Konten dari Pengguna

Ciptakan Dampak, KKM 18 UNIBA Edukasi Warga Soal Sampah & Kamtibmas

KKM 18 Universitas Bina Bangsa

KKM 18 Universitas Bina Bangsa

Kelompok KKM 18 Universitas Bina Bangsa, terdiri dari mahasiswa-mahasiswi berdedikasi dari berbagai program studi. Kami siap berkolaborasi dan menerapkan ilmu pengetahuan untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat melalui program kerja yan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KKM 18 Universitas Bina Bangsa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemateri Kurniarga Bagaskara, S.Ak., M.Ak.,
zoom-in-whitePerbesar
Pemateri Kurniarga Bagaskara, S.Ak., M.Ak.,

Dalam suasana yang penuh semangat kebersamaan, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 18 dari Universitas Bina Bangsa (UNIBA) sukses menyelenggarakan sebuah program sosialisasi komprehensif yang bertajuk "Sosialisasi Kebersihan Lingkungan dan Ketertiban Masyarakat". Bertempat di aula pertemuan desa yang representatif pada hari Minggu, 20 Juli 2025, acara ini menjadi jembatan antara gagasan akademis dan kebutuhan praktis masyarakat. Kegiatan ini dihadiri dengan antusias oleh puluhan warga, mulai dari perangkat desa, tokoh masyarakat, ibu-ibu, hingga kalangan pemuda, yang semuanya menunjukkan komitmen untuk membangun desa yang lebih baik.

Program ini lahir dari kepekaan dan hasil observasi mendalam yang dilakukan oleh para mahasiswa selama beberapa minggu awal masa pengabdian mereka. Vieoren Haris, selaku Ketua Kelompok KKM 18, menjelaskan latar belakang di balik pemilihan tema tersebut. "Sejak awal kami tiba di sini, kami melihat potensi luar biasa pada masyarakatnya. Namun, kami juga mengidentifikasi beberapa tantangan yang perlu ditangani bersama, terutama terkait pengelolaan sampah yang belum optimal dan mulai lunturnya beberapa tradisi gotong royong yang menjaga ketertiban. Karena itulah kami berinisiatif menjadikan isu kebersihan dan ketertiban sebagai program unggulan, karena kami yakin ini adalah fondasi dari segala bentuk kemajuan lainnya," papar Vieoren.

Untuk memberikan wawasan yang mendalam dan kredibel, mahasiswa KKM 18 mengundang Kurniarga Bagaskara, S.Ak., M.Ak., sebagai pemateri utama. Dengan gaya penyampaian yang lugas dan mudah dipahami, Kurniarga berhasil memikat perhatian seluruh peserta. Beliau membagi presentasinya menjadi dua pilar utama: kebersihan lingkungan sebagai investasi kesehatan, dan ketertiban masyarakat sebagai pilar harmoni sosial.

Pada sesi pertama yang membahas kebersihan, Kurniarga tidak hanya mengulang konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara teoretis, tetapi juga memberikan contoh-contoh praktis yang dapat langsung diterapkan. "Bapak dan Ibu sekalian, sampah di tangan kita bisa menjadi masalah atau justru menjadi berkah. Botol-botol plastik bekas bisa kita sulap menjadi pot gantung untuk menanam sayuran di pekarangan sempit, atau bahkan diubah menjadi ecobrick untuk membuat kursi taman. Sampah organik dari dapur? Jangan dibuang. Itu adalah emas hitam yang bisa kita olah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman," jelasnya sambil menunjukkan beberapa contoh produk daur ulang. Beliau juga mengaitkan langsung antara lingkungan yang kotor dengan risiko penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan diare, sebuah penyadaran yang sangat relevan bagi warga. "Investasi terbaik yang bisa kita wariskan kepada anak cucu bukanlah harta, melainkan lingkungan yang sehat dan lestari. Ini adalah fondasi dari generasi yang kuat dan produktif," tegas Kurniarga.

Memasuki pilar kedua mengenai ketertiban masyarakat, diskusi menjadi semakin hidup. Kurniarga mengajak warga untuk merefleksikan kembali pentingnya sistem keamanan lingkungan (Siskamling) dan kegiatan kerja bakti rutin. "Ketertiban bukan hanya soal keamanan dari pencurian, tetapi juga tentang kenyamanan hidup bertetangga. Rasa aman muncul saat kita saling menjaga. Kerja bakti bukan sekadar membersihkan selokan, tetapi itu adalah momen di mana kita bertemu, mengobrol, dan memperkuat ikatan sosial kita," tuturnya. Beliau menekankan bahwa ketertiban lahir dari rasa saling menghormati dan kepatuhan terhadap norma-norma yang disepakati bersama.

Foto Bersama Pemateri

Antusiasme warga terlihat jelas pada sesi tanya jawab. Seorang ibu dari kelompok PKK bertanya detail mengenai cara membuat lubang biopori yang efektif, sementara seorang tokoh pemuda menyuarakan idenya untuk membentuk 'brigade kebersihan' yang terdiri dari anak-anak muda untuk mengelola bank sampah. Mahasiswa KKM 18 dengan sigap turut menjawab dan mencatat berbagai masukan tersebut sebagai bahan untuk program lanjutan. Interaksi dua arah ini mengubah acara dari sekadar sosialisasi menjadi sebuah forum musyawarah yang produktif.

Pemberian Sertifikat Kepada Pemateri

Sebagai penutup, Vieoren Haris kembali menegaskan komitmen kelompoknya. "Acara hari ini adalah pemantik semangat. Kami tidak akan berhenti di sini. Sesuai masukan dari Bapak dan Ibu, kami berencana mengadakan workshop pembuatan kompos dan membantu menginisiasi bank sampah mini di tingkat RT. Kami ingin program ini berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bahkan setelah masa KKM kami berakhir," katanya penuh optimisme.

Sebagai simbol penghargaan dan jalinan kerja sama, Vieoren Haris mewakili seluruh anggota Kelompok KKM 18 menyerahkan sertifikat dan cenderamata kepada Kurniarga Bagaskara. Momen tersebut diabadikan dalam sesi foto bersama yang hangat, menampilkan wajah-wajah penuh harapan akan terwujudnya lingkungan desa yang bersih, sehat, aman, dan tertib. Program KKM 18 UNIBA ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara energi intelektual kaum muda dan kearifan masyarakat lokal adalah kekuatan besar untuk mendorong perubahan positif dari tingkat akar rumput.