Maudy Ayunda dan Perdebatan soal Rehat dari Berita Buruk

Mahasiswa Hukum Pidana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aenuni Fatihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nama Maudy Ayunda ramai dibicarakan di media sosial setelah video YouTube miliknya tentang mindfulness kembali beredar.
Video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News itu sebenarnya telah diunggah pada 21 Agustus 2026.
Namun, potongan dan isi videonya kembali ramai di X pada pertengahan September hingga memicu kritik dari sejumlah warganet.
Dalam video tersebut, Maudy bercerita tentang rasa lelah menghadapi berita buruk yang datang terus-menerus.
Ia mengatakan paparan berbagai informasi negatif dalam beberapa bulan hingga setahun terakhir membuatnya merasakan frustrasi, marah, bahkan menangis.
Maudy kemudian membagikan cara yang ia lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut. Salah satunya dengan menerapkan mindfulness dan membatasi konsumsi berita negatif agar tetap bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa merasa kewalahan.
Saran tersebut kemudian mendapat banyak respons keras. Sejumlah warganet menilai saran untuk mengambil jarak dari berita buruk tidak mudah dilakukan oleh orang yang sedang menghadapi persoalan tersebut secara langsung.
Karhutla menjadi salah satu contoh yang muncul dalam kritik tersebut. Masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap tidak bisa begitu saja berhenti mengikuti kabar mengenai kebakaran hutan.
Mereka harus menghadapi kualitas udara yang memburuk, aktivitas yang terganggu, sampai masalah kesehatan yang muncul akibat paparan asap.
Begitu pula masyarakat yang menghadapi bencana, kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, atau persoalan ekonomi secara langsung.
Perdebatan itu kemudian mengarah pada satu kata yang berulang kali muncul di media sosial, yaitu privilege.
Salah satu komentar yang ramai dibicarakan bahkan mempertanyakan pilihan Maudy untuk menjauh dari berita buruk ketika ia memiliki platform yang besar.
Warganet tersebut menilai orang yang terdampak langsung tidak memiliki pilihan untuk sekadar menutup berita karena persoalan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Komentar lain juga mengaitkan posisi Maudy sebagai figur publik dengan bisnis kecantikannya. Kritik tersebut menyoroti From This Island yang menggunakan bahan lokal dari berbagai wilayah Indonesia.
Menurut warganet tersebut, pembicaraan mengenai mengambil jarak dari berita buruk terasa berbeda ketika salah satu bahan yang digunakan dalam produk berasal dari wilayah yang juga menghadapi persoalan lingkungan.
Kritik itu kemudian berkembang menjadi persoalan yang lebih luas mengenai jarak antara orang yang menerima berita sebagai informasi dengan orang yang hidup di tengah peristiwa tersebut.
Bagi sebagian orang, berita buruk memang dapat ditutup setelah selesai dibaca. Bagi masyarakat yang rumahnya terdampak asap, kehilangan tempat tinggal, atau harus mengungsi, persoalan tersebut tetap ada meskipun layar ponsel sudah dimatikan.
Perbincangan mengenai kesehatan mental tetap memiliki sisi lain. Mengurangi paparan informasi negatif dapat menjadi salah satu cara untuk mengatur kondisi diri ketika arus berita terasa terlalu berat.
Namun, pilihan tersebut tidak selalu tersedia bagi orang yang pekerjaannya, keluarganya, tempat tinggalnya, atau kebutuhan sehari-harinya berkaitan langsung dengan persoalan yang sedang diberitakan.
Perdebatan semakin ramai karena Maudy juga memiliki keterkaitan dengan bisnis kecantikan From This Island. Ia merupakan salah satu pendiri brand tersebut yang mengembangkan produk dengan bahan-bahan lokal dari sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam situs resminya, From This Island mencantumkan Borneo Mentega Illipe sebagai salah satu bahan yang digunakan. Bahan tersebut disebut berasal dari Borneo dan dipanen secara alami.
From This Island juga menjelaskan keterlibatan komunitas Dayak dalam proses pemanenannya serta pendekatan farm-to-face yang mereka gunakan.
Informasi mengenai bahan tersebut kemudian digunakan sebagian warganet untuk mengaitkan Maudy dengan persoalan lingkungan dan masyarakat di daerah penghasil bahan baku.
Mereka mempertanyakan bagaimana seseorang dapat membicarakan soal menjauh sejenak dari berita buruk ketika sebagian masyarakat justru hidup di tengah persoalan lingkungan yang sedang diberitakan.
Setelah kritik semakin ramai, Maudy memberikan respons melalui komentar yang disematkan pada video tersebut.
Ia mengakui ada bagian yang belum cukup ia pikirkan ketika membuat video, yaitu bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah privilege. Ia juga meminta maaf karena tidak membahas hal tersebut sebelumnya.
Maudy kemudian menjelaskan bahwa mindfulness yang ia maksud bukan ajakan untuk berhenti peduli. Ia ingin membicarakan cara agar seseorang tetap dapat peduli terhadap keadaan sekitar tanpa kehilangan kemampuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan mengambil tindakan.
Klarifikasi tersebut tidak langsung menghentikan perdebatan di media sosial. Sebagian warganet menerima penjelasan tersebut, sementara perdebatan mengenai isi video dan posisi Maudy sebagai figur publik masih berlanjut.
Ramainya video yang sudah diunggah sejak Agustus juga membuat pesan di dalamnya dibaca kembali dalam situasi yang berbeda. Ketika video itu dibuat, Maudy berbicara dari pengalaman pribadinya menghadapi arus berita negatif.
Ketika kembali ramai pada September, orang-orang membacanya bersamaan dengan berbagai persoalan yang sedang mereka hadapi.
Berita buruk memang dapat membuat seseorang lelah secara mental. Membatasi konsumsi informasi juga dapat menjadi pilihan untuk menjaga diri.
Tetapi bagi orang yang sedang berada di tengah persoalan tersebut, batas antara berita dan kehidupan sehari-hari bisa saja tidak ada.
Di media sosial, satu pesan yang dibuat sebagai refleksi pribadi dapat dibaca oleh orang dengan pengalaman yang jauh berbeda.
Perbedaan pengalaman itulah yang akhirnya membuat video Maudy kembali menjadi perbincangan dan memicu perdebatan panjang di X.
