Pesan yang Berujung Manis

I.Aeni Muharromah, lulusan Universitas Padjadjaran Bandung, bekerja sebagi humas ahli madya BATAN, juga dosen di UNPAM Tangsel. Karya tulisnya dimuat di berbagai Jurnal dan bunga rampai. Menulis bagian yang tidak terpisahkan dari keg humas
Konten dari Pengguna
19 Maret 2021 16:37
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari I Aeni Muharromah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang PNS dengan 7 anak - dok pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Seorang PNS dengan 7 anak - dok pribadi
ADVERTISEMENT
Terlahir sebagai anak pertama dari 7 bersaudara pasti memiliki beban tanggung jawab lebih dibandingkan dengan terlahir sebagi anak tunggal atau cuma 2 bersaudara. Sebagai anak pegawai negeri kami tahu persis bagaimana ayah dan ibu mengatur keuangan supaya kehidupan tetap berjalan. Pendidikan yang menjadi prioritas konsep keluarga terutama ayah-ibu dijalani tidaklah mudah. Semua itu perlu perjuangan yang tidak sedikit dan pengorbanan totalitas dalam hidup. Membekas di hatiku bahwa kelak saya harus lebih baik dari ayahku yang seorang PNS sebagai jalan pikiran untuk keluar dari himpitan ekonomi. Kondisi keuangan sangat begitu terasa ketika kami masuk perguruan tinggi.
ADVERTISEMENT

Beginilah Menjadi Anak Seorang PNS

Saya masih teringat ketika tiba saatnya bayar semester uang kuliah yang saat itu sudah 3 orang yang sedang kuliah. Di samping itu anak keempat dan kelima segera menyusul. Kami sering berembuk siapa yang harus didahulukan membayar uang kuliah, ini ibarat permufakatan kami sekeluarga. Rasanya tidak akan cukup mengisahkan bagaimana perjuangan kami dalam menyelesaikan kuliah sebagai keluarga PNS dengan anak tujuh. Hal yang menguatkan bagi kami bersaudara adalah pesan ortu yang mengatakan bahwa kalian hidup dari keberkahan ayah sebagai guru PNS yang dengan ikhlas mendidik banyak siswa menjadi orang yang lebih baik. Dari penghasilan PNS inilah yang menjadi roda kehidupan kalian semua. Kami hanya terdiam menerima nasihat itu namun hati ini bergejolak karena saya punya persepsi saya tidak ingin menjadi PNS karena mengalami sendiri bagaimana kehidupan kami.
ADVERTISEMENT
Akhirnya pesan ortu berbuah manis mengantarkan kami bertujuh menamatkan kuliah program S1 dengan baik dan saat ini sebagian sudah master. Begitu lulus saya bekerja di sebuah perusahaan besar bergerak dibidang industry yarn bahan baku benang untuk pembuatan tekstil di kota Bandung tempat saya kuliah. Sore hingga malam saya menjadi instruktur Bahasa inggris di tempat kursus. Benar penghasilanku jauh melebihi ayahku. Tidak puas dengan apa yang saya peroleh saat itu saya mulai melirik perusahaan asing bergerak di bidang shoe industries. Dengan kemampuan Bahasa inggris dan pengalaman basic accounting pada pekerjaan yang lalu maka membuat semakin terbukanya peluang karier dan kenaikan gaji. Ditempatkan di bagian development maka akses saya memahami cost break down semakin baik.
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah COVID-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah COVID-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Krisis Ekonomi Menuai Banyak Pelajaran

Akhir tahun 1997 krisis ekonomi menghantam semua sektor tak terkecuali industri. Dolar terus naik tak terkendali merusak tatanan pricing produksi membuat nyesek dada. Di mana-mana mulai restrukturisasi, merumahkan sebagian besar karyawan dan bahkan memindahkan beberapa pabrik ke Vietnam. Banyak perusahaan yang terjun bebas, terhempas berkeping. Saya ingat betul bagaimana perusahaan mengkalkulasikan itu semua. Saya pun terseret stres karena berimbas juga pada keuangan keluarga. Ternyata hal serupa terjadi pada perusahaan suamiku. Kami berjibaku menerapkan strategi untuk bertahan di Jakarta.
ADVERTISEMENT
Suatu sore berkunjunglah ayah ibuku yang ingin melihat langsung bagaimana kondisi kami di sini. Dengan ungkapan bijak, ibu dan ayahku menyarankan saya mengikuti test PNS bila ada kesempatan. Saat ini saya berpikir logis… diam-diam saya menggaris bawahi bahwa bekerja sungguh-sungguh berbuah keberkahan. “Menjadi PNS adalah keberkahan”, pesan yang terngiang hingga saat ini yang disampaikan ayah dan ibuku.
Tentu saja begitu ada peluang saya daftar dan mengikuti serangkaian ujian dengan sungguh-sungguh mengingat sektor swasta sedang terpuruk telak. Alhamdulillah berkat dorongan dan doa ayah ibu dan keluarga besar saya diterima. Kesempatan baik tak ingin saya sia-siakan.

Menjadi abdi negara

Awal-awal sebagai PNS saya agak shock bahwa pekerjaan yang dulu biasa saya lakukan dengan jadwal dan ritmik dinamika tinggi saya merasa belum bekerja. Sambil mengamati dan terus belajar bagaimana struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi, saya mulai menyusun langkah pekerjaan yang ingin saya selesaikan. Mulai mempelajari bagaimana core business dan produk yang dihasilkan BATAN. Menginventarisir istilah dan beberapa proses. Bentuk ikrarku dalam hati adalah saya harus melakukan hal yang terbaik karena ini kesempatan berharga dan sungguh hanya segelintir orang yang memiliki kesempatan ini, jadi manfaatkan momen ini dengan kesungguhan dan kecintaan.
ADVERTISEMENT

Latar Belakang Ilmu Sosial

Menyadari saya berlatar belakang ilmu sosial adalah sebagai pelengkap dalam organisasi teknis yang mengembangkan iptek nuklir dan pendayagunaannya maka saya senang sekali mengikuti diklat. Diklat yang ditawarkan harus diikuti, baik program internal yang diberikan Pusdiklat Batan ataupun dari luar terkait dengan pengembangan pegawai. Saat itu pekerjaan yang ada untuk ukuran saya yang biasa mengenyam lot pekerjaan swasta yang penuh target terasa ringan. Maka saya memanfaatkan waktu luang untuk belajar dan belajar. Bekerja di lingkungan teknis tentu saja butuh adaptasi dan proses belajar yang tiada henti.

Kerja Keras dan Jabatan Struktural

Kesungguhan bekerja berbuah hasil saat ada penawaran tes untuk mengikuti formasi jabatan eselon IV nama saya diajukan oleh atasan. Alhasil lolos tes dan tidak lama kemudian dilantik menjadi kepala subbidang dokumentasi di Kawasan Nuklir Serpong selanjutnya kepala subbidang Pengelolaan Utilitas Kawasan. Selama 7 tahun bergelut di barisan managerial saya anggap sudah cukup maka atas keinginan sendiri saya beralih menjadi fungsional Pranata Humas.
ADVERTISEMENT

Humas Syarat Tantangan

Menjadi humas justru saya semakin ketat membuat timeline agenda pekerjaan baik untuk kegiatan organisasi yang harus berjalan dengan baik atau sebagai individu yang diharuskan mengumpulkan butir kegiatan yang dinilaikan melalui dupak. Karya Tulis Ilmiah menjadi upaya pendongkrak nilai yang harus diwujudkan setiap tahun karena bobot nilainya yang paling baik bila diterbitkan bernilai 6 dan bila tidak mempunyai bobot 4. Selanjutnya tulisan ilmiah popular salah satunya adalah media massa online atau cetak. Untuk selalu update saya rajin mengamati isu yang berkembang di media atau dalam kehidupan riil. Merambah menjadi evaluator konten media yang relevan dengan organisasi karena ranah ini juga bisa mendulang angka kredit yang harus terus diupayakan. Terkadang semua pekerjaan tersebut dilakukan diluar jam kantor untuk bisa memenuhi target tahunan.
ADVERTISEMENT

Tanggung Jawab Moral

Sesungguhnya menjadi ASN sangat terasa keberkahannya saat ini. Dengan sistem remunerasi dan diberikan tunjangan kinerja maka organisasi menuntut feedback dari pegawainya dengan target kinerja dan output yang kasat mata dan terukur. Merasa terberkati, diwujudkan dengan kerja keras dan kecintaan pada profesi maka jangan sia-siakan seluruh kesempatan yang sudah di depan mata. Tanggung jawab moral untuk selalu mengembangkan diri dan supaya skill berbahasa Inggris tidak hilang maka saya mengajar di suatu Universitas tidak jauh dari rumah saya tinggal. Ternyata hal ini sangat bermanfaat, saling menunjang, saling melengkapi. Sebagai humas di BATAN memiliki salah satu tugas diseminasi iptek nuklir dan menjadi dosen Bahasa Inggris memiliki networking yang baik di Perguruan Tinggi bisa dijadikan salah satu wadah diseminasi Iptek nuklir. Bentuk tanggung jawab moral juga bahwa negara telah memberikan kesempatan berkarier dan peran saya menjadi dosen sebagai bentuk mengasah kemampuan di samping ikut mencerdaskan anak bangsa.Tentu saja menjadi dosen diluar jam kantor dan telah mendapat izin, di samping itu saya terdaftar dalam NIDK (nomor induk dosen khusus) dengan berbagi ilmu untuk masyarakat luas di lingkungan tempat tinggal. Bentuk tanggung jawab moral juga mengembangkan ilmu pengetahuan dengan tidak mengganggu kinerja utama sebagai humas di BATAN.
ADVERTISEMENT
I.Aeni Muharromah - Humas BATAN
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020