Dari FOMO sampai ‘Normies’, Kenapa Hobi Viral Bikin Risih?

Mahasiswa Hukum Pidana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aenuni Fatihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Jangan terlalu di ATEEZ ATEEZ kan.”
Komentar seperti ini cukup mudah ditemukan di konten K-pop di TikTok. Biasanya ditulis ketika sebuah boy group melakukan sesuatu yang dianggap mengingatkan pengguna pada ATEEZ.
Grup yang sedang dibicarakan bisa saja berasal dari generasi ketiga atau memiliki karakter yang jauh berbeda, tetapi kemiripan kecil dalam koreografi, konsep, atau gaya penampilan sudah cukup untuk memunculkan komentar tersebut.
Bagi sebagian orang, kalimat itu hanya candaan. Bagi penggemar grup yang disebut, komentar tersebut bisa terasa seperti bentuk sindiran.
Balasan kemudian bermunculan, penggemar lain ikut masuk, dan kolom komentar yang awalnya membahas sebuah video berubah menjadi perdebatan antarfandom.
Pola seperti ini sudah cukup akrab dalam fandom K-pop. Satu komentar bisa membawa nama grup lain ke dalam pembicaraan, kemudian penggemar merasa perlu membela idol yang mereka sukai.
Perdebatan soal musik dan konsep dapat melebar ke jumlah penghargaan, penjualan album, popularitas, sampai membandingkan member.
Media sosial membuat perpindahan dari satu fandom ke fandom lain berlangsung sangat cepat.
Seseorang bisa menemukan sebuah grup melalui TikTok hari ini, mengikuti akun penggemar besok, lalu ikut masuk ke percakapan fandom tanpa pernah mengikuti komunitas K-pop sebelumnya.
Penggemar baru juga punya cara yang berbeda dalam menikmati idol. Ada yang hanya mengenal lagu yang sedang viral, ada yang mengikuti satu member, dan ada yang langsung mencari tahu seluruh diskografi grup.
Perbedaan ini kemudian kadang menjadi alasan bagi penggemar lama untuk memberi label tertentu.
Istilah normies salah satunya. Dalam percakapan internet, istilah ini biasanya digunakan untuk menyebut orang yang dianggap memiliki selera mainstream atau mengikuti sesuatu karena sedang populer.
Padahal, setiap penggemar pernah menjadi orang baru. Penggemar yang sekarang hafal perjalanan karier idol favoritnya juga pernah hanya mengetahui satu lagu, satu member, atau bahkan hanya melihat satu video di media sosial.
Perbedaan antara penggemar lama dan baru menjadi lebih terasa ketika muncul anggapan bahwa lama mengikuti sebuah grup membuat seseorang memiliki posisi yang lebih tinggi.
Penggemar baru dianggap belum cukup tahu, sementara penggemar lama merasa pengalaman mereka tidak bisa disamakan dengan orang yang baru datang karena tren.
Dari sini, candaan kecil lebih mudah berubah menjadi fanwar. Penggemar tidak lagi membicarakan idol yang mereka sukai, tetapi mulai menyerang fandom lain.
Satu unggahan di X bisa mendapat ratusan balasan, kemudian di-quote tweet oleh akun lain dan terus berpindah dari satu percakapan ke percakapan berikutnya.
Hubungan ARMY dan CARAT juga sering kali menjadi sorotan. Kedua fandom beberapa kali terlibat perdebatan di media sosial, salah satunya pada 2021 setelah J-Hope menggunakan istilah “Horanghae”, yang dikenal sebagai ungkapan khas Hoshi.
Perdebatan tersebut kemudian berkembang menjadi saling balas antara sebagian penggemar BTS dan SEVENTEEN.
Perselisihan antarfandom tersebut terus diungkit sampai pada September 2026, Hoshi mengumumkan bahwa dirinya mengalami robekan total ACL ketika menjalani wajib militer.
Ia harus menjalani operasi dan pemulihan sehingga sejumlah kegiatan yang sudah dijadwalkan tidak dapat diikuti.
Kabar cedera tersebut kemudian ikut dibawa ke dalam percakapan antarfandom di media sosial. Sejumlah akun mengejek kondisi Hoshi dan menyebut cederanya sebagai “karma”.
Unggahan semacam itu mendapat kecaman dari penggemar lain yang meminta akun terkait dilaporkan.
Karena sumber mengenai unggahan tersebut berasal dari akun media sosial, perilaku itu lebih tepat dilihat sebagai tindakan sejumlah pengguna, bukan gambaran seluruh ARMY atau fandom tertentu.
Perubahan dari candaan menjadi hate speech seperti ini menunjukkan bagaimana fanwar bisa bergerak semakin jauh.
FOMO kemudian ikut masuk dalam budaya tersebut. Seseorang yang awalnya tertarik karena melihat idol atau lagu yang sedang ramai belum tentu hanya ingin mengikuti tren.
Bisa saja rasa penasaran itu membuatnya mencari lagu lain, mengenal member, mengikuti konten, lalu benar-benar menyukai grup tersebut.
Begitu juga dengan penggemar lama. Sudah mengikuti K-pop selama bertahun-tahun tidak otomatis membuat seseorang lebih berhak menentukan siapa yang boleh disebut penggemar.
Pengetahuan tentang sejarah grup memang berbeda, tetapi menjadi penggemar tidak memiliki ujian masuk.
TikTok membuat pintu masuk ke fandom semakin terbuka. Orang bisa mengenal grup melalui beberapa detik video, sementara X menyediakan ruang untuk percakapan yang lebih panjang dan sering kali lebih keras.
Sebuah komentar “jangan terlalu di ATEEZ ATEEZ kan” mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis. Balasan setelahnya bisa berlangsung jauh lebih lama.
Begitu pula dengan konflik antarfandom yang awalnya hanya berasal dari satu unggahan.
Hobi seharusnya tidak membutuhkan perseteruan untuk membuktikan siapa yang paling lama mengikuti atau paling memahami idol tertentu.
Penggemar baru akan terus bermunculan selama K-pop terus berkembang. Sebagian mungkin datang karena FOMO, sebagian karena satu lagu yang viral, dan sebagian lainnya memang sudah lama mengikuti grup tersebut.
Yang membedakan mereka bukan kapan mulai menjadi penggemar, tetapi bagaimana mereka memperlakukan orang lain setelah masuk ke dalam komunitas itu.
