Seniman Batu Mulai Garap Galeri Digital, Pameran Fisik Tak Lagi Jadi Andalan

Koord. Lab Pengembangan Sistem STIKI Malang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adnan Zulkarnain tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana di sebuah studio di Jalan Bromo, Pandanrejo, Kota Batu, beberapa waktu lalu terlihat berbeda. Para seniman dari kolektif 9 Project berkumpul bersama tim dosen dan mahasiswa Universitas Bhinneka Nusantara. Mereka berfoto bersama sambil membawa beberapa perlengkapan seni dan dokumen kerja sama. Foto itu menjadi tanda dimulainya sebuah program baru: membangun galeri virtual berbasis web.
9 Project sendiri sudah berdiri sejak 2015 dan beranggotakan sembilan orang. Selama ini, mereka hanya mengandalkan pameran fisik untuk menunjukkan karya. Masalahnya, biaya sewa galeri dan logistik sangat mahal. Akibatnya, pameran hanya bisa digelar rata-rata satu kali dalam satu hingga tiga tahun. Di luar waktu itu, karya-karya mereka hanya tersimpan di studio, tidak ada yang melihat.
Tim Universitas Bhinneka Nusantara yang dipimpin oleh Rina Nurfitri bersama Adnan Zulkarnain dan Yekti Asmoro Kanthi kemudian menawarkan solusi. Mereka mengusulkan pembuatan Virtual Art Gallery, sebuah platform pameran digital 360 derajat yang bisa diakses dari mana saja. Program ini didanai melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara.
Saat ini, program masih berada di tahap awal. Tim sudah melakukan sosialisasi dan Focus Group Discussion dengan seluruh anggota 9 Project. Mereka juga sudah menandatangani kesepakatan kerja sama dan melakukan serah terima barang serta peralatan pendukung di markas 9 Project.
Ke depan, tim akan mendokumentasikan 20 hingga 30 karya seni terbaik menggunakan teknik fotografi resolusi tinggi. Karya-karya itu nantinya akan disimpan dalam database digital lengkap dengan narasi filosofis dan harga. Platform ini dirancang agar bisa diakses 24 jam sehari, sepanjang tahun, sehingga seniman tidak lagi bergantung pada pameran fisik.
Setelah platform selesai, tim akan memberikan pelatihan kepada seniman agar bisa mengelola website sendiri. Mereka juga akan diajari strategi pemasaran digital dan cara melihat data pengunjung. Selain itu, tim akan membantu pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual untuk melindungi karya digital para seniman.
Program ini menargetkan 500 kunjungan unik ke galeri virtual pada bulan pertama setelah diluncurkan nanti. Jika berhasil, ini bisa menjadi contoh bagi komunitas seni lain di Jawa Timur untuk mulai go digital.
