Penderitaan, Tuhan, dan Pertanyaan yang Tak Pernah Selesai

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Adnan Shavril Arpinsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pertanyaan yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai dijawab oleh manusia: jika Tuhan Mahakuasa, mengapa manusia menderita?
Pertanyaan yang sederhana diucapkan, tetapi semakin dipikirkan justru semakin rumit. Mengapa Tuhan yang Mahakuasa dan Mahasempurna membiarkan kejahatan, penyakit, bencana, bahkan penderitaan yang terkadang datang tanpa kita minta? Jika Tuhan mampu melenyapkannya, mengapa tidak dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat saya berhenti sejenak ketika membaca buku Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita? Karya Ulil Abshar Abdalla.
Yang menarik, Ulil tidak menghadapi pertanyaan tersebut dengan kemarahan atau jawaban yang tergesa-gesa. Justru menurutnya, orang beriman tidak perlu takut terhadap keraguan dan pertanyaan. Pertanyaan tentang penderitaan merupakan bagian dari teodisi, sebuah persoalan lama dalam filsafat dan teologi mengenai hubungan antara Tuhan, kebaikan, dan penderitaan.
Salah satu gagasan yang berputar-putar di pikiran saya berasal dari Al-Ghazali. Ia mengutip Abu Thalib al-Makki: seandainya manusia diciptakan dengan kecerdasan maksimal, mengetahui seluruh rahasia, lalu diminta menciptakan kembali dunia, dunia yang muncul kurang lebih akan sama dengan dunia yang sekarang. Dengan kata lain, dunia yang memiliki kekurangan dan penderitaan belum tentu berarti dunia yang salah atau gagal diciptakan.
Awalnya saya cukup sulit menerima gagasan ini. Bagaimana mungkin dunia yang penuh dengan penderitaan disebut sebagai dunia yang paling mungkin atau paling sempurna? Bukankah manusia dapat membayangkan dunia tanpa kejahatan, tanpa penyakit, atau tanpa penderitaan yang sebenarnya bisa dicegah?
Di sinilah saya menemukan persoalan yang justru menarik untuk direnungkan. Kecerdasan tidak selalu berarti kemampuan menciptakan kehidupan tanpa konflik. Manusia tetap memiliki kehendak, kepentingan, pilihan, dan keterbatasan. Bahkan jika manusia mengetahui banyak hal, belum tentu semua manusia menginginkan hal yang sama.
Karena itu, gagasan Al-Ghazali tidak melulu dipahami bahwa setiap penderitaan memang harus terjadi. Lebih tepatnya dipahami sebagai ajakan untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas. Sesuatu yang tampak sebagai penderitaan dari pov manusia belum tentu dapat kita pahami seluruh maknanya dalam keseluruhan kehidupan. Di sinilah konsep husnuzon kepada Tuhan menjadi poin penting: keyakinan bahwa di balik sesuatu yang kita anggap buruk, mungkin terdapat hikmah yang belum mampu kita lihat. Hal ini bukan berarti digunakan untuk membenarkan penderitaan begitu saja. Ada penderitaan yang muncul karena pilihan manusia dan sebenarnya dapat dicegah. Karena itu, percaya bahwa terdapat hikmah di balik penderitaan bukan berarti kita berhenti berusaha untuk menghapus penderitaan. Justru keyakinan seharusnya mendorong manusia untuk tetap memperbaiki keadaan.
Menariknya adalah buku ini berani membawa pertanyaan teologis yang berat ke dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembahasannya juga membuat pembaca menyadari bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak berhenti pada persoalan ibadah, tetapi juga cara manusia memahami sesama, alam, dan kehidupan.
Meski begitu, buku ini mungkin tidak langsung mudah bagi pembaca yang belum akrab dengan pembahasan teologi atau pemikiran Al-Ghazali. Beberapa gagasan membutuhkan pembacaan yang pelan dan mendalam agar tidak berhenti pada kesimpulan sederhana bahwa “semua penderitaan pasti ada hikmahnya.”
Pada akhirnya, buku ini tidak benar-benar memberikan satu jawaban yang dapat mengunci pertanyaan tentang penderitaan untuk selamanya. Buku ini mengajak para pembaca untuk memperluas cara pandang dalam memahami Tuhan, kehidupan, dan diri sendiri. Kita diajak menyadari bahwa tidak semua hal dapat dipahami hanya melalui keterbatasan akal manusia.
