Konten dari Pengguna

Analisis Kontrol Diri Pada Anak dengan Gejala Hiperaktivitas

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muthia Afifa Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak tidak fokus saat belajar (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak tidak fokus saat belajar (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/)

Pernah gak sih liat anak yang aktif banget sering lari-larian atau mencoba ini-itu? Orang-orang mungkin berpikir anak tersebut nakal, namun tahukah kamu bahwa hal tersebut bisa jadi adalah gejala ADHD? Nah sekarang mungkin kamu bertanya-tanya, apasih ADHD itu? Yuk kita ketahui lebih lanjut!

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan hiperaktivitas yang berkaitan erat dengan lemahnya fungsi eksekutif otak yang berperan dalam pengendalian diri. Anak dengan diagnosis ADHD menunjukkan kesulitan dalam menahan dorongan respon impulsif dan mempertahankan perhatian dalam jangka waktu tertentu. Hal tersebut menyebabkan anak sering bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi perilakunya.

Tidak hanya dalam hal bermain, kontrol diri pada anak hiperaktif juga dapat mempengaruhi perkembangan sosial, akademik, maupun sosial anak. Anak dengan control diri yang rendah akan merasa kesulitan untuk belajar dengan tingkat fokus yang tinggi, serta rentan mengalami masalah perilaku dengan lingkungan sekitarnya.

Kontrol diri pada anak berkembang dengan melalui beberapa tahap, yaitu interaksi sosial, pola asuh, dan kematangan fungsi kognitif. Anak yang memiliki kontrol diri yang baik seharusnya mampu menerapkannya pada hal-hal kecil seperti mengendalikan emosi, mengikuti instruksi, focus terhadap tugas, dan menahan perilaku agresif. Sebaliknya, anak dengan gangguan ADHD merasa kesulitan unruk mengatur tindakan merekan dan cenderung melakukan perilaku impulsif.

Selain kesulitan mengkontrol dirinya, gejala hiperaktivitas tersebut juga membuat anak sulit untuk berkonsentrasi sehingga ia merasa gelisah jika harus menahan impulsivitas dalam dirinya. Akibatnya, ia akan menyalurkan kegelisahannya tersebut dengan sering bergerak berlebihan, berbicara terus-menerus, bahkan mengganggu orang di sekitarnya.

Karena kemampuan konsentrasinya yang rendah, anak dengan ADHD akan kesulitan fokus saat pelajaran di sekolah yang menyebabkan kemampuan akademik yang tidak sesuai dengan target jenjangnya. Anak juga akan mudah frustasi karena kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku, akibatnya ia akan mudah marah, sulit bekerja sama dengan teman seusianya, bahkan sering memunculkan perilaku agresif.

Namun gejala dan diagnosis ADHD tersebut tidak muncul begitu saja melainkan dipengaruhi oleh faktor biologis yang berasal dari dalam dirinya. Anak yang memiliki gejala hiperaktivitas umumnya mengalami gangguan bawaan pada fungsi eksekutif otak terutama pada bagian prefrontal cortex yang berperan dalam pengaturan emosi, perhatian dan pengendalian impuls.

Selain biologis, terdapat pula faktor pola asuh orang tua dan lingkungan sosial. Kedua hal tersebut memiliki peran cukup banyak dari faktor eksternal. Pola asuh sangat mempengaruhi tumbuh kembang dan perkembangan control diri anak seiring bertambahnya usia. Orang tua yang memberikan perhatian lebih untuk anak yang terdiagnosis ADHD akan cenderung memberikan pengawasan yang konsisten untuk membantu sang anak mengendalikan perilaku, sedangkan jika anak tersebut tidak memiliki orang tua yang cukup perhatian ia akan merasa kesulitan dan tidak biasa dalam mengontrol perilakunya.

Gangguan hiperaktivitas ini berdampak pada beberapa hal bagi anak, di antaranya adalah kesulitan akademik, masalah sosial dan gangguan emosional. Jika tidak ada bentuk intervensi lanjutan yang diberikan, perkembangan biologis maupun sosialnya akan terhambat bahkan memunculkan permasalahan yang semakin kompleks saat ia semakin dewasa.

Oleh karena itu, perlu perhatian dan penanganan lebih untuk anak dengan kondisi adhd tepat saat ia telah terdiagnosis. Baik orang tua maupun guru perlu bersinergi mencari intervensi terbaik untuk diberikan kepada sang anak. Salah satu cara yang dapat orang tua terapkan adalah pemberian pola asuh yang jelas dan konsisten sehingga sang anak secara perlahan mampu mengontrol dirinya. Jika diperlukan, orang tua juga dapat mencari psikolog ataupun terapis untuk melatih fungsi eksekutif pada anak.

________________________________________________

Oleh: Muthia Afifa Ahmad dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.