Bahasa Sebagai Faktor Kunci dalam Adaptasi

Mahasiswa prodi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta yang sedang berusaha mengembangkan kemampuan dalam menulis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Adrianto Sukarso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Memulai hidup di luar negeri merupakan sesuatu yang sering didambakan oleh masyarakat Indonesia. Anggapan bahwa tinggal di luar negeri dapat membuka peluang, wawasan, serta arah baru dalam kehidupan, kian memikat banyak warga Indonesia untuk mencoba kans untuk merantau keluar dari Tanah Air. Mereka membayangkan kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan di negara tempat kelahiran sendiri. Tetapi, demi mencapai gaya hidup idaman, terdapat jalan berliku yang harus terlebih dahulu dilewati.
Jauh sebelum hari wisuda, Banuraga, sudah mempersiapkan seluruh berkas untuk persiapan bekerja di negeri Sakura. Ya, Banuraga, yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa, resmi diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan financial tech di Jepang. Pria bernama lengkap Andika Wirestyo Banuraga tersebut, berhasil mengalahkan puluhan calon karyawan asing lainnya, dan mendapat posisi sebagai UI UX Designer.
Tinggal di Jepang bukanlah pengalaman baru bagi Banuraga. Pria kelahiran 1996 ini pernah menetap di Negeri Matahari Terbit, tepatnya di Tokyo, ketika dirinya menginjak bangku SMA. Tentunya, dia sudah mengumpulkan pengalaman sebagai bekal untuk kembali hidup di Jepang. Ditambah lagi, dirinya mendapatkan segudang informasi dari human resource tempat Banuraga bekerja. Beradaptasi kembali di lingkungan Jepang bukanlah sesuatu yang sulit, bukan?
Etos kerja masyarakat Negeri Sakura sudah melanglang buana ke seluruh penjuru dunia. Mereka amat mematuhi aturan waktu kerja dari kantor masing-masing. Tidak jarang, pekerja-pekerja Jepang melakukan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, atas perintah dari atasan. Hal tersebut memicu beberapa kematian karyawan karena terlalu banyak bekerja, sampai-sampai pemerintah harus memperketat aturan waktu bekerja, agar orang-orang Jepang dapat bekerja tanpa harus mengorbankan kesehatan mereka.
Kasus tersebut tidak berlaku bagi Banuraga. Dirinya bekerja dalam lingkungan yang amat suportif terhadap karyawannya. "Gue disini tempat tinggal dicariin sama perusahaan. Asuransi juga udah dibikinin," paparnya. "Jam kerja sih standar, dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Dan kalo lembur sih tergantung. Yang pasti dikabarin dulu sama kantor. Itu juga nanti ada kompensasinya gitu," lanjut Banuraga. Pengalaman yang amat berbeda dibandingkan orang-orang pada umumnya ketika bekerja di Jepang.
Usut demi usut, rupanya perusahaan Banuraga bekerja ingin mendobrak tradisi Jepang pada umumnya. Tidak hanya tempat tinggal, asuransi, atau kompensasi lembur, dirinya beserta karyawan lain juga mendapatkan kesempatan untuk memeriksa kesehatan mental. Suatu hal yang masih belum banyak diperhatikan, ketika berbicara soal dunia pekerjaan. Selain itu, Banuraga dan rekan-rekannya juga dianjurkan untuk mengambil cuti. Lagi-lagi sebuah tindakan yang belum banyak dilakukan oleh atasan-atasan di perusahaan Jepang.
Dengan pengalaman, serta berada dalam lingkungan kerja positif, seharusnya semakin mempermudah proses adaptasi Banuraga, benar begitu? Kenyataannya, di balik segala kemudahan yang dia dapatkan, Banuraga masih harus berkutat dengan language barrier Negeri Matahari Terbit. Terlebih, pria bungsu dari 2 bersaudara ini, masih belum sepenuhnya menguasai bahasa Jepang. Di berbagai negara, penduduk asing akan mendapat respek dari masyarakat lokal jika menguasai bahasa ibu dari negara tersebut. Ini juga berlaku di Jepang. Terlebih, masih banyak orang-orang Jepang yang belum fasih berbicara bahasa Inggris.
Bermodal penguasaan berbagai perangkat lunak dalam bekerja, tidak berarti Banuraga terbebas dari jeratan bahasa Jepang. "Kadang harus presentasi materi dengan orang kantor yang nggak bisa bahasa Inggris sama sekali. Waktu gue habis cuma buat nyiapin apa yang mau gue omongin ke mereka ketimbang ngebuat materi itu sendiri," ujar Banuraga sambil tertawa kecil. Belum selesai sampai di sana, pria yang saat ini berdomisili di distrik Ota-Ku, Tokyo, sampai mengadakan gladi resik bersama koleganya, demi mengoptimalkan bahan presentasi nanti.
Di luar topik pekerjaan, Banuraga tidak memiliki masalah untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Dia mampu berkomunikasi dengan lancar, baik untuk berbelanja mingguan, membeli tiket, atau memesan makanan di restoran. Namun, agar bisa berbicara lebih intens dengan tujuan mencari teman dari warga lokal, masih menjadi pekerjaan rumah Banuraga untuk diselesaikan. Selain masalah bahasa, sifat orang-orang Jepang yang cenderung pemalu, terlebih terhadap warga asing, mempersulit usaha pria lulusan Universitas Bina Nusantara ini, untuk bergaul dengan orang asli Jepang.
Mengherankan memang, melihat orang Indonesia yang sudah hidup mapan di negeri orang lain, masih mau berusaha untuk mencocokan diri dengan kultur negara tersebut. Ditambah lagi, fakta dia sudah pernah menghabiskan tiga tahunnya di Negeri Sakura, seharusnya sudah menjadi pengalaman yang memuaskan bagi Banuraga. Lantas apalagi yang kali ini dia kejar di Jepang?
Banuraga jatuh cinta dengan Jepang. Bukan berarti dia melupakan Tanah Air. Dia mengaku masih merindukan sebagian kultur Indonesia, mulai dari makanan, keramahan, dan tentunya bahasa. Tetapi, di negara di mana dirinya mendapatkan berbagai kemudahan, dengan fasilitas yang belum tentu dirinya jumpai di Indonesia, serta potensi baru untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing dalam industri pekerjaan, cukup lumrah bagi seseorang untuk memilih tinggal di negeri asing.
Waktu yang Banuraga habiskan selama duduk di kursi SMA, belum membuat dirinya puas. Saat itu, pria yang menggemari permainan Runescape ini, tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat Jepang asli. Dia cenderung menghabiskan waktu bersama warga negara Indonesia lainnya.
Alhasil, sekembalinya dari Negeri Samurai, Banuraga merasa masih ada yang kurang dari pengalamannya hidup di Jepang. Ini membuat dia berjanji, untuk kembali ke Jepang, untuk memenuhi gaya hidup yang dirinya inginkan.
Bahasa merupakan komponen penting berhasil atau tidaknya seseorang beradaptasi di suatu negara. Dengan mempelajari bahasa, orang dapat lebih memahami kultur tempat dia tinggal sekarang. Banuraga memahami betul hal tersebut. Hasratnya agar bisa berbaur dengan warga sekitar, membuat dirinya tekun mempelajari bahasa Jepang, kendati kesibukannya dalam bekerja. Hanya perlu menunggu waktu, sebelum Banuraga mampu mewujudkan keinginannya yang sudah lama dia impikan.
