Konten dari Pengguna

Pramoedya Setara Dostoyevsky, tapi Sulit Kita Baca

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi memperlihatkan ironi intelektualisme kita lewat kontras visual antara rak buku sastra klasik dunia seperti Crime and Punishment karya Dostoyevskydan sosok Pramoedya Ananta Toer di depan mesin tik sederhana. Photo: Gemini Notebook
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memperlihatkan ironi intelektualisme kita lewat kontras visual antara rak buku sastra klasik dunia seperti Crime and Punishment karya Dostoyevskydan sosok Pramoedya Ananta Toer di depan mesin tik sederhana. Photo: Gemini Notebook

Ada satu kaidah fiqih yang sering dipakai di kalangan pesantren: al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wal akhdu bil jadid al-aslah menjaga tradisi lama yang baik, sambil mengambil hal baru yang lebih baik. Kaidah ini biasanya dipakai untuk bicara soal beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar. Tapi coba kita balik cermin ke diri sendiri: jangan-jangan separuh kaidah ini yang sering kita lupakan?

Coba tanya orang di sekitarmu: pernah baca 1984 karya George Orwell? Atau Crime and Punishment-nya Dostoyevsky? Kemungkinan besar jawabannya "pernah dengar" atau bahkan sudah baca. Buku-buku ini gampang ditemukan di toko buku, dicetak ulang berkali-kali, dan jadi bacaan wajib di banyak kurikulum sastra dunia inilah "jadid al-aslah" yang kita ambil dengan sangat lancar.

Sekarang coba tanya hal yang sama soal Arus Balik atau Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer penulis yang berkali-kali masuk daftar nominasi Nobel Sastra, karyanya diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa, dan diakui sebagai salah satu penulis terbesar Asia Tenggara abad ke-20. Jawabannya sering kali: "belum pernah baca," atau "susah nyarinya." Inilah "qadim al-shalih" yang justru gagal kita jaga.

Di sinilah ironinya. Karya yang levelnya sejajar dengan sastra besar dunia, justru lebih sulit diakses oleh anak bangsanya sendiri dibanding karya-karya asing.

Pramoedya: Diakui Dunia, Terasing di Rumah Sendiri

Pramoedya Ananta Toer menghasilkan lebih dari 50 karya tulis sepanjang hidupnya novel, esai, hingga karya sejarah. Ia menerima berbagai penghargaan internasional, termasuk Ramon Magsaysay Award dan Wertheim Award. Namanya disebut-sebut dunia sebagai salah satu penulis terpenting dari kawasan ini.

Tapi di dalam negeri, jalan karya-karyanya jauh lebih berliku. Sebagian sempat dilarang beredar. Cetakan-cetakan barunya tidak semasif novel-novel terjemahan yang mengisi rak "buku wajib baca" di toko buku besar. Hasilnya, banyak generasi muda Indonesia lebih akrab dengan tokoh-tokoh sastra Barat ketimbang karya penulis bangsanya sendiri yang levelnya setara.

Dua Novel, Dua Babak Sejarah Nusantara

Menariknya, dua karya Pramoedya yang kurang populer justru menyimpan kekayaan sejarah yang jarang dibahas secara luas.

Arus Balik mengangkat latar runtuhnya Majapahit dan masuknya Portugis ke Malaka pada awal abad ke-16 periode ketika dominasi maritim Nusantara mulai bergeser akibat konflik internal dan tekanan kolonialisme Eropa. Novel ini bukan sekadar fiksi sejarah, tapi refleksi tentang bagaimana sebuah peradaban besar bisa kehilangan kendali atas lautnya sendiri.

Arok Dedes membawa pembaca lebih jauh ke belakang, ke abad ke-13, mengisahkan intrik politik dan perebutan kekuasaan yang melahirkan Kerajaan Singasari. Ceritanya soal ambisi, pengkhianatan, dan kekuasaan tema yang, jujur saja, tidak pernah kedaluwarsa dalam sejarah manusia mana pun.

Dua novel ini membuktikan: kualitas naratif dan kedalaman riset sejarah Pramoedya tidak kalah dari karya-karya epik sejarah dunia mana pun.

The Mute's Soliloquy: Ketika Fiksi Berhenti, Kenyataan Bicara

Ada satu karya Pramoedya yang berbeda dari yang lain: The Mute's Soliloquy. Ini bukan novel, melainkan memoar kisah nyata yang ia alami sendiri selama menjalani masa tahanan politik di Pulau Buru antara 1969 hingga 1979.

Buku ini penting karena memberi konteks pada seluruh karya besarnya yang lain: sebagian karya paling monumental Pramoedya, termasuk Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), justru lahir dalam kondisi keterbatasan luar biasa ditulis dan diceritakan secara lisan kepada sesama tahanan sebelum akhirnya bisa dibukukan.

Pola yang Sama Terulang di Bidang Lain: Dakwah dan Komunikasi

Kaidah al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wal akhdu bil jadid al-aslah sebenarnya lahir dari tradisi keilmuan Islam, dan mestinya paling akrab justru di kalangan dakwah dan komunikasi. Tapi ironisnya, di bidang inilah pola yang sama terulang.

Coba perhatikan: mahasiswa ilmu komunikasi hari ini hafal di luar kepala model komunikasi Lasswell, teori Shannon-Weaver, atau Uses and Gratifications. Semua itu penting dan memang jadi fondasi keilmuan global ini "jadid al-aslah" yang sah-sah saja diambil. Tapi berapa banyak yang dikenalkan secara serius pada kerangka komunikasi dari khazanah sendiri misalnya konsep qaulan dalam Al-Quran (qaulan sadidan, qaulan baligha, qaulan layyina, dan seterusnya), yang sebenarnya menawarkan kerangka etika dan strategi komunikasi yang utuh?

Pemikir dan praktisi dakwah lokal dari metode akulturasi budaya Wali Songo hingga pemikiran tokoh-tokoh seperti Hamka atau Quraish Shihab sering kali hanya diposisikan sebagai "pelengkap" atau bahan studi kasus, bukan sebagai kerangka berpikir utama dalam kurikulum. Manuskrip dan kitab dakwah klasik Nusantara pun bernasib mirip karya Pramoedya: ada, tapi jarang dicetak ulang, minim didigitalisasi, dan nyaris tidak masuk dalam pembahasan akademik secara serius. Padahal inilah "qadim al-shalih" yang justru paling banyak kita lupakan menjaganya.

Kenapa Pola Ini Bisa Terjadi?

Ada beberapa benang merah yang menghubungkan kasus Pramoedya dengan kondisi keilmuan dakwah dan komunikasi hari ini:

Pertama, ada bias akademik yang menganggap teori dan karya Barat lebih "ilmiah" dan universal, sementara khazanah lokal dianggap terlalu partikular, kurang sistematis, atau kurang "layak" dijadikan rujukan teori utama.

Kedua, minimnya insentif untuk menerbitkan ulang dan mengemas ulang karya-karya lokal ke dalam bentuk yang mudah diajarkan dan diakses generasi sekarang.

Ketiga, ada warisan sejarah represi politik seperti yang dialami langsung oleh Pramoedya yang membuat sebagian karya dan pemikiran lokal sempat terputus dari ruang publik selama bertahun-tahun.

Kenapa Ini Penting Hari Ini

Dakwah kontemporer membutuhkan kerangka komunikasi yang kontekstual dengan budaya dan realitas sosial Indonesia bukan sekadar mengimpor teori tanpa mengakarkannya pada pengetahuan lokal. Ketika generasi dai dan praktisi komunikasi hanya memahami teori Barat tanpa mengenal epistemologi dan kearifan lokal, dakwah berisiko kehilangan "kedekatan" dengan realitas masyarakat yang ingin disentuhnya.

Begitu juga dengan sastra. Karya Pramoedya bukan sekadar bacaan sastra, tapi juga arsip pemikiran, sejarah, dan identitas bangsa. Kalau generasi sekarang lebih akrab dengan Orwell dan Dostoyevsky ketimbang Pramoedya, ada sesuatu yang hilang dalam proses membangun kesadaran sejarah dan identitas kolektif kita sendiri.

Menghidupkan Kembali Separuh Kaidah yang Terlupakan

Selama ini kita cukup piawai menjalankan separuh kaidah al-akhdu bil jadid al-aslah mengambil hal baru yang lebih baik, entah itu teori komunikasi Barat atau novel-novel terjemahan. Tapi separuh lainnya, al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih, menjaga tradisi lama yang baik, justru sering kita lewatkan begitu saja.

Baik karya sastra Pramoedya maupun khazanah keilmuan dakwah dan komunikasi lokal, keduanya sama-sama menanti giliran untuk dijaga, diterbitkan ulang, didigitalisasi, dan dijadikan kerangka berpikir utama bukan sekadar catatan kaki. Karena pada akhirnya, karya besar yang hanya jadi nama besar tanpa benar-benar dibaca dan dipelajari generasi bangsanya sendiri, adalah kerugian yang jauh lebih besar dari sekadar rak buku yang sepi.