Konten dari Pengguna

Menggadaikan Integritas Demi Kemewahan Tanpa Batas

Adrian Fetriskha

Adrian Fetriskha

ASN Bapenda Provinsi Sumatera Barat.

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adrian Fetriskha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ASN. Dokumentasi pribadi. Produk AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ASN. Dokumentasi pribadi. Produk AI

Kita kembali mendengar berbagai kasus korupsi. Tidak hanya yang dilakukan oleh pejabat negara tetapi juga oleh Aparatur Sipil Negara.

Pada Rabu, 12 Agustus 2026 dua ASN Ditjen Pajak (DJP) ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung terkait kasus dugaan korupsi transfer pricing PT Toba Pulp Lestari (TPL) Tbk. Di Palembang, salah seorang ASN Dishub Palembang diperiksa oleh penyidik Kejari Palembang terkait penyidikan dugaan korupsi proyek pengadaan lampu jalan. Sebanyak 14 orang pejabat ASN eselon I, II, dan III dinonaktifkan sementara oleh Menteri Pertanian karena adanya indikasi aliran dana mencurigakan senilai miliaran rupiah dan keterlibatan mafia pupuk.

Kasus terbaru, penangkapan Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan sejumlah pihak lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis, 20 Agustus 2026. Mereka ditangkap terkait dugaan korupsi dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Uang senilai ratusan juta rupiah sebagai barang bukti turut diamankan oleh KPK. Kampus yang seharusnya diisi dengan pembelajaran ilmu pengetahuan dan penanaman nilai justru menjadi ruang praktik korupsi.

Memperhatikan beberapa kasus korupsi di atas, jelas para pelaku bukanlah ASN dengan penghasilan yang rendah. Mereka pejabat dengan penghasilan yang jauh diatas ASN kebanyakan. Dalam hitungan sederhana, penghasilan mereka seharusnya sudah lebih dari cukup. Lalu kenapa masih korupsi?

Keserakahan dan Kebutuhan Bertemu Kesempatan

Menurut teori GONE Jack Bologne, faktor penyebab seseorang melakukan tindakan korupsi adalah Greed (Keserakahan), Opportunity (Kesempatan), Need (Kebutuhan) dan Exposure (Pengungkapan). Ketika keserakahan dan kebutuhan sudah bertemu dengan kesempatan dan hukum yang lemah maka berkembangbiaklah prilaku korupsi.

Keserakahan membuat seseorang tidak pernah puas. Hasratnya terus mencari dan mencari sebanyak-banyaknya harta. Ingin sekali memiliki harta yang banyak namun penghasilan masih kurang. Gaji dan tunjangan tidak bisa lagi mengimbangi gaya hidup. Besar pasak dari pada tiang, lalu memaksanya untuk mencari jalan instan.

Tidaklah menjadi sebuah kesalahan jika seorang ASN hidup mewah, memiliki rumah yang besar, menaiki kendaraan yang bagus, membeli barang berkelas atau menikmati liburan ke luar negeri. Bukanlah sebuah dosa jika ada ASN memiliki kehidupan yang lebih layak dibanding orang-orang disekelilingnya. Semua sah-sah saja selama diperoleh dari usaha yang sah. Persoalannya muncul ketika rumah, mobil dan semua pencapaian itu berasal dari hasil korupsi.

Kesadaran Awal dan Integritas

Di sinilah kita perlu kembali pada kesadaran awal bahwa berkarier sebagai ASN bukanlah jalan untuk menjadi kaya raya. Jika tujuan utamanya adalah mengejar kemewahan, itu berarti sejak awal kita telah memilih jalan yang keliru.

Menjadi ASN adalah pilihan untuk hidup layak melalui penghasilan yang halal dan sah, bukan pilihan untuk memperkaya diri melalui jabatan ataupun kewenangan. Menjadi ASN adalah memilih jalan pengabdian. Negara memberikan gaji, tunjangan dan fasilitas sebagai imbalan atas pekerjaan dan tanggung jawab yang kita emban. Tetapi semua itu bukan tiket untuk hidup bermewah-mewah dengan cara yang tidak wajar, apalagi dengan memanfaatkan jabatan dan kewenangan yang dimiliki.

Integritas sebagai seorang ASN benar-benar harus dijaga. Integritas tidak seharusnya berhenti sebagai tulisan di spanduk, materi apel pagi atau isi pakta integritas saja tetapi juga terlihat dalam sikap dan perilaku.

Jangan hanya karena tuntutan gaya hidup lalu integritas perlahan-lahan mulai ditawar. Awalnya mungkin hanya menerima pemberian kecil. Kemudian merasa tidak enak menolak fasilitas dari rekanan. Setelah itu mulai mencari keuntungan dari kewenangan. Lalu lama kelamaan sesuatu yang dulu terasa salah mulai dianggap biasa dan wajar. Akhirnya integritas rusak, hilang dan tergadai seutuhnya.

Karena itu, membangun integritas ASN harus dimulai dari kesadaran pribadi. Jangan sampai jabatan yang seharusnya menjadi amanah justru menjadi tiket korupsi. Jangan sampai kewenangan yang diberikan negara dipakai untuk memenuhi gaya hidup. Jangan sampai keinginan untuk terlihat sukses membuat kita lupa mana yang benar dan mana yang salah.

Ukuran Keberhasilan ASN

ASN tidak harus menjadi orang paling kaya di lingkungannya. ASN justru harus menjadi orang yang paling dapat dipercaya ketika memegang amanah. Kita boleh hidup sederhana. Kita boleh tidak mengikuti semua tren. Kita boleh tidak memiliki barang-barang mahal yang dimiliki orang lain. Tidak perlu memaksakan diri hanya agar terlihat berhasil.

Sebab ukuran keberhasilan seorang ASN bukan seberapa mahal mobil yang dikendarai, seberapa besar rumah yang dimiliki, atau seberapa mewah gaya hidup yang ditampilkan. Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa bersih tangan kita ketika menjalankan tugas dan seberapa tenang hati kita ketika mempertanggungjawabkannya.

Pada akhirnya, integritas adalah pilihan. Pilihan untuk tetap jujur ketika ada kesempatan untuk berbuat curang. Pilihan untuk tetap sederhana ketika lingkungan mendorong kita bermewah-mewahan. Pilihan untuk menolak ketika ada sesuatu yang tidak semestinya diterima.

Jangan gadaikan integritas demi kemewahan. Perlu kita sadari bahwa jabatan yang kita duduki hari ini suatu saat akan berakhir, fasilitas yang kita miliki nanti akan berhenti, dan kewenangan yang kita pegang suatu hari nanti pasti dilepas. Tetapi nama baik dan integritas akan tetap melekat pada diri kita.

Menjadi ASN mungkin tidak membuat kita hidup dalam kemewahan. Tetapi dengan integritas, profesi ini dapat membuat hidup kita jauh lebih bernilai: cukup secara materi, terhormat dalam pekerjaan, dan tenang dalam menjalani kehidupan.