Konten dari Pengguna

Majukan UMKM Klanting, KKM 18 UNIBA Dampingi Pengusaha Lokal di Lebak Gede

KKM 18 Universitas Bina Bangsa

KKM 18 Universitas Bina Bangsa

Kelompok KKM 18 Universitas Bina Bangsa, terdiri dari mahasiswa-mahasiswi berdedikasi dari berbagai program studi. Kami siap berkolaborasi dan menerapkan ilmu pengetahuan untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat melalui program kerja yan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KKM 18 Universitas Bina Bangsa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

seorang perempuan muda sedang mewawancarai.
zoom-in-whitePerbesar
seorang perempuan muda sedang mewawancarai.

Di tengah geliat ekonomi lokal, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 18 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) membawa angin segar bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Lingkungan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Dengan semangat pengabdian, mereka memfokuskan program kerjanya pada pendampingan dan pengembangan usaha cemilan tradisional khas daerah tersebut, yaitu "Klanting".

Program ini merupakan wujud nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mengaplikasikan ilmunya secara langsung untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Potensi Besar di Balik Usaha UMKM Klanting Lebak Gede

Seorang perempuan berhijab sedang menjemur bahan makanan berwarna kuning di atas sebuah rak panjang di luar ruangan.

Klanting adalah cemilan renyah berbahan dasar singkong yang telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Pulomerak. Proses pembuatannya yang masih sangat tradisional menjadi kunci kelezatan dan keunikannya. Dimulai dari pemilihan singkong berkualitas, pengolahan menjadi adonan, hingga proses penjemuran di bawah terik matahari yang bertujuan untuk menghasilkan tekstur yang sempurna dan garing. Proses penjemuran di atas rak-rak bambu ini menjadi pemandangan khas yang menunjukkan betapa otentiknya produk lokal ini.

Namun, di balik cita rasanya yang gurih dan potensinya yang besar, Klanting Lebak Gede menghadapi sejumlah tantangan klasik yang kerap dialami oleh UMKM di berbagai daerah.

Mengidentifikasi Tantangan Utama bagi UMKM Klanting

Gambar Cemilan Klanting

Melalui observasi dan diskusi mendalam dengan pemilik usaha, para mahasiswa KKM Kelompok 18 mengidentifikasi beberapa area kritis yang memerlukan sentuhan inovasi. Pertama adalah kemasan produk. Saat ini, Klanting yang siap jual hanya dibungkus menggunakan kantong plastik bening sederhana dengan label seadanya. Kemasan seperti ini kurang mampu melindungi produk dari kerusakan, tidak memiliki daya tarik visual, dan minim informasi bagi konsumen.

"Tantangan utamanya adalah bagaimana produk yang berkualitas ini bisa tampil lebih menarik dan profesional. Kemasan adalah 'wajah' pertama produk, dan di sinilah kami melihat ada peluang besar untuk perbaikan," jelas seorang anggota kelompok KKM 18.

Tantangan kedua adalah branding dan pemasaran. Tanpa merek yang kuat dan strategi pemasaran yang terstruktur, jangkauan pasar Klanting ini menjadi sangat terbatas, umumnya hanya di sekitar lingkungan tempat produksi atau dijual dari mulut ke mulut.

Solusi Inovatif Mahasiswa untuk Pengembangan UMKM Klanting

Berangkat dari temuan tersebut, mahasiswa menyusun serangkaian program pendampingan. Mereka tidak hanya memberi teori, tetapi juga terlibat langsung dalam eksekusi. Program tersebut meliputi:

  1. Pengembangan Branding

    Mahasiswa membantu merancang logo dan nama merek yang lebih komersial, mudah diingat, serta mencerminkan identitas produk sebagai cemilan khas Cilegon.

  2. Desain Ulang Kemasan

    Mereka memberikan beberapa alternatif desain kemasan modern yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga lebih fungsional, mencantumkan informasi penting seperti komposisi, berat bersih, dan kontak produsen.

  3. Edukasi Pemasaran Digital

    Memperkenalkan pemilik usaha pada platform media sosial seperti Instagram dan Facebook Marketplace sebagai sarana promosi yang efektif dan berbiaya rendah. Mahasiswa juga memberikan pelatihan singkat mengenai cara mengambil foto produk yang menarik menggunakan ponsel.

  4. Pencatatan Keuangan Sederhana

    Memberikan pemahaman dasar tentang pentingnya memisahkan keuangan usaha dan pribadi untuk mengukur kesehatan bisnis secara akurat.

Kolaborasi yang Menumbuhkan Asa

Kehadiran para mahasiswa disambut dengan sangat antusias oleh pemilik usaha. Interaksi hangat terlihat saat mahasiswa berkunjung ke rumah pengusaha untuk berdiskusi, mendengarkan cerita, dan berbagi ide.

"Saya benar-benar berterima kasih. Selama ini saya hanya tahu cara membuat Klanting yang enak, tapi tidak tahu bagaimana cara menjualnya agar lebih laku. Dengan adanya adik-adik mahasiswa, wawasan saya jadi terbuka. Saya berharap produk saya bisa dikenal lebih banyak orang," ujar Ibu Sanah (bukan nama sebenarnya), pemilik usaha Klanting, dengan wajah berbinar.

Dari sisi mahasiswa, program ini memberikan pengalaman yang tak ternilai. "Ini adalah kesempatan emas bagi kami untuk belajar langsung di lapangan. Melihat semangat dan ketekunan para pengusaha UMKM memotivasi kami untuk memberikan yang terbaik. Ini lebih dari sekadar tugas kuliah, ini tentang kontribusi nyata," pungkas ketua kelompok KKM 18.

Melalui sinergi antara energi inovatif mahasiswa dan pengalaman para pelaku usaha lokal, program KKM Kelompok 18 Universitas Bina Bangsa ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi kemandirian dan kemajuan ekonomi masyarakat Lebak Gede, serta memastikan bahwa warisan kuliner seperti Klanting akan terus lestari dan berkembang.