Konten dari Pengguna

Mengapa Internet Lebih Suka Orang yang Berisik?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aenuni Fatihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Foto: Shutterstock

Ada pola yang makin mudah ditemukan setiap kali membuka media sosial. Unggahan yang biasa-biasa saja lewat begitu saja, sementara satu kalimat yang menyebalkan bisa mengundang ribuan komentar.

Seseorang membuat pernyataan yang kelewat percaya diri, orang lain datang untuk membantah, lalu muncul gelombang tanggapan berikutnya. Tidak jarang, orang yang sejak awal tidak setuju justru ikut membantu membuat unggahan tersebut semakin ramai.

Fenomena seperti ini bukan lagi kejadian kecil di internet. Jumlah orang yang berada di dalam ruang digital juga semakin besar.

DataReportal mencatat Indonesia memiliki sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial pada Oktober 2025, atau 62,9 persen dari total populasi. Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya ruang tempat perebutan perhatian berlangsung.

Dalam ruang sebesar itu, sekadar berbicara tidak cukup. Orang harus membuat orang lain berhenti menggulir.

Caranya bermacam-macam. Ada yang membuat judul semakin sensasional, membesar-besarkan konflik, menyampaikan pendapat yang sengaja berlawanan dengan pandangan umum, atau mengemas persoalan sederhana menjadi pertengkaran.

Sebagian memang memiliki sesuatu untuk dikatakan. Sebagian lainnya tampaknya hanya memahami satu hal, yaitu semakin banyak orang yang bereaksi, semakin lama kontennya bertahan.

Istilah rage bait kemudian semakin sering muncul untuk menggambarkan pola tersebut. Oxford bahkan memilih rage bait sebagai Word of the Year 2025.

Istilah itu merujuk pada konten yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan atau rasa tersinggung demi mendapatkan perhatian dan interaksi. Menurut Oxford, penggunaan istilah tersebut meningkat tiga kali lipat dalam setahun.

Yang menarik, orang tidak harus menyukai sebuah konten agar konten tersebut berhasil. Cukup membuat mereka marah.

Satu komentar yang dianggap bodoh bisa dikutip berkali-kali. Satu video yang dianggap keterlaluan bisa diunggah ulang dengan tambahan kritik.

Satu pernyataan kontroversial bisa dibawa ke platform lain. Orang-orang yang merasa sedang meluruskan informasi pada saat yang sama ikut memperluas jangkauan informasi tersebut.

Di sinilah logika internet berbeda dari percakapan biasa. Dalam kehidupan sehari-hari, sebuah perdebatan biasanya berakhir ketika orang berhenti berbicara.

Di media sosial, perdebatan justru dapat menjadi bahan bakar untuk distribusi berikutnya. Konten yang mengundang reaksi memiliki lebih banyak kesempatan untuk terus muncul di hadapan pengguna. Akibatnya cukup mudah ditebak. Orang belajar dari apa yang mereka lihat berhasil.

Kalau unggahan biasa hanya mendapatkan sedikit perhatian, tetapi unggahan yang memancing perdebatan mendapatkan puluhan ribu tayangan, insentifnya menjadi jelas. Tidak perlu selalu membuat konten yang lebih baik. Kadang cukup membuat konten yang lebih sulit diabaikan.

Penelitian mengenai konten kontroversial di YouTube menunjukkan hubungan antara komentar toxic dan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi. Penelitian tersebut menganalisis lebih dari 16 ribu video dan lebih dari 105 juta komentar pada kanal-kanal yang kontroversial.

Temuannya memperlihatkan bahwa interaksi yang lebih toxic berkaitan dengan engagement yang lebih tinggi, meskipun keterlibatan tersebut tidak otomatis menghasilkan monetisasi yang lebih baik.

Artinya, keributan memang memiliki nilai dalam ekonomi perhatian, meskipun tidak selalu bernilai dalam jangka panjang.

Masalahnya menjadi lebih besar ketika pola tersebut memengaruhi cara publik menentukan apa yang layak diperhatikan. Keluhan yang dibuat dengan video yang emosional dapat lebih cepat menyebar daripada pengaduan yang ditulis melalui kanal resmi.

Pernyataan yang memancing kemarahan dapat memperoleh ruang lebih besar daripada penjelasan yang panjang dan penuh konteks. Persoalan yang sebenarnya rumit akhirnya dipaksa menjadi sederhana karena format internet memang menyukai sesuatu yang cepat dipahami dan mudah diperdebatkan.

Ungkapan The Crying Baby Gets the Milk terasa menemukan bentuk barunya di sini. Bayi yang menangis mendapatkan perhatian karena suaranya tidak bisa diabaikan.

Di internet, “tangisan” itu bisa berupa keluhan, kemarahan, sindiran, kontroversi, bahkan provokasi. Bedanya, sekarang ada sistem yang dapat memperbesar suara tersebut ketika banyak orang memberikan respons.

Masalahnya bukan pada orang yang bersuara keras. Banyak perubahan justru bermula dari orang yang berani menyampaikan sesuatu yang sebelumnya diabaikan. Media sosial juga telah memberi kesempatan kepada orang biasa untuk membawa persoalan pribadi ke ruang publik.

Konsumen dapat menyampaikan pengalaman buruknya, pekerja dapat menceritakan persoalan di tempat kerja, dan masyarakat dapat menunjukkan masalah pelayanan yang sebelumnya tidak mendapat perhatian.

Tanpa media sosial, sebagian persoalan itu mungkin tidak pernah terdengar. Tetapi kemampuan untuk membuat sesuatu terdengar juga dapat berubah menjadi perlombaan.

Ketika semua orang tahu bahwa perhatian bisa diperoleh melalui kontroversi, sebagian orang mulai menaikkan volumenya. Pendapat dibuat semakin ekstrem. Konflik dipelihara. Kemarahan tidak lagi hanya menjadi reaksi, tetapi bisa menjadi strategi.

Di titik ini, publik perlu berhenti menganggap setiap keramaian sebagai sesuatu yang muncul secara alami. Tidak semua konten yang ramai menjadi ramai karena paling penting.

Tidak semua perdebatan besar terjadi karena persoalannya paling mendesak. Kadang sebuah konten hanya menemukan formula yang tepat untuk membuat orang tidak tahan meninggalkan kolom komentar.

Persoalan lainnya adalah suara yang tidak berisik berisiko semakin sulit ditemukan. Penjelasan yang membutuhkan waktu untuk dipahami tidak selalu memiliki daya tarik yang sama dengan potongan video 30 detik.

Data yang membutuhkan konteks kalah cepat dari satu kalimat yang mengundang kemarahan. Orang yang memilih berhati-hati dalam berbicara bisa kalah perhatian dari orang yang tidak ragu membuat pernyataan paling ekstrem.

Sehingga, persoalannya bukan apakah internet terlalu banyak orang yang berisik. Internet memang ruang tempat siapa pun dapat berbicara, yang perlu dipikirkan adalah mengapa kita begitu mudah memberikan panggung kepada suara yang paling keras.

Kita tidak harus berhenti berkomentar, berhenti mengkritik, atau menghindari konten yang kontroversial. Namun, ada baiknya membedakan antara sesuatu yang ramai karena penting dan sesuatu yang penting karena dibuat ramai.

Sebab, ketika perhatian menjadi ukuran keberhasilan, orang akan terus mencari cara untuk mendapatkannya. Dan selama kemarahan lebih mudah menghasilkan perhatian daripada penjelasan, internet akan selalu punya alasan untuk menyukai orang-orang yang paling berisik.