Konten dari Pengguna

Saat Dunia Terasa Hambar: Kritik Imam Al-Bushiri terhadap Budaya Pemujaan Materi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Sebuah karya seni editorial yang membenturkan dua realitas kehidupan: perenungan spiritual sosok yang bertafakur dalam pendaran cahaya emas dan ornamen manuskrip klasik ajaran Imam Al-Bushiri, melebur langsung dengan dinginnya pendaran layar smartphone serta pernak-pernik media sosial yang melambangkan hampanya pemujaan materi di era digital. Photo: Gemini Notebook
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Sebuah karya seni editorial yang membenturkan dua realitas kehidupan: perenungan spiritual sosok yang bertafakur dalam pendaran cahaya emas dan ornamen manuskrip klasik ajaran Imam Al-Bushiri, melebur langsung dengan dinginnya pendaran layar smartphone serta pernak-pernik media sosial yang melambangkan hampanya pemujaan materi di era digital. Photo: Gemini Notebook

Di era di mana kesuksesan sering kali diukur dari estetikanya sebuah unggahan di media sosial, atau seberapa sering kita melakukan "Log In" untuk memamerkan pencapaian materi , kita seolah terjebak dalam pengejaran kenikmatan yang tanpa akhir. Namun, berabad-abad lalu, Imam Al-Bushiri melalui mahakaryanya, Qasidah Burdah, sudah memberikan peringatan keras: kenikmatan materi itu fana, dan ada cinta yang jauh lebih tinggi yang mampu membuat segala kemewahan dunia terasa "hambar".

Filosofi "Kenikmatan yang Terhalangi"

Dalam salah satu baitnya yang fundamental, Al-Bushiri menuliskan: "Wal hubbu ya’taridul ladzdzati bil alami", yang berarti rasa cinta (kepada Rasulullah) mampu menghalangi atau menjadikan perkara-perkara yang seharusnya enak terasa tidak nikmat karena rasa rindu yang mendalam.

Ini adalah kritik tajam bagi gaya hidup hedonisme masa kini. Jika hari ini banyak orang merasa haus akan validasi melalui makanan mewah, pakaian branded, atau tempat tidur empuk, Al-Bushiri menggambarkan bahwa bagi seorang pecinta sejati, semua itu tidak ada artinya . Beliau mengibaratkan dirinya seperti orang yang sedang merantau dan terjebak rindu (LDR); meski disuguhi makanan lezat, lidahnya terasa kelu karena hatinya tidak berada di sana

Belajar dari Suhaib Arumi: Materi Bukan Segalanya

Kritik sosial terhadap pemujaan materi ini dipertegas dengan kisah sahabat Nabi, Suhaib Arumi, yang dikutip dalam kajian tersebut. Suhaib adalah seorang saudagar kaya raya di Makkah. Namun, ketika ia ingin menyusul Rasulullah hijrah ke Madinah, kaum kafir Quraisy merampas seluruh hartanya.

Tanpa ragu, Suhaib merelakan seluruh kekayaan yang telah ia kumpulkan bertahun-tahun demi cinta dan kesetiaannya kepada Nabi. Ini adalah tamparan bagi kita yang sering kali merasa "sayang" untuk berbagi atau melepaskan ego materi demi nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual yang lebih besar. Bagi Al-Bushiri dan para sahabat, materi hanyalah alat, bukan tujuan akhir yang harus dipuja.

Cinta "Mati" vs Pemujaan Diri

Al-Bushiri memperkenalkan konsep Al-Hawa Al-Udri, sebuah model cinta dari kabilah Bani Udrah yang sangat totalitas dan serius, bahkan disebut sebagai "cinta mati". Dalam konteks hari ini, cinta semacam ini adalah antitesis dari budaya narsisme digital.

Saat banyak orang sibuk memuja diri sendiri di depan kamera, Al-Bushiri justru menunjukkan pengorbanan hingga raga jatuh sakit dan berat badan menurun karena memikirkan sesuatu yang lebih agung dari sekadar kenyamanan fisik. Beliau bahkan mengabaikan "nasihat dari uban" sebuah simbol peringatan usia dan logika duniawi karena fokusnya sudah tidak lagi pada urusan material, melainkan pada kerinduan spiritual yang tak terbendung.

Menemukan Kembali Makna "Cukup"

Pesan Imam Al-Bushiri dalam Qasidah Burdah mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pencitraan materi. Beliau mengingatkan bahwa setinggi apa pun pujian manusia atau sebanyak apa pun harta yang kita pamerkan, itu semua tidak akan sebanding dengan keagungan nilai spiritual yang sejati

Di dunia yang serba "Log In" dan "Sign Up" ini, mungkin sudah saatnya kita belajar untuk merasa "hambar" terhadap gemerlap duniawi, agar kita bisa merasakan manisnya ketulusan dan kedalaman hati yang selama ini terabaikan.