Konten dari Pengguna

Kimpul Viral, Mengapa Indonesia Masih Sulit Mendiversifikasi Pangan?

Aenuni Fatihah

Aenuni Fatihah

Mahasiswa Hukum Pidana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aenuni Fatihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Foto: Shutterstock

Belakangan ini, nama kimpul tiba-tiba ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan karena kebijakan pemerintah atau kampanye besar tentang ketahanan pangan, melainkan berkat unggahan kreator TikTok asal Bantul dengan akun @black.sheep8208.

Melalui berbagai video, ia mengolah kimpul menjadi hidangan yang jarang dibayangkan sebelumnya, mulai dari mashed kimpul, kimpuljeon, hingga arancini.

Video-video tersebut menarik perhatian jutaan pengguna. Banyak yang baru mengetahui bahwa umbi yang selama ini dianggap makanan kampung ternyata dapat diolah menjadi sajian modern. Tidak sedikit pula yang mengaku baru pertama kali mendengar nama kimpul.

Di balik viralnya konten tersebut, sang kreator beberapa kali bercerita bahwa ide tersebut berawal dari tanah warisan ayahnya yang ditanami berbagai pangan lokal, termasuk kimpul.

Ia melihat semakin sedikit anak muda yang mengenal umbi-umbian lokal, sementara penjual makanan tradisional seperti tempe benguk atau ongol-ongol didominasi generasi yang lebih tua. Kekhawatiran itu kemudian mendorongnya mencari cara agar pangan lokal kembali menarik bagi generasi muda.

Fenomena ini menarik karena terjadi di negara yang memiliki kekayaan sumber pangan sangat beragam. Indonesia tidak hanya memiliki padi sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga sagu, singkong, ubi jalar, talas, ganyong, garut, porang, suweg, hingga kimpul.

Berbagai tanaman tersebut telah lama menjadi makanan pokok di sejumlah daerah sebelum konsumsi beras semakin mendominasi.

Kimpul sendiri bukan tanaman asing bagi masyarakat Indonesia. Umbi dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium ini telah lama tumbuh di berbagai wilayah dan dikenal sebagai salah satu sumber karbohidrat yang cukup baik.

Selain dapat direbus atau dijadikan sayur, kimpul juga dapat diolah menjadi keripik, perkedel, tepung, hingga berbagai makanan modern tanpa kehilangan nilai gizinya.

Namun, keberagaman tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam pola konsumsi masyarakat. Beras masih menjadi sumber karbohidrat utama hampir di seluruh daerah.

Ketika produksi beras menurun atau harga bergejolak, ketahanan pangan nasional ikut terdampak karena pilihan pangan alternatif belum menjadi kebiasaan sehari-hari.

Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi beras masyarakat Indonesia masih termasuk yang tertinggi di dunia. Di sisi lain, berbagai program diversifikasi pangan telah dijalankan pemerintah selama bertahun-tahun.

Kampanye pangan lokal, pengembangan komoditas nonberas, hingga gerakan konsumsi pangan beragam terus dilakukan. Meski demikian, perubahan pola konsumsi berlangsung sangat lambat.

Persoalannya ternyata bukan semata-mata soal ketersediaan pangan, melainkan juga cara masyarakat memandang makanan.

Selama puluhan tahun, beras telah menjadi simbol kenyang. Banyak orang masih menganggap belum makan apabila belum makan nasi, meskipun telah mengonsumsi sumber karbohidrat lain.

Cara pandang semacam ini terbentuk melalui kebiasaan lintas generasi, sehingga pangan lokal sering diposisikan sebagai makanan alternatif, bahkan dianggap kurang bergengsi dibandingkan nasi.

Di sisi lain, pangan lokal juga menghadapi persoalan citra. Umbi-umbian seperti kimpul, ganyong, atau garut kerap diasosiasikan sebagai makanan zaman dahulu atau makanan saat masa sulit.

Padahal, dari sisi kandungan gizi, banyak di antaranya memiliki potensi yang tidak kalah baik. Kimpul, misalnya, mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin, serta mineral yang dapat menjadi sumber energi sekaligus mendukung diversifikasi pangan.

Masalah lainnya terletak pada rantai pasok. Beras mudah ditemukan di hampir setiap pasar, minimarket, hingga supermarket.

Sebaliknya, pangan lokal sering kali hanya tersedia di daerah tertentu, diproduksi dalam skala kecil, dan belum memiliki jaringan distribusi yang luas. Akibatnya, masyarakat yang ingin mengonsumsinya pun tidak selalu mudah mendapatkannya.

Di sinilah media sosial menghadirkan ruang yang berbeda. Konten yang dibuat @black.sheep8208 tidak mengajak orang meninggalkan nasi atau mengganti seluruh pola makan mereka.

Ia justru menunjukkan bahwa pangan lokal dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan selera generasi muda. Ketika kimpul diolah menjadi mashed potato, pancake Korea, atau camilan modern, perhatian publik muncul secara alami tanpa harus melalui kampanye formal.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa diversifikasi pangan tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Perubahan juga dapat lahir dari cara baru dalam memperkenalkan makanan yang selama ini dianggap biasa.

Ketika pangan lokal tampil lebih relevan dengan gaya hidup saat ini, peluang untuk diterima masyarakat pun menjadi lebih besar.

Meski demikian, viralnya sebuah konten tentu tidak cukup untuk mengubah pola konsumsi masyarakat secara luas.

Diversifikasi pangan membutuhkan dukungan yang lebih menyeluruh, mulai dari penguatan budidaya komoditas lokal, kemudahan distribusi, pengembangan industri pangan, hingga edukasi mengenai nilai gizi dan manfaat mengonsumsi pangan yang beragam.

Tanpa ekosistem yang mendukung, popularitas pangan lokal di media sosial berisiko hanya menjadi tren sesaat.

Viralnya kimpul setidaknya menunjukkan bahwa pangan lokal sebenarnya masih memiliki ruang di tengah masyarakat.

Tantangannya bukan semata membuat orang mengenal kembali bahan pangan tersebut, melainkan memastikan pangan lokal mudah diperoleh, terjangkau, dan menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari.

Ketahanan pangan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat memanfaatkan kekayaan pangan yang telah lama dimiliki Indonesia.