Ketika Dakwah Menakut-nakuti, Bagaimana Cinta Bisa Tumbuh?

Akademisi Bidang Dakwah dan Komunikasi Institut Agama Islam Negeri Parepare
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menimbang pesan Rabi'ah al-Adawiyah di tengah hiruk-pikuk zaman
Hidup hari ini serba cepat dan penuh tekanan. Harga kebutuhan naik, pekerjaan tidak menentu, dan kabar buruk datang silih berganti. Di tengah kecemasan itu, banyak orang mencari pegangan dan menemukannya dalam agama. Namun tidak sedikit yang justru bertemu dengan pesan agama yang membuat mereka semakin cemas: ancaman siksa di satu sisi, janji kesuksesan instan di sisi lain.
Di titik inilah kita perlu kembali pada seorang sufi perempuan dari Basrah, Rabi'ah al-Adawiyah. Doa yang dinisbatkan kepadanya berbunyi kurang lebih begini: bila ia beribadah karena takut neraka, ia minta dibakar di dalamnya; bila karena mengharap surga, ia minta dijauhkan darinya; namun bila karena cinta kepada Allah, ia memohon agar keindahan-Nya tidak ditutup baginya.
Pertanyaannya, apakah pesan ini masih relevan bagi kita hari ini?
Dakwah yang Terjebak Transaksi
Doa itu menawarkan tiga tingkat motivasi beribadah: takut, harap, dan cinta. Namun banyak dakwah hari ini berhenti di dua tingkat pertama. Ada konten yang menjual ancaman lewat kata “azab” dan “dosa”. Ada pula yang menjual iming-iming pahala instan, seperti rezeki lancar, jodoh cepat, dan hidup tenang. Keduanya laku karena mudah memancing atensi.
Akibatnya, ibadah bergeser menjadi hitung-hitungan untung-rugi. Audiens diperlakukan sebagai objek yang ditakuti atau dibujuk, bukan subjek yang diajak mengenal Tuhannya.
Persoalan ini bukan hanya soal isi, tetapi juga soal komunikasi. Pertama, dakwah di ruang digital umumnya berjalan satu arah. Pesan dilempar, dan ruang untuk bertanya atau merenung nyaris tidak ada. Kedua, algoritma media sosial lebih ramah pada konten yang sensasional daripada yang lembut. Pesan sufistik yang tenang mudah tenggelam oleh konten yang provokatif.
Ketiga, pesan cinta ilahi pun bisa mengalami nasib serupa. Kutipan sufistik yang indah sering hanya dinikmati sebagai kata-kata bijak, dikutip dan dikagumi tetapi tidak sampai mengubah perilaku. Keempat, soal otentisitas. Redaksi doa Rabi'ah ini diriwayatkan dalam banyak versi, sehingga dai dan penulis sebaiknya menelusuri sumbernya sebelum menyebarkannya.
Bukan Menolak Surga dan Neraka
Doa Rabi'ah juga sering disalahpahami. Ia tidak meniadakan surga dan neraka. Yang ia kritik adalah motivasi. Dalam tradisi tasawuf, para pengkaji mencatat bahwa Rabi'ah menaikkan tingkat khauf (takut) dan raja’ (harap) menjadi zuhud karena cinta keduanya tetap penting, tetapi bukan tujuan akhir, melainkan tangga menuju mahabbah (cinta ilahi) yang murni dan tanpa pamrih.
Cinta juga tidak bisa dipaksakan lewat ceramah. Ia tumbuh dari keteladanan, kasih sayang, dan pengalaman spiritual. Karena itu, dai perlu menyeimbangkan ketiganya, bukan sekadar mengganti ancaman dengan romantisme.
Penutup
Setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan. Pertama, dakwah perlu lebih banyak bercerita dan berdialog, bukan hanya menginstruksikan. Kedua, media digital dipakai secara reflektif, dengan konten yang mengajak orang berhenti dan berpikir, bukan sekadar terharu sesaat. Ketiga, dai menjadi teladan yang akhlaknya lebih dulu berbicara sebelum kata-katanya. Keempat, kejujuran sumber dan konteks kutipan dijaga.
Doa Rabi'ah meninggalkan pertanyaan yang layak diajukan kepada setiap pendakwah dan penerima dakwah: kita mengajak orang kepada apa, dan dengan cara apa? Bila pesannya cinta tetapi caranya ancaman, dakwah kehilangan konsistensinya.
Sumber Data
Abbas, St. A., & Nisa, A. (2023). Rabi'ah al-Adawiyah (Riwayat Hidup dan Konsep al-Mahabbah al-Ilahiyah). Ash-Shahabah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 8(1), 15–21. Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Makassar.
Suryani. (2019). Mahabbah dalam Tasawuf Rabi'ah al-Adawiyah. Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Alauddin Makassar.
Azisyah, A. S., dkk. Konsep Ma'rifatullah dalam Tasawuf Cinta Ilahi Abad ke-2 Hijriah: Studi atas Pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial.
Smith, M. (1928). Rabi'a the Mystic and Her Fellow-Saints in Islam. Cambridge: Cambridge University Press. (Edisi terjemahan: Rabi'ah: Pergulatan Spiritual Perempuan.)
Al-Qushayri, A. Q. A. (2007). Al-Risalah al-Qushayriyyah fi 'Ilm al-Tasawwuf (Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf). Jakarta: Pustaka Amani.
'Attar, F. al-Din. Tadhkirat al-Awliya' (Memoar Para Wali). Sumber riwayat hidup dan ucapan Rabi'ah al-Adawiyah yang banyak dirujuk penulis-penulis tasawuf setelahnya
