Konten dari Pengguna

Dakwah Perenialisme: Titik Temu Agama Melalui Al-Qur'an, Hadis, dan Sains

Afidatul Asmar

Afidatul Asmar

Akademisi Bidang Dakwah dan Komunikasi Institut Agama Islam Negeri Parepare

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi harmoni antara agama dan ilmu pengetahuan, di mana cahaya wahyu dan akal berpadu membimbing umat manusia menuju pemahaman, kedamaian, dan peradaban yang berkeadaban. Foto: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi harmoni antara agama dan ilmu pengetahuan, di mana cahaya wahyu dan akal berpadu membimbing umat manusia menuju pemahaman, kedamaian, dan peradaban yang berkeadaban. Foto: Gemini AI

Di era modern yang serba canggih ini, krisis spiritual justru sering melanda masyarakat. Kehidupan yang diukur dengan efisiensi mekanis dan kecanggihan teknologi kerap membuat jiwa manusia terasa kosong, terasing, dan kehilangan orientasi.

Kondisi ini sering kali diperparah dengan maraknya konflik bernuansa agama. Klaim kebenaran (truth claim) yang berlebihan dan tekstual melahirkan sikap intoleran dan saling menyalahkan antarumat beragama.

Lalu, bagaimana dakwah Islam harus bersikap di tengah masyarakat yang majemuk ini? Salah satu pendekatan filosofis dan teologis yang relevan untuk diangkat adalah dakwah perenialisme

Apa Itu Filsafat Perenial?

Secara etimologis, kata perenial berasal dari bahasa Latin perennis, yang berarti abadi atau kekal. Filsafat perenial (philosophia perennis) mengajarkan bahwa setiap agama di dunia pada dasarnya memiliki satu kebenaran tunggal dan universal pada intinya, yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam ilmu pengetahuan dan psikologi populer, tokoh seperti Aldous Huxley mendefinisikan perenialisme sebagai metafisika yang mengenali Realitas Ilahi pada setiap eksistensi. Secara psikologis, pendekatan ini menemukan bahwa di dalam jiwa manusia terdalam, terdapat fitrah yang identik dengan kerinduan terhadap realitas Ilahi tersebut.

Sederhananya, perenialisme membagi agama pada dua level: esoterik (batin/substansi universal) dan eksoterik (lahir/syariat formal). Ibarat sebuah roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari yang mengarah ke pusat tersebut adalah jalan dari berbagai agama. Secara eksoterik (ritual), agama-agama itu berbeda, namun secara esoterik semuanya menuju pada titik temu yang sama.

Pluralisme dalam Kacamata Al-Qur'an dan Tafsir

Al-Qur'an sejatinya sangat memuliakan keberagaman. Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid (Cak Nur) menegaskan bahwa kemajemukan manusia (pluralitas) adalah sunnatullah atau ketetapan Allah yang tidak mungkin dilawan.

Hal ini termaktub dengan jelas dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13, di mana Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan tujuan agar mereka saling mengenal (lita'arafu) dan menghargai.

Untuk membangun keharmonisan, Al-Qur'an menawarkan konsep Kalimatun Sawa' (titik temu/kesamaan) yang terdapat dalam Q.S. Ali-Imran ayat 64. Konsep ini mengajak umat beragama yang berbeda-beda untuk duduk bersama mencari persamaan fundamental, yakni ketauhidan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab saat menafsirkan Q.S. Al-Baqarah ayat 256 menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam menganut agama. Kebebasan beragama adalah hak asasi kemanusiaan yang sangat dijunjung tinggi. Kedamaian dalam Islam tidak akan terwujud jika ada unsur paksaan atau kekerasan di dalamnya.

Reinterpretasi Hadis: Al-Ḥanīfiyyah As-Samḥah

Dalam ajaran Nabi Muhammad SAW, semangat dakwah yang merangkul keberagaman ini sangat jelas terlihat.

Dalam sebuah hadis, ketika Nabi ditanya mengenai agama apa yang paling dicintai oleh Allah, beliau menjawab: "Al-ḥanīfiyyah as-samḥah" (Agama yang lurus dan penuh toleransi/kelapangan).

Konsep as-samhah ini merepresentasikan sikap keagamaan yang tidak fanatik buta, melainkan penuh toleransi, lapang dada, dan tidak mendiskriminasi penganut keyakinan lain. Hal ini mencerminkan bahwa sejak awal, Islam sangat menerima perbedaan ras, suku, dan agama, serta menanamkan benih-benih inklusivisme dalam berinteraksi secara sosial.

Tantangan dan Strategi Dakwah Masa Kini

Menghadapi masyarakat yang heterogen di era digital saat ini, dakwah tidak lagi relevan jika disampaikan dengan narasi kebencian atau merendahkan keyakinan orang lain.

Strategi dakwah harus bertransformasi menjadi dakwah islahiyyah (dakwah perdamaian). Konsep ini menekankan pada upaya mendamaikan, mencari titik persaudaraan, dan menghindari segala bentuk perusakan atau pertikaian (al-ifsad) di tengah masyarakat.

Melalui kacamata perenialisme, pendakwah diajak untuk memandang pluralitas sebagai kekayaan. Kita didorong untuk tetap meyakini kebenaran akidah Islam secara utuh, namun di saat yang bersamaan, memiliki kebesaran hati untuk menghormati eksistensi agama lain secara damai dan beradab.

Mari jadikan dakwah sebagai jembatan yang menghubungkan persaudaraan kemanusiaan, bukan tembok yang memisahkan. Sebab pada hakikatnya, agama hadir untuk memanusiakan manusia dan membawa rahmat bagi semesta alam.