Konten dari Pengguna

Kaidah “Balagh”: Tugasmu Menyampaikan, Bukan Menang Pengakuan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bengkel sunyi Antonio Meucci menjadi simbol Kaidah Balagh: kejujuran ikhtiar menyampaikan di ruang temaram tanpa terobsesi pada panggung pengakuan dunia. Photo: Gemini Notebook
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bengkel sunyi Antonio Meucci menjadi simbol Kaidah Balagh: kejujuran ikhtiar menyampaikan di ruang temaram tanpa terobsesi pada panggung pengakuan dunia. Photo: Gemini Notebook

Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur pada diri sendiri: kalau kerja kita benar, sungguh-sungguh, dan bertahan bertahun-tahun tapi tetap kalah nama dari orang lain yang datang belakangan dengan sumber daya lebih besar apakah itu berarti kerja kita sia-sia?

Pertanyaan ini bukan pertanyaan filosofis kosong. Ada jawabannya, dan jawabannya datang dari kisah seorang imigran Italia bernama Antonio Meucci.

Orang yang Kalah Nama

Sekolah mengajarkan kita bahwa Alexander Graham Bell adalah penemu telepon. Yang jarang diceritakan: bertahun-tahun sebelum Bell mengajukan patennya, Meucci sudah membangun alat yang ia sebut teletrofono dikerjakan di ruang bawah rumahnya, sementara istrinya yang sakit terbaring di lantai atas. Tubuhnya sendiri pernah terbakar dalam sebuah kecelakaan. Ia bukan orang kaya. Ia tidak mengejar paten penuh, hanya mampu mengajukan caveat semacam pengajuan sementara yang jauh lebih murah, konon kurang dari 10 dolar setahun untuk diperpanjang.

Meucci gagal memperpanjangnya. Bell, dengan akses hukum dan modal yang lebih rapi, mengajukan paten penuh dan sejarah mencatat namanya.

Meucci sempat menuntut keadilan. Ia meninggal sebelum kasusnya selesai.

Barulah 113 tahun kemudian, pada 11 Juni 2002, Kongres Amerika Serikat mengesahkan House Resolution 269 sebuah resolusi yang “mengakui hidup dan karya” Meucci. Tapi baca baik-baik redaksinya: resolusi itu tidak pernah menyebut Meucci sebagai penemu telepon. Bell tidak dicopot gelarnya. Meucci hanya diberi tempat dan itu pun setengah.

Kaidah Lama untuk Dilema Modern

Saya kira ada satu kaidah dalam dakwah yang persis menjawab paradoks ini: maa ‘alaikum illal-balagh tugasmu hanyalah menyampaikan (QS. Al-Ma’idah: 99). Bukan menyampaikan-lalu-dikenal. Bukan menyampaikan-lalu-diakui. Hanya menyampaikan.

Kaidah ini sering diperlakukan sebagai penghibur bagi dai yang tidak viral. Tapi sebenarnya ia lebih tajam dari itu: ia sedang mengoreksi ukuran yang kita pakai untuk menilai keberhasilan.

Coba petakan ke kisah Meucci, satu per satu.

Meucci tidak bekerja demi paten atau kaya raya, ia bekerja karena persoalan yang ingin ia selesaikan itu nyata di depannya. Dalam dakwah, ini adalah soal niat: validitas sebuah dakwah tidak ditentukan oleh siapa yang akhirnya mengakuinya, tapi oleh maksud saat ia dilakukan.

Meucci bekerja di ruang bawah yang sunyi, sementara di atas ada orang sakit yang perlu dijaga. Sebagian besar dakwah yang paling berarti juga seperti itu, terjadi di majelis kecil, di pesan pribadi, di percakapan yang tidak pernah direkam siapa pun. Bukan di panggung yang ramai tepuk tangan.

Meucci kalah bukan karena idenya salah, tapi karena ia tidak punya sepuluh dolar untuk memperpanjang klaimnya setiap tahun. Ini poin yang menyakitkan tapi jujur: keterbatasan sumber daya dana, akses media, tim produksi, kemampuan bikin konten yang enak ditonton algoritma, bukan indikator kebenaran atau kualitas sebuah pesan. Panggung besar dan pesan yang benar adalah dua hal yang sering kita anggap satu paket, padahal tidak.

Kenyataan yang paling menohok: pengakuan atas Meucci baru datang lebih dari satu abad kemudian, itu pun tanggung. Kaidah balagh sebenarnya sudah lama mengajarkan ini, bahwa hasil dan pengakuan itu bukan wilayah yang harus dikejar habis-habisan oleh yang menyampaikan. Ada penyelesaian yang bukan urusan dunia.

Introspeksi yang Sering Kita Hindari

Tapi cerita ini jangan berhenti di rasa iba pada Meucci-Meucci yang tidak viral. Ada pertanyaan lebih menusuk yang perlu diajukan ke dalam: apakah kita para dai, konten kreator dakwah, siapa pun yang merasa sedang “menyampaikan” diam-diam sudah memakai ukuran ala Bell untuk menilai diri sendiri? Menghitung keberhasilan dari jumlah yang menonton, yang mengundang, yang menyebut nama kita, bukan dari kejujuran proses saat pesan itu disampaikan?

Algoritma hari ini punya kaidahnya sendiri, dan kaidah itu sering kali tidak peduli pada siapa yang paling sahih, ia peduli pada siapa yang paling piawai memainkan sistem: framing yang tepat, visual yang menarik, momentum yang pas. Ini bukan tuduhan bahwa strategi itu haram. Justru sebaliknya strategi dan visibilitas boleh, bahkan perlu, dikejar. Yang keliru adalah ketika strategi itu diam-diam naik jabatan, dari alat menjadi standar untuk menilai siapa yang benar-benar berkontribusi.

Neraca Mana yang Kita Pakai

Pemeran kehidupan mari kembali ke pertanyaan di awal: apakah kerja Meucci sia-sia?

Jawabannya tergantung neraca mana yang kita pakai untuk menimbangnya. Kalau neracanya adalah buku sejarah dan gelar resmi, jawabannya ya ia kalah, dan kekalahannya tidak pernah benar-benar dibayar lunas bahkan oleh resolusi kongres sekalipun.

Tapi kalau neracanya adalah kaidah balagh bahwa tugas kita memang hanya sampai pada menyampaikan maka pertanyaannya jadi tidak relevan lagi. Sebab yang pernah dikerjakan dengan sungguh-sungguh di ruang sunyi itu, tidak pernah benar-benar butuh nama besar untuk menjadi sah.