Konten dari Pengguna

Sering Buat Menangis: Bawang Bombai (Allium cepa L.) Memiliki Kandungan Spesial

Gambar Bawang Bombai (Allium cepa L.) (Sumber : https://pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Bawang Bombai (Allium cepa L.) (Sumber : https://pexels.com)

Berdasarkan penjelasan (Mutryarny et al, 2019 dalam Angely, D. R., et al, 2024) bahwa Indonesia negara yang memiliki sumber keanekaragaman hayati yang sangat banyak. Salah satu komponen dari keanekaragaman hayati itu adalah sumber daya alamnya yang sangat berlimpah bahkan dari pulau Sumatra hingga papua mempunyai sumber daya alam yang berbeda-beda atau bagian yang khas dari suatu daerah tersebut. Sumber daya alam ini menyangkut material tumbuhan yang nantinya dapat memiliki nilai yang aktual dan potensial menciptakan galur atau ciri khas pada suatu daerah. Sumber daya alam yang terdapat didalamnya adalah tanaman dengan jenis umbi-umbian, karena umbi merupakan salah satu yang menjadi kekuatan lokal mungkin saja bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang spesial. Oleh karena itu, dapat dijadikan peluang dalam bisnis karena umbi-umbian dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang berpotensi bagi masa depan.

Umbi-umbian sendiri pun mempunyai keunggulan yang sangat berarti bagi sumber daya manusianya itu sendiri karena di dalamnya umbi-umbian terdapat gizi dan karbohidrat yang sangat melimpah dan salah satu pangan yang menjadi acuan bagi sumber daya manusianya itu sendiri. Apalagi masyarakat di pedesaan, seperti para petani, mereka banyak yang menjadikan umbi-umbian sebagai salah satu pangan dalam ketahanan hidup, sumber ekonomi, dll,. Ada berbagai macam contoh tanaman umbi-umbian di Indonesia ini seperti kentang, singkong, ubi jalar, talas, ganyong, ubi kayu, ubi garut, dll, karena umbi-umbian sama seperti beras yang nantinya akan dijadikan sebagai nasi yang keduanya berfungsi sebagai sumber karbohidrat untuk memberikan energi di dalam tubuh sehingga tubuh dapat beraktivitas dengan baik dan salah satu kandungan umbi-umbian itu adalah pati yang sebenarnya pati digunakan sebagai bahan pengisi, pengikat, penghancur, dan pelicin dalam pembentukan formulasi tablet (Wuryantoro dan Arifin, 2017).

Salah satu yang merupakan bagian dari umbi-umbian yang tentunya akan dibahas pada kali ini adalah bawang bombai (Allium cepa L.) yang merupakan bagian dari umbi-umbian dengan jenis umbi lapis. Walaupun umbi lapis atau bawang bombai (Allium cepa L.) ini sering membuat mata terharu hingga menangis di dapur pada saat pembuatannya, ternyata kandungan yang terdapat di dalam bawang bombai (Allium cepa L.) tidak main-main. Dikatakan bahwa bawang bombai memiliki kandungan senyawa antara lain fenolik, flavonoid, triterpenoid, dan saponin (Ladeska, V. et al, 2020 dalam Amalia, R. & Anggarani, M. A., 2022). Senyawa yang terkandung dalam bawang bombai ini padahal bukan main-main, senyawa tersebut memiliki fungsi selaku antioksidan salah satunya adalah flavonoid. Namun, dalam implementasinya, masih jarang terlihat suplemen, formulasi, atau lainnya dalam bidang farmasi yang berasal dari bawang bombai (Allium cepa L.) sebagai antioksidan ini.

KANDUNGAN SENYAWA

1. Flavonoid

Kandungan senyawa yang terkandung dalam bawang bombai ini merupakan hasil dari metabolit sekunder yang dihasilkan dari tanaman itu sendiri atau istilah lainnya produk dari hasil metabolit primer. Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan (Husna, P. A. et al, 2022) flavonoid itu mengandung antioksidan yang sangat tinggi dibanding dengan salah satu suplemen dalam mengoptimalkan daya tahan pada tubuh semacam vitamin C dan vitamin E. Karena dalam flavonoid itu sendiri, terdapat gugus hidroksil -OH yang tersubstitusi pada posisi ortho dan para. Lalu flavonoid juga dijadikan sebagai pencegah pembentukan radikal bebas yang dapat menimbulkan masalah seperti inflamasi, dengan kata lain senyawa flavonoid ini digunakan sebagai pengobatan non-konvensional dalam menahan dan mengurangi inflamasi. Jenis flavonoid yang terkandung dalam bawang bombai (Allium cepa L.) adalah kuersetin yang menjadi senyawa antioksidan yang menangkap radikal bebas penyebab antiinflamasi (Kelly, 2011 dalam Ladeska, V. et al, 2020). Selain itu, karena kandungan senyawa dari bawang bombai (Allium cepa L.) sangat beragam, terdapat khasiat lainnya seperti sebagai antibakteri biasanya bakteri jenis patogen seperti Escherichia coli yang berada dalam sismtem pencernaan dan Staphylococcus aureus yang berada di kulit. Serta sebagai antimutagenic yang berperan sebagai pengurangan atau mencegah terjadinya mutasi pada DNA (Anggraini, S. & Retnaningsih, A., 2022).

2. Fenolik

Senyawa fenolik dalam bawang bombai (Allium cepa L.) juga sangat tinggi dan berperan sebagai antioksidan sama seperti flavonoid, hal ini dikarenakan struktur kimia dari senyawa fenolik itu sendiri sehingga memudahkan dalam pendonoran elektron saat bertemu dengan radikal bebas penyebab antiinflamasi melalui proses transport elektron (Wirasti, 2019). Berperan juga dalam membantu mencegah penyakit kronis yang meliputi penyakit jantung, kanker, dan penyakit neurodegeneratif. Fenolik ini hampir sama dengan flavonoid lebih tepatnya jenis kuersetin, sama-sama menjadi senyawa yang dapat mencegah radikal bebas yang menyebabkan antiinflamasi, sebagai antimikroba yang menandakan dapat menghambat atau mencegah pertumbuhan dari bakteri jenis patogen, dan antioksidan.

3. Saponin

Saponin termasuk senyawa metabolit sekunder yang ternyata tergolong komponen organik dengan kapasitas steroid yang baik, steroid itu sendiri merupakan turunan hormon testosterone yang berperan dalam pertumbuhan massa tubuh dengan pertumbuhan otot (Mien, D. J., et al, 2015). Struktur dari saponin terdiri dari susunan atom C dan H, oleh sebab itu biasanya dijadikan tindakan biologis sebagai antibakteri dalam produksi sabun (Adawiyah, 2012 dalam Ngginak, J. et al, 2021). Selain itu, banyak pengimplementasian ke berbagai bidang yang berasal dari senyawa saponin ini, bahkan salah satunya bidang farmasi yakni menjadi produk kosmetik, obat-obatan, dll., karena saponin sendiri dalam produk tersebut diketahui memiliki aktivitas sebagai antifungal, antibakteri, serta antitumor (Bintoro, A., et al, 2017).

4. Triterpenoid

Triterpenoid dikatakan sebagai senyawa yang sangat berfungsi sekali dalam berbagai pengobatan, karena triterpenoid ini memiliki aktivitas biologis yang sangat banyak seperti antibakteri, antivirus, antiinflamasi yang sama seperti senyawa lainnya yang terkandung dalam bawang bombai (Allium cepa L.), penghambat sintesis kolesterol, dan antikanker, selain berguna dalam pengobatan senyawa triterpenoid ini juga memberikan keunggulan sendiri bagi tumbuhan yang mempunyai kandungan senyawa triterpenoid itu sendiri karena memiliki antifungal, insektisida, antibakteri, antivirus, dan dapat dijauhi oleh predator (hama) (Balafif, et al, 2013 dalam Hidayah, H., et al, 2023).

Kandungan senyawa yang terkandung dalam bawang bombai (Allium cepa L.) sangatlah spesial, walaupun sering membuat menangis saat mengupas kulitnya saat berada di dapur. Namun, bawang bombai sendiri memiliki senyawa yang dapat mencegah kita dari berbagai penyakit seperti antioksidan yang nantinya dapat mencegah kita dari serangan radikal bebas sehingga meningkatkan imunitas tubuh kita sendiri, sebagai antibakteri yang juga bisa menyerang manusia jenis patogen, antivirus, sintesis kolesterol, antiinflamasi, bahkan sampai mencegah kanker dan penyakit jantung. Selain menjadi obat bagi manusia, kandungan-kandungan tersebut juga berguna bagi tumbuhan itu sendiri seperti peran ekologis. Sungguh istimewa bukan kandungannya, mungkin jarang terlihat suplemen atau formulasi obat yang mengandung ekstrak bawang bombai di dalamnya. Hal ini menjadi peluang dalam melakukan penelitian dan berlanjut sampai nantinya dikembangkan di bidang agribisnis. Sungguh sangat istimewa dari sekedar bahan-bahan dapur berubah menjadi obat-obatan yang berguna dalam menyembuhkan penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Angely, D. R., Nursabrina, A. B., Nikmah, E. S. A., Rachim, S. D., Marsely, B., Utami, S., & Khotimperwati, L. (2024). Keanekaragaman sumber daya genetik lokal umbi-umbian di Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22(1), 11- 19.

Anggarani, M. A., & Amalia, R. (2022). Analisis Kadar Fenolik, Flavonoid Dan Aktivitas Antioksidan Umbi Bawang Bombai (Allium Cepa L.). Unesa Journal of Chemistry, 11(1), 34-45.

Bintoro, A., Ibrahim, A. M., Situmeang, B., Kimia, J. K. S. T. A., & Cilegon, B. (2017). Analisis dan identifikasi senyawa saponin dari daun bidara (Zhizipus mauritania L.). Jurnal Itekima, 2(1), 84-94.

Hidayah, H., Nurfirzatulloh, I., Insani, M., & Shafira, R. A. (2023). Literature review article: Aktivitas triterpenoid sebagai senyawa antiinflamasi. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(16), 1-23.

Husna, P. A., Kairupan, C. F., & Lintong, P. M. (2022). Tinjauan mengenai manfaat flavonoid pada tumbuhan obat sebagai antioksidan dan antiinflamasi. EBiomedik, 10(1).

Ladeska, V., Rindita, N. A., & Tamara, D. V. (2020). Analisa Fisikokimia dan Aktivitas Antioksidan Umbu Bawang Bombay (Allium cepa L.). Jurnal Jamu Indnesia, 5(2), 56- 67.

Mien, D. J., Carolin, W. A., & Firhani, P. A. (2015). Penetapan kadar saponin pada ekstrak daun lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain varietas S. Laurentii) secara gravimetri. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 2(2), 65-69.

Ngginak, J., Apu, M. T., & Sampe, R. (2021). Analisis kandungan saponin pada ekstrak serat matang buah lontar (Borassus flabellifer Linn). BIOEDUKASI: Jurnal Pendidikan Biologi, 12(2), 221-228.

Retnaningsih, A. (2022). SKRINING FITOKIMIA DAN UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK BAWANG BOMBAY (Allium cepa L) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli PENYEBAB DIARE. Jurnal Analis Farmasi, 7(1).

Wirasti. (2019). Penetapan Kadar Fenolik Total, Flavonoid Total, dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Benalu Petai (Scurrula atropurpurea Dans.) Beserta Penapisan Fitokimia. Journal of Pharmaceutical and Medicinal Sciences, 4(1), 1-5.

Wuryantoro, A. M. (2017). Explorasi dan identifikasi tanaman umbi-umbian (ganyong, garut, ubi kayu, ubi jalar, talas dan suweg) di wilayah lahan kering Kabupaten Madiun. AGRI- TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan dan Agroteknologi, 18(2), 72-79.

Affan Ghaffar Mushthafa Sinaga

Mahasiswa Aktif Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta