Konten dari Pengguna

Emas atau Reksa Dana, Pilihan Mahasiswa yang Baru Belajar Investasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dhasya Adrian Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pertumbuhan investasi dan tabungan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertumbuhan investasi dan tabungan. Foto: Shutterstock

Sebagai mahasiswa, uang bulanan biasanya pas-pasan, tapi saya penasaran juga pengen coba investasi, meski cuma modal kecil. Waktu buka aplikasi investasi pertama kali, saya lihat ada pilihan emas digital, reksa dana pasar uang, sampai reksa dana saham. Karena baru mulai, saya sempat bingung mau pilih yang mana.

Setelah tanya-tanya senior dan baca beberapa referensi, saya coba dua-duanya dengan nominal kecil, sekadar untuk belajar. Dari situ saya jadi punya gambaran, mana yang lebih cocok buat kondisi mahasiswa seperti saya.

Emas: Cocok Buat Nabung yang Nggak Ribet

Saya mulai dari emas digital karena minimal pembeliannya kecil, bahkan bisa mulai dari puluhan ribu rupiah. Alasan saya simpel: saya mau nabung buat kebutuhan yang jelas, misalnya dana darurat kuliah, tanpa harus mikirin naik-turunnya pasar tiap hari.

Harga emas memang bisa naik-turun juga, tapi pergerakannya lebih pelan dibanding saham. Enaknya lagi, kalau sewaktu-waktu butuh uang, saya bisa jual lagi dengan cukup mudah.

Kekurangannya, uang yang saya taruh di emas ya cuma "diam" di sana, nunggu harganya naik. Tidak ada tambahan hasil selain dari kenaikan harga itu sendiri.

Reksa Dana: Belajar Sambil Jalan

Setelah cukup nyaman dengan emas, saya coba reksa dana, mulai dari jenis pasar uang yang risikonya paling rendah. Karena dikelola oleh manajer investasi, saya tidak perlu repot menganalisis pasar sendiri, cukup pilih jenis reksa dana sesuai profil risiko yang saya rasa nyaman.

Belakangan saya coba reksa dana campuran, yang nilainya lebih sering naik-turun dibanding pasar uang. Awalnya agak was-was lihat nilainya turun, tapi karena nominal yang saya taruh kecil dan memang untuk jangka panjang, saya jadi lebih santai menghadapinya.

Kesimpulan dari Pengalaman Saya

Sampai sekarang saya masih pakai keduanya, dengan tujuan yang berbeda. Emas saya gunakan untuk dana yang mungkin saya butuhkan dalam waktu dekat, sedangkan reksa dana saya anggap sebagai tabungan jangka panjang yang saya cek beberapa bulan sekali.

Sebagai mahasiswa dengan uang terbatas, menurut saya tidak perlu pilih salah satu secara ekstrem. Bisa mulai dari nominal kecil di keduanya, sambil belajar mana yang lebih cocok dengan kebutuhan dan kenyamanan masing-masing terhadap risiko.

Yang saya pelajari, investasi di usia kuliah bukan soal seberapa besar hasilnya sekarang, tapi soal membangun kebiasaan mengatur uang sejak dini. Semakin awal mulai, semakin banyak juga waktu untuk belajar dari pengalaman kecil-kecilan seperti ini.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pandangan pribadi, bukan saran atau rekomendasi investasi. Sebelum memutuskan, sebaiknya pelajari lebih lanjut atau konsultasikan ke pihak yang lebih ahli.