Konten dari Pengguna

Dakwah dan Spiritual Resilience: Ketangguhan Jiwa Muslim di Era Disrupsi

Afidatul Asmar

Afidatul Asmar

Akademisi Bidang Dakwah dan Komunikasi Institut Agama Islam Negeri Parepare

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar ini merepresentasikan harmoni antara kehidupan modern dan spiritualitas, di mana ruang publik menjadi media dakwah yang inklusif dan dekat dengan masyarakat. Photo: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar ini merepresentasikan harmoni antara kehidupan modern dan spiritualitas, di mana ruang publik menjadi media dakwah yang inklusif dan dekat dengan masyarakat. Photo: Gemini AI

Kita hidup di era yang serba cepat, penuh disrupsi, dan sering kali tidak menentu. Mulai dari himpitan ekonomi, sisa dampak pandemi COVID-19, hingga krisis kesehatan mental yang makin marak dibicarakan. Di tengah gempuran stres dan tekanan dunia modern, ada satu "senjata" yang sering kali dilupakan namun terbukti sangat ampuh: Spiritual Resilience atau ketangguhan spiritual.

Lalu, bagaimana Islam memandang hal ini, dan bagaimana dakwah di Indonesia harus bertransformasi untuk membentuk umat yang memiliki spiritual resilience yang kuat?

Kekuatan Jiwa dalam Kacamata Al-Qur'an dan Hadits

Dalam psikologi modern, resiliensi dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk bangkit dan beradaptasi setelah menghadapi tekanan atau trauma hidup. Menariknya, jauh sebelum konsep ini populer, Islam sudah menanamkan fondasi ketangguhan jiwa ini melalui konsep sabar dan tawakkal.

Rasulullah SAW pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan..." (HR. Muslim).

Kuat di sini bukan sekadar fisik, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan spiritual dalam menghadapi masalah hidup tanpa kehilangan arah.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memberikan "resep" resiliensi ini lewat QS. Al-Baqarah ayat 153:

"Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat…".

Pakar tafsir terkemuka, M. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah, memaknai kesabaran di sini bukan sebagai sikap pasif, melainkan sebuah kekuatan batin yang aktif dan dinamis dalam menghadapi tantangan hidup. Lebih lanjut, pada ayat 155, Allah menegaskan bahwa manusia pasti akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, dan kehilangan. Ujian ini adalah sunnatullah (ketetapan Allah) yang dirancang bukan untuk menghancurkan, melainkan sebagai sarana pertumbuhan spiritual bagi mereka yang tangguh.

Belajar dari Kejadian Dunia: Iman Sebagai Perisai Trauma

Kekuatan spiritual resilience bukanlah sekadar teori di atas kertas. Berbagai penelitian global telah membuktikan bahwa spiritualitas dan praktik keagamaan memainkan peran krusial dalam memulihkan trauma.

Sebagai contoh, penelitian pada para veteran perang yang mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan luka moral (moral injury) di berbagai negara menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti doa, meditasi, dan bergabung dengan komunitas agama sangat efektif menurunkan tingkat kecemasan dan depresi. Agama membantu mereka memaknai ulang kejadian traumatis lewat lensa tujuan hidup yang lebih tinggi, sehingga mengurangi beban emosional yang mereka pikul.

Selain itu, studi pada penyintas bencana alam besar, seperti Badai Katrina hingga pandemi COVID-19, menemukan bahwa mereka yang berserah diri kepada kekuatan supranatural (Tuhan) dan saling membantu sesama memiliki tingkat pemulihan mental yang jauh lebih cepat dan pandangan hidup yang lebih optimis.

Kondisi Indonesia: Tantangan Dakwah di Era Multikultural dan Digital

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang sangat majemuk dan multikultural. Tantangan dakwah di Tanah Air saat ini sangat kompleks, mulai dari dakwah di daerah minoritas hingga gempuran arus digitalisasi.

Berdasarkan realita di lapangan, seperti di daerah minoritas Muslim di Sumatera Utara (misalnya Pakpak Bharat, Nias Barat, dan Tapanuli Utara), umat Islam dan para da'i di sana berhadapan dengan tantangan minimnya sumber daya, ancaman pemurtadan, hingga sulitnya akses pendidikan agama. Di sinilah dakwah harus mengedepankan pendekatan kultural dan sosial yang merangkul (dakwah bil-hal), bukan sekadar ceramah di atas mimbar.

Di sisi lain, kaum urban dan generasi milenial tengah menghadapi fenomena "Seleb Hijrah" dan membanjirnya dakwah digital via YouTube, TikTok, dan podcast. Memang, media sosial memberikan peluang dakwah yang tanpa batas dan fleksibel. Namun, di saat yang sama, dunia digital ini rentan terhadap penyebaran hoaks, perdebatan yang memicu polarisasi umat, hingga komodifikasi agama.

Oleh karena itu, dakwah di Indonesia sangat membutuhkan pendekatan Islam Wasathiyah (Islam moderat) dan Rahmatan Lil 'Alamin. Dakwah harus menjadi jembatan yang inklusif, menghargai budaya lokal, dan mengedepankan toleransi. Para da'i digital tidak boleh hanya mengejar viral, tetapi harus mampu memberikan pemahaman agama yang mendalam dan menyejukkan.

Menjadikan Dakwah sebagai Jalan Menguatkan Umat

Melihat segala tantangan dan referensi di atas, dakwah tidak lagi cukup hanya sebatas menyampaikan larangan dan perintah (hitam-putih). Dakwah kontemporer harus mampu membangun spiritual resilience umatnya.

Para da'i, tokoh agama, dan organisasi keagamaan (seperti NU, Muhammadiyah, Dewan Da'wah, dll.) perlu bersinergi untuk menyajikan pesan agama yang bisa menjadi coping mechanism (mekanisme koping) yang sehat saat umat sedang stres atau depresi. Mengubah cara pandang masyarakat dari yang awalnya merasa "dihukum" oleh cobaan hidup menjadi individu tangguh yang yakin bahwa di balik setiap kesulitan, ada penyertaan Allah yang akan menuntun mereka pada kematangan jiwa.

Pada akhirnya, seperti pesan bijak Pramoedya Ananta Toer, "Menulis adalah bekerja untuk keabadian", maka berdakwah dengan hikmah dan kebijaksanaan adalah cara kita mewariskan peradaban umat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh, tahan banting, dan tak mudah patah oleh kerasnya hantaman zaman.

Mari wujudkan generasi Muslim Indonesia yang tidak hanya saleh secara ritual, tapi juga kokoh secara mental!