Bukan Ideologi yang Bikin Maju, tapi Itqan yang Sering Kita Lupakan

Akademisi Bidang Dakwah dan Komunikasi Institut Agama Islam Negeri Parepare
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa bulan terakhir, timeline kita penuh berita PHK. Sritex tutup. Puluhan ribu buruh tekstil kehilangan pekerjaan. Daya beli kelas menengah terus tergerus, bahkan sejumlah ekonom menyebut jumlah kelas menengah Indonesia terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu penyebabnya? Banjir produk impor, banyak di antaranya dari China. Ironisnya, di tengah situasi ini, energi publik justru banyak tersita untuk berdebat soal ideologi negara lain, alih-alih membenahi persoalan struktural yang ada di depan mata.
Kita sering lihat konten yang sibuk membahas "kenapa China yang komunis kok bisa kaya raya". Kita heran dengan ideologinya, tapi lupa bertanya: kenapa barang-barang mereka yang justru bikin pabrik kita kalah saing? Pertanyaan ini penting, sebab yang sebenarnya perlu kita bedah bukan sekadar "apakah China komunis atau kapitalis", melainkan apa sebenarnya yang membuat sebuah bangsa bisa terus bergerak maju sementara bangsa lain jalan di tempat.
Ketika Politik dan Ekonomi Berjalan di Jalur Berbeda
Banyak orang masih menyamakan sistem politik dengan sistem ekonomi, padahal keduanya bisa berjalan di jalur yang sangat berbeda. Secara politik, China memang masih satu partai. Partai Komunis China tetap menjadi pemegang kendali penuh atas negara. Tapi secara ekonomi, sejak reformasi ekonomi akhir 1970-an, China perlahan membuka diri terhadap investasi asing dan mekanisme pasar, melahirkan raksasa-raksasa swasta seperti Alibaba, Tencent, BYD, hingga Huawei yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar. Sebagian ekonom menyebut model ini sebagai bentuk state capitalism kapitalisme yang tetap berada dalam kendali dan arahan negara.
Bedanya dengan kapitalisme di negara-negara Barat cukup mendasar. Di sistem kapitalisme liberal, negara relatif tidak bisa sewenang-wenang membekukan aset atau membatalkan langkah bisnis perusahaan swasta besar tanpa proses hukum yang panjang. Di China, batasnya jauh lebih tipis. Kasus Jack Ma adalah contoh yang paling sering diangkat: setelah mengkritik regulator keuangan pada akhir 2020, IPO Ant Group senilai puluhan miliar dolar yang semestinya menjadi salah satu penawaran saham terbesar di dunia dibatalkan mendadak, dan Jack Ma sendiri menghilang dari ruang publik selama beberapa bulan. Pesannya jelas: kebebasan ekonomi di sana bersifat bersyarat, dan bisa dicabut kapan saja oleh negara.
Bukan Soal Isme, tapi Soal Etos
Namun terlepas dari model politiknya, satu hal yang sering luput dari perhatian kita: Alibaba, Tencent, BYD, dan Huawei tidak lahir dari slogan ideologi. Mereka lahir dari riset bertahun-tahun, disiplin eksekusi, dan kebijakan yang konsisten dijalankan lintas dekade. Bukan jalan pintas, dan bukan pula sekadar kebetulan sejarah. Label "komunis" atau "kapitalis" hanyalah kulit luar dari sebuah bangsa. Yang ada di dalamnya, yang benar-benar menggerakkan roda kemajuan, adalah kerja keras yang terstruktur, terukur, dan dijalankan dengan konsisten dari generasi ke generasi.
Sementara itu, kita di sini kadang lebih sibuk berdebat sistem mana yang lebih benar secara ideologis, daripada bertanya pada diri sendiri: sudah seberapa serius kita membangun kualitas kerja kita? Sudah sejauh mana kita mengasah keterampilan agar tidak terus bergantung pada produk dan teknologi orang lain?
Alihkan Energi: dari Menghakimi ke Introspeksi
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. Ar-Ra'd: 11).
Ada satu prinsip dakwah yang relevan untuk direnungkan lewat ayat ini. Ayat ini bukan cuma berbicara soal ibadah ritual semata, tapi juga menyentuh soal etos termasuk etos kerja dan etos membangun bangsa.
Islam menempatkan kerja dengan tangan sendiri, kejujuran dalam berusaha (amanah), dan bekerja secara itqan optimal, tuntas, tidak asal-asalan sebagai bagian dari nilai yang sangat tinggi kedudukannya. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah mencintai seseorang yang apabila ia bekerja, ia menuntaskan pekerjaannya dengan itqan. Prinsip inilah yang jauh lebih berdampak untuk diperjuangkan hari ini, dibandingkan sekadar viral-viralan opini soal sistem negara lain yang bahkan tidak berada dalam kendali kita. Kaidah dakwah kontemporer mengajarkan bahwa pesan yang paling efektif adalah pesan yang kontekstual, membumi, dan bisa langsung dipraktikkan oleh pendengarnya bukan sekadar wacana abstrak soal ideologi yang jauh dari keseharian.
Bukan Menghakimi Luar, tapi Membenahi Dalam
Perlu ditegaskan, poin tulisan ini bukan untuk membela atau mengagungkan sistem China secara membabi buta. Ada sisi gelap yang tidak bisa diabaikan begitu saja: kontrol negara yang bisa membekukan usaha swasta kapan saja, utang pemerintah daerah yang terus menggunung akibat proyek-proyek infrastruktur yang dipaksakan, krisis properti yang berulang, hingga represi terhadap kebebasan sipil yang nyata adanya. Model pertumbuhan cepat semacam ini datang dengan ongkos yang tidak kecil, dan bukan resep yang bisa ditiru secara serampangan oleh negara lain tanpa fondasi kelembagaan yang kuat.
Namun demikian, kita juga tidak perlu menghabiskan energi berdebat ideologi sambil membiarkan persoalan riil di depan mata gelombang PHK, kesenjangan keterampilan, hingga produk lokal yang terus kalah saing tidak pernah benar-benar dibenahi. Dakwah yang bijak (hikmah), sebagaimana diteladankan dalam QS. An-Nahl ayat 125, mengarahkan umat untuk berkaca dulu ke dalam sebelum sibuk menuding ke luar. Prinsip wasathiyyah atau moderasi juga mengajarkan kita untuk tidak jatuh ke dua ekstrem: memuja sistem asing tanpa kritik sama sekali, atau sebaliknya, hanya sibuk menyalahkan pihak luar tanpa pernah introspeksi ke dalam diri sendiri dan bangsa sendiri.
Penutup: dari Opini Menuju Aksi
Sementara kita sibuk membahas sistem mereka, mereka sudah sibuk membangun produk yang kita pakai hari ini mulai dari ponsel, kendaraan listrik, hingga tekstil yang justru menggusur produk lokal kita sendiri di pasar domestik. Daripada terus berdebat isme yang bahkan tidak pernah kita rasakan dampaknya secara langsung, mungkin saatnya kita kembali ke hal paling dasar dan paling dalam kendali kita: bekerja dengan itqan, jujur dalam berusaha, terus mengasah keterampilan, dan mendukung produk-produk anak bangsa. Sebab pada akhirnya, dakwah yang paling berdampak bukanlah dakwah yang berhenti pada lisan dan opini, melainkan dakwah bil hal yang terlihat nyata lewat karya dan etos kerja kita sehari-hari.
Bagaimana menurutmu apakah kita memang lebih sering sibuk menilai sistem orang lain daripada membenahi etos kerja sendiri?
