Ramai Bicara Childfree, Padahal Banyak Anak Muda Indonesia Justru Childless

Mahasiswa Hukum Pidana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aenuni Fatihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, istilah childfree semakin sering muncul dalam percakapan di media sosial. Mulai dari unggahan di X, Threads, TikTok, hingga podcast, banyak anak muda membagikan pandangannya tentang keputusan memiliki anak, mulai dari memilih menundanya hingga menyatakan tidak ingin memiliki anak sama sekali.
Biaya hidup yang terus meningkat, sulitnya memiliki rumah, tekanan pekerjaan, hingga kekhawatiran terhadap masa depan menjadi alasan yang paling sering dikemukakan.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa semakin banyak generasi milenial dan Gen Z di Indonesia yang tidak lagi ingin memiliki anak. Tidak sedikit pula yang menyebut bahwa tren childfree kini semakin berkembang di Indonesia.
Jika ditelusuri lebih jauh, kondisi tersebut muncul di tengah perubahan demografi Indonesia. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia turun menjadi 2,13 anak per perempuan, mendekati tingkat penggantian penduduk (replacement level).
Laju pertumbuhan penduduk juga melambat menjadi 1,08% per tahun. Penurunan ini terutama dipengaruhi berkurangnya angka kelahiran pada kelompok usia 15–24 tahun.
Di saat yang sama, semakin banyak anak muda memilih menunda pernikahan. Data BPS menunjukkan lebih dari 71% penduduk usia 16–30 tahun belum menikah, jauh lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu.
Berbagai survei juga memperlihatkan bahwa stabilitas ekonomi dan karier kini menjadi pertimbangan utama sebelum membangun keluarga.
Meski demikian, penurunan angka kelahiran tidak otomatis berarti semakin banyak masyarakat Indonesia memilih childfree. Dalam kajian demografi maupun sosiologi keluarga, childfree dan childless merupakan dua konsep yang berbeda, meskipun di media sosial keduanya sering digunakan secara bergantian.
Childfree merujuk pada keputusan sadar seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak sebagai pilihan hidup. Dalam berbagai literatur, istilah ini banyak dibahas dalam kajian mengenai hak reproduksi, otonomi individu, serta kebebasan menentukan pilihan hidup, termasuk dalam sejumlah diskursus feminisme modern. Keputusan tersebut bukan didorong oleh kondisi tertentu, melainkan merupakan pilihan yang memang diyakini.
Sementara itu, childless menggambarkan seseorang yang belum atau tidak memiliki anak karena berbagai keadaan. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari belum menikah, kondisi ekonomi yang belum stabil, fokus membangun karier, masalah kesehatan atau infertilitas, hingga memilih menunda kehamilan sampai merasa lebih siap. Artinya, keinginan memiliki anak masih ada, tetapi berbagai kondisi membuat keputusan tersebut ditunda.
Jika melihat berbagai data tersebut, fenomena yang berkembang di Indonesia lebih banyak mengarah pada kondisi childless daripada childfree. Banyak anak muda masih memiliki keinginan membangun keluarga, tetapi memilih menunda memiliki anak karena harga rumah yang semakin mahal, biaya pendidikan yang terus meningkat, pekerjaan yang belum stabil, hingga kekhawatiran terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga di masa depan.
Hingga kini, belum ada data nasional yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah masyarakat yang secara eksplisit memilih hidup tanpa anak sebagai pilihan permanen.
Dalam kajian Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia yang menggunakan data Susenas 2022, jumlah perempuan usia subur yang menyatakan tidak ingin memiliki anak masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan perempuan usia reproduktif.
Hingga 2026, belum ada data nasional yang menunjukkan peningkatan signifikan kelompok tersebut.
Perubahan pola pikir anak muda terhadap keluarga lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan kondisi sosial dan ekonomi. Biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak pasangan merasa perlu menyiapkan kondisi finansial yang lebih matang sebelum memutuskan memiliki anak.
Di sisi lain, pendidikan yang lebih tinggi serta peluang karier yang semakin terbuka juga membuat usia menikah dan memiliki anak menjadi lebih mundur dibandingkan generasi sebelumnya.
Karena itu, penggunaan istilah childfree untuk menggambarkan seluruh fenomena penurunan angka kelahiran di Indonesia sering kali kurang tepat. Tidak semua orang yang belum memiliki anak sedang menolak menjadi orang tua.
Bagi banyak anak muda, keputusan tersebut lebih merupakan bentuk penundaan karena berbagai pertimbangan, mulai dari kondisi ekonomi, pekerjaan, hingga kesiapan membangun keluarga.
Dengan kata lain, fenomena yang berkembang di Indonesia saat ini tampaknya lebih dekat dengan childless daripada childfree. Perbedaan tersebut penting dipahami agar perbincangan mengenai tren ini tidak berhenti pada istilah yang populer di media sosial, tetapi juga melihat realitas yang dihadapi generasi muda saat ini.
