Konten dari Pengguna

Rendang dan Goulash: Resep Kemitraan Dua Negara

Affabile Rifawan

Affabile Rifawan

Dosen Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Affabile Rifawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Rendang Foto: Michaelnero/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Rendang Foto: Michaelnero/Shutterstock

Hungaria adalah anggota Uni Eropa sejak tahun 2004 dan aktor utama dalam Visegrád Group (V4), hubungan diplomatiknya dengan Indonesia pada tahun ini genap 70 tahun pada 26 Juni ini. sebuah angka historis yang dapat menjadi pijakan yang lebih baik ke depannya. Tentu, banyak hal yang dapat ditingkatkan untuk hubungan antara Indonesia-Hungaria.

Hungaria menunjukkan minat yang semakin besar untuk memperkuat hubungan dengan mitra-mitra di Asia. Melalui kebijakan Eastern Opening Policy (Keleti Nyitás), yang diperkenalkan pada tahun 2010, Hungaria berupaya mengurangi ketergantungan ekonominya terhadap Eropa Barat dengan mengintensifkan hubungan perdagangan dan investasi dengan Asia. Kedekatan Hungaria dengan Cina tidak dapat dipungkiri adalah buah dari kebijakan ini. Hal ini tidak menutup juga Indonesia termasuk di dalamnya yang dapat menjadi mitra strategis Hungaria.

Ada beberapa potensi untuk meningkatkan kerja sama Indonesia-Hungaria, Sebelum membahas potensi-potensi tersebut, mari kita lihat potensi kesamaan sosial politik kedua negara. Dari segi pemimpin kedua negara, Indonesia dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto, sedangkan Hungaria oleh Perdana Menteri Viktor Orban.

Kedua pemimpin ini memiliki tipikal dominan dan sama-sama menunjukan ingin punya pengaruh di kawasan, baik Prabowo di Asia Tenggara dan Orban di Eropa. Kesamaan tersebut yang harus menjadi jalan dari meningkatnya hubungan antara Indonesia-Hungaria, apalagi keduanya sama-sama ingin independen, menjalankan politik bebas aktif yang tidak condong ke salah satu kekuatan besar baik dari sisi Indonesia (tidak tergantung ke Cina dan AS) maupun Hungaria (tidak tergantung ke EU dan bebas bermanuver ke Rusia, China, dan AS).

Dari sisi ekonomi masyarakatnya, Indonesia dan Hungaria merupakan negara dengan kategori high-middle income country, kedua negara tersebut juga pertumbuhan ekonominya stabil dan terus tumbuh. Dengan stabilitas pertumbuhan tersebut, hal ini dapat menjadi pendorong untuk membuka kerja sama ke arah yang lebih maju. Interaksi antara pebisnis Hungaria dan Indonesia perlu ditingkatkan lebih lanjut sehingga dapat mendorong kemajuan bersama.

Foto Gedung Parlemen Budapest Sumber: Pribadi

Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, hal ini dapat menjadi potensi untuk peningkatan kerja sama antar kedua negara. Potensi-potensi yang dapat ditingkatkan adalah sebagai berikut, pertama adalah kerja sama di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan. Hungaria adalah negara dengan jumlah penerima nobel terbesar di dunia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk totalnya.

Dengan fakta tersebut, Hungaria menyediakan sarana pendidikan yang berstandar global karena termasuk Schengen area dan hal ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengirimkan mahasiswanya belajar di Hungaria terutama untuk tingkat magister dan doktoral. Apalagi Hungaria juga menyediakan beasiswa Stipendum Hungaricum untuk mahasiswa Indonesia sebanyak 110 kuota. Jumlah terbesar se-Asia Tenggara.

Selain itu, kolaborasi antar institusi pendidikan tinggi perlu didorong lebih lanjut. Di bidang ketenagakerjaan, saat ini Hungaria membutuhkan banyak pekerja untuk menopang ekonominya, di kala populasi produktifnya banyak bermigrasi ke negara EU lainnya yang menawarkan insentif lebih besar dibandingkan di Hungaria. Hal ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia yang sekarang sedang mengalami bonus demografi di populasi usia produktif untuk mengisi kebutuhan tersebut. Hal ini juga dapat memanfaatkan hubungan yang dekat antara Indonesia-Hungaria dengan China.

Sebagai contoh yang pernah disebutkan Duta Besar Hungaria untuk Indonesia, Lilla Karsay, bahwa pekerja Indonesia dilatih untuk bekerja di pabrik BYD Hungaria, setelah selesai pelatihannya, dapat bekerja di pabrik BYD Indonesia. Selain itu, banyak peluang untuk pekerja Indonesia di sektor lainnya terutama yang bukan high-skilled worker seperti menjadi pramusaji di bidang perhotelan atau industri makanan dan minuman ataupun menjadi sopir bus di sana.

Perlu ada rancangan program atau pelatihan khusus yang diselenggarakan pemerintah Indonesia seperti pengiriman TKI ke Jepang untuk dapat diterima di pasar tenaga kerja Hungaria. Kerja sama bilateral terkait ketenagakerjaan juga perlu difasilitasi oleh pemerintah Indonesia agar TKI yang berangkat ke sana dapat terlindungi dengan baik.

Potensi yang kedua adalah peningkatan kerja sama di sektor perdagangan dan investasi. Pada tahun 2021, Indonesia dan Hungaria membentuk Indonesia-Hungary Investment Fund (IHIF), dengan seed funding sebesar 500 juta US dollar untuk berinvestasi di bidang infrastruktur, terutama di Indonesia. Hungaria yang memiliki teknologi pengolahan air yang baik dan juga teknologi untuk mengatasi antrean di jalan tol dengan Global Positioning Satelite System telah menanamkan modalnya di Indonesia untuk penerapan teknologi tersebut.

Tentu, investasi tersebut harus digunakan sebagaimana mestinya, penerapan MLFF (multi lane free flow) atau tol tanpa antre sejauh ini masih tahap uji coba dan hanya diujicobakan di Bali saja. Seharusnya, pemerintah Indonesia perlu mengawal investasi sampai ke tahap yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Sehingga dapat menjadi langkah awal dan pijakan yang kuat dari kolaborasi antara Indonesia dan Hungaria. Jangan sampai langkah awal tersebut menjadi preseden buruk akibat tidak dieksekusi dengan baik.

Jika kerja sama investasi dapat difasilitasi dengan baik, maka kerja sama lebih lanjut di bidang perdagangan sangat dimungkinkan untuk dikembangkan lebih luas dan lebih besar. Selama ini perdagangan Indonesia dengan Eropa, sangat tergantung kepada hub produk Indonesia di Belanda, akan tetapi tantangan perdagangan produk Indonesia di Eropa tetap saja tidak bertambah seperti Vietnam atau Thailand, bahkan Indonesia sempat bersengketa dengan Uni Eropa terkait sawit dan nikel.

Memang tahun ini Indonesia berhasil mensahkan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), tetapi akselerasi perlu dilakukan, salah satunya dapat melalui Hungaria. Perdagangan sawit Indonesia ke Eropa dapat melalui Hungaria dengan melakukan pertukaran antara sawit dan minyak bunga matahari sebab Hungaria merupakan produsen minyak bunga matahari terbesar di Eropa.

Selain itu, terkait nikel, lagi-lagi hal ini dapat memanfaatkan kemitraan kedua negara dengan Cina, sehingga nikel Indonesia yang sudah diolah dapat diekspor ke pabrik Cina yang ada di Hungaria untuk dipergunakan di pasar Eropa. Peluang tersebut harus dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia.

Potensi ketiga adalah terkait politik dan keamanan, kedua negara memiliki kesamaan pandangan terkait politik bebas aktif atau tidak tergantung kepada salah satu negara atau blok, kesamaan ini perlu ditingkatkan lebih lanjut dengan berperan lebih besar dalam perdamaian global atau isu-isu lainnya.

Sebagai negara yang sama-sama berstatus middle power dalam politik internasional, kedua negara perlu memperkuat kerja sama politiknya. Selain itu, di bidang keamanan, Hungaria sedang mengembangkan industri militernya dengan Jerman dan membuat pabrik terbesar di Eropa, hal ini dapat menjadi peluang untuk Indonesia untuk bermitra lebih lanjut terutama antara Pindad dan perusahaan senjata di Hungaria.

Potensi-potensi tersebut jika direalisasikan hubungan Indonesia–Hungaria akan berkembang menjadi kemitraan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Hubungan ini dapat diibaratkan seperti rendang dan goulash, dua hidangan khas Indonesia dan Hungaria yang sama-sama berbahan dasar daging, dimasak dengan rempah dan ketekunan hingga menghasilkan cita rasa istimewa. Mudah-mudahan, hubungan kedua negara juga terbangun dengan semangat yang serupa: kaya rasa, penuh kesungguhan, dan memuaskan kedua pihak.