Berkunjung ke Pesantren Darul Abror: Tempat Aku Pernah Tumbuh

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Afifah Bekti Nuraisyiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada tempat-tempat yang tidak hanya kita datangi, tapi juga ikut membentuk siapa diri kita hari ini. Buatku, Pondok Pesantren Darul Abror, di Kedungjati, Bukateja, Purbalingga, adalah salah satu tempat yang mampu membentuk diri.
Beberapa waktu lalu, aku kembali berkunjung ke sana. Sekedar melihat-lihat, menyapa para pengasuh, dan menyerap suasana yang dulu begitu akrab. Tapi, pesantren tidak pernah menyambutku hanya dengan seperlunya. Ia menyambutku dengan hangatnya kenangan, memori masa remaja, dan perasaan pulang yang tak bisa dijelaskan.
Hidup di pesantren itu penuh disiplin. Setiap waktu salat wajib, semua santri harus ikut salat berjamaah. Mandi harus ngantri, kadang harus bangun lebih awal agar tidak terlambat, atau malah memilih ngga mandi di pagi hari. Makan dijadwal, teratur dan serempak. Jadwal harian terasa padat, tapi justru dari situlah kami belajar tanggung jawab dan kebersamaan.
Kegiatan ngaji bukan sekadar membaca Al-Qur’an. Ada juga hafalan surat, hafalan kitab kuning, dan setoran setiap pekan. Semua dilakukan beriringan dengan kegiatan sekolah formal seperti biasa. Pagi-pagi berangkat sekolah, siangnya kembali ke pondok untuk ngaji, dan malamnya masih setor hafalan. Capek? Iya. Tapi juga penuh makna dan memori.
Namun, ada satu momen paling ditunggu oleh para santri disini: Jumat pagi. Hari libur yang tak diisi untuk tidur-tiduran, melainkan saatnya kami bisa keluar pondok untuk membeli keperluan mingguan, dan tentu saja, memenuhi titipan teman-teman dari bakso tusuk, ayam krispi, bola salju, sampai capcin yang dinginnya seperti hadiah kecil setelah sepekan penuh kegiatan.
Kami biasa meminjam sepeda dari tetangga, atau jika tak kebagian, kami berjalan kaki bersama. Berangkat berkelompok, satu kamar bisa tiga sampai empat orang, saling bonceng dan bercanda di sepanjang jalan. Capek? Jelas. Tapi bahagianya tak tergantikan.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, kunjungan singkat itu membawa pulang banyak hal yang dulu sempat terkubur oleh kesibukan. Ternyata, tempat kecil di desa ini pernah mendidikku tentang hidup, kesederhanaan, tanggung jawab, dan arti kebersamaan.
