut tidak dapat dipisahkan dari cerita masyarakat mengenai tradisi di Punden Rekso Husodo. Menurut Sunarto, pada zaman dahulu masyarakat Jetu melakukan ‘penyuwunan’ atau menyampaikan harapan di kawasan tersebut. Salah satu ‘penyuwunan’ pada masa itu adalah meminta agar hasil panen berjalan dengan baik. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Jetu pada masa itu yang masih dekat dengan pertanian atau dulu masih banyak ‘wong tandur’. Ketika hasil panen menjadi salah satu penopang kehidupan, harapan terhadap hasil panen juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Dalam ‘penyuwunan’, sesajen menjadi salah satu bentuk persembahan yang dilakukan masyarakat, hal ini sesajen dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur. Hingga kini, menjelang pelaksanaan bersih desa, masih terdapat masyarakat yang meletakkan sesajen di depan pohon beringin.
Bersih desa di Jetu tidak sepenuhnya berubah dengan rasulan yang dilakukan pada masa lalu. Nama kegiatan berubah. Bentuk acara berkembang. Kehidupan masyarakat juga mengalami perubahan. Jika dahulu, rasulan sangat erat dengan kehidupan agraris dan hasil panen. Sekarang, bersih desa menjadi tempat berkumpul, menikmati hiburan, bersilaturahmi, dan menjaga hubungan antargenerasi. Perubahan tersebut tidak serta-merta membuat tradisi kehilangan eksistensinya, karena masyarakat dari berbagai usia masih telibat dalam kegiatan tersebut.
Menariknya lagi, Desa Jetu bukan satu-satunya wilayah yang masih melestarikan tradisi semacam ini. Sejumlah desa di sekitar Karanganyar juga masih mempertahankan tradisi bersih desa yang memiliki akar tradisi rasulan. Dan pada akhirnya, bersih desa bukan hanya tentang melestarikan sebuah acara agar terus dilaksanakan setiap tahunnya. Kegiatan ini menjadi cara masyarakat menjaga ingatan mengenai sejarah dan identitas desanya.
Di tengah perkembangan Desa Jetu yang semakin modern, bersih desa menjadi pengingat bahwa perubahan zaman tidak selalu harus menghilangkan tradisi. Sebab, selama masyarakat masih memahami, menjalankan, dan mewariskan cerita dibaliknya, sebuah tradisi akan masih memiliki ruang untuk terus hidup.
