Konten dari Pengguna

Tangan Robotik NEUROVIVE Digadang-gadang Bisa Bantu Pemulihan Pasien Stroke

Aenuni Fatihah

Aenuni Fatihah

Mahasiswa Hukum Pidana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aenuni Fatihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Stroke tidak selalu berhenti pada saat serangan terjadi. Bagi penyintas, proses setelahnya bisa menjadi perjalanan panjang untuk mengembalikan kemampuan tubuh yang sebelumnya dilakukan tanpa berpikir.

Salah satunya adalah menggerakkan tangan dan jari. Gerakan sederhana seperti menggenggam, memegang benda, atau menggerakkan jari dapat menjadi sulit setelah stroke menyerang.

Data menunjukkan stroke masih menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia, dengan sekitar 11,9 juta kasus baru setiap tahun.

Di Indonesia, prevalensi stroke tercatat sebesar 10,9 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap proses pemulihan dan rehabilitasi masih cukup besar.

Fisioterapi menjadi salah satu bagian dalam proses pemulihan kemampuan motorik pasien pascastroke. Latihan dilakukan secara bertahap untuk membantu pasien mendapatkan kembali kemampuan gerak.

Namun, pelaksanaannya tidak selalu mudah. Biaya terapi, jarak menuju fasilitas kesehatan, waktu yang harus disediakan, serta pemantauan perkembangan yang belum selalu terukur secara objektif dapat menjadi kendala bagi pasien.

Keterbatasan tersebut mendorong munculnya berbagai inovasi teknologi di bidang rehabilitasi. Salah satunya adalah NEUROVIVE (Neuro-assisted Physiotherapy for Post-Stroke), alat fisioterapi robotik yang dikembangkan oleh dua mahasiswa Universitas Trisakti, Fatimah Az Zahra dari Fakultas Kedokteran dan Nicole Ghaliyah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Ilustrasi Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis, Kamis 3 September 2026

NEUROVIVE dirancang dalam bentuk tangan robotik yang membantu latihan pergerakan jari pasien pascastroke.

Alat ini menggabungkan sensor dengan sistem kendali yang dapat menyesuaikan latihan berdasarkan kondisi gerakan pasien.

Pendekatan tersebut membuat latihan tidak hanya berfokus pada gerakan robot, tetapi juga pada kemampuan gerak yang dimiliki pasien.

Ilustrasi Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis, Kamis 3 September 2026

Salah satu sistem yang digunakan adalah flex sensor. Pasien menggunakan sarung tangan yang dilengkapi sensor tersebut.

Ketika jari bergerak, sensor menangkap perubahan gerakan dan menerjemahkannya menjadi gerakan pada tangan robotik secara real time.

Pasien dapat melihat gerakan tangannya direpresentasikan melalui robot sehingga perkembangan latihan dapat diamati secara langsung.

NEUROVIVE juga memiliki mode berbasis electromyography (EMG). Sensor ditempatkan pada permukaan kulit di area lengan untuk menangkap aktivitas listrik otot.

Data tersebut kemudian digunakan untuk mengenali sinyal gerakan sebelum gerakan tangan dilakukan secara fisik.

Kehadiran dua mode ini memberikan pendekatan latihan yang berbeda, mulai dari membaca gerakan jari hingga menangkap aktivitas otot.

Bagi pasien yang sedang menjalani pemulihan, kemampuan untuk melihat perkembangan latihan tentu memiliki arti tersendiri.

Pengalaman tersebut juga tergambar dari penggunaan NEUROVIVE dengan flex sensor.

“Waktu pertama kali pakai alat NEUROVIVE dengan flex sensor ini, saya bisa langsung lihat sendiri seberapa jauh jari saya bisa gerak. Jadi enggak cuma dirasakan, tapi kelihatan progresnya tiap latihan di robot yang mengikuti gerakan tangan saya. Ditambah ada mode EMG yang bisa digunakan dari sensor gerak otot juga, jadi latihannya berasa lebih menyeluruh,”

Teknologi rehabilitasi robotik sebenarnya bukan hal baru. Berbagai perangkat telah dikembangkan untuk membantu pasien dalam menjalani latihan motorik.

Tantangannya adalah membuat teknologi tersebut dapat digunakan secara lebih luas. Perangkat yang tersedia di pasaran umumnya memiliki harga tinggi dan ukuran yang cukup besar.

Tidak semua alat juga memiliki sistem kendali adaptif yang memungkinkan latihan disesuaikan dengan kondisi pengguna.

NEUROVIVE mencoba mengambil ruang tersebut dengan mempertimbangkan sisi teknologi sekaligus biaya produksi.

Nicole Ghaliyah menjelaskan bahwa pemilihan komponen dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas dan efisiensi biaya.

“Kami sengaja memilih komponen yang berkualitas tinggi namun tetap efisien dari sisi biaya, sehingga produksi NEUROVIVE bisa jauh lebih murah dibandingkan alat rehabilitasi robotik komersial yang selama ini beredar. Harapannya, alat ini benar-benar bisa dijangkau oleh masyarakat luas, tidak hanya kalangan tertentu,”

Upaya membuat teknologi lebih terjangkau menjadi bagian yang tidak kalah penting dari sebuah inovasi kesehatan.

Alat yang canggih akan memiliki manfaat lebih luas ketika dapat menjangkau orang yang memang membutuhkan.

Terlebih, akses terhadap layanan rehabilitasi masih menjadi persoalan bagi sebagian pasien yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan.

Pengembangan NEUROVIVE juga melibatkan perspektif lintas bidang. Proyek ini mendapatkan pendampingan dari Dr. Ryan Johan Sembiring, S.T., M.T., M.M. dan dr. Donna Adriani, M.Biomed., AIFO.

Perpaduan perspektif teknologi, kedokteran, olahraga, dan fisiologi memberikan ruang bagi pengembangan alat yang tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan latihan pasien.

Dari sisi pengembangan, NEUROVIVE telah memperoleh Surat Pencatatan Ciptaan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Republik Indonesia, dengan hak cipta berada pada Universitas Trisakti.

Bagi tim pengembang, pencatatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk melindungi karya sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut.

“Pencatatan HKI ini penting buat kami, bukan cuma soal legalitas, tapi juga bukti bahwa NEUROVIVE benar-benar orisinal dan siap dikembangkan lebih jauh, baik dari sisi riset maupun potensi hilirisasinya,” ujar Ryan Johan Sembiring.

Pengembangan teknologi seperti NEUROVIVE juga sejalan dengan kebutuhan untuk memperluas akses terhadap layanan kesehatan.

Fatimah Az Zahra mengarahkan inovasi ini pada beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ke-10 tentang pengurangan kesenjangan.

“Inovasi ini kami arahkan agar sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, poin ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta poin ke-10 tentang pengurangan kesenjangan. Kami ingin layanan rehabilitasi pascastroke tidak lagi tersentralisasi di kota-kota besar saja,” kata Fatimah.

Pada akhirnya, nilai sebuah inovasi kesehatan tidak hanya terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat menjawab kebutuhan nyata.

Dalam kasus pasien pascastroke, kemampuan untuk kembali menggerakkan jari merupakan bagian dari proses untuk mendapatkan kembali kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

NEUROVIVE masih menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi rehabilitasi yang perlu terus diuji dan dikembangkan.

Namun, kehadirannya memperlihatkan bahwa inovasi di bidang kesehatan dapat lahir dari lingkungan mahasiswa dan diarahkan pada persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dari sebuah tangan robotik, gagasan yang dibawa NEUROVIVE sebenarnya cukup sederhana yaitu membantu pasien mendapatkan kembali kemampuan bergeraknya secara bertahap.

Ketika teknologi diarahkan untuk membuat proses tersebut lebih terukur, fleksibel, dan terjangkau, inovasi tidak lagi sekadar berbicara mengenai alat baru, tetapi juga mengenai akses dan kesempatan untuk pulih.