Konten dari Pengguna

Senja dan Sunyi di Wisata Pantai Widara Payung, Cilacap

Afifah Bekti Nuraisyiyah

Afifah Bekti Nuraisyiyah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afifah Bekti Nuraisyiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ngabuburit yang Bukan Sekadar Menunggu Maghrib

foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
foto pribadi

Langit mulai meremang saat kaki ini menginjak pasir basah di tepi Pantai Widara Payung, Cilacap. Angin laut menghembus perlahan, membawa aroma asin dan damai yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Ombak datang silih berganti, seakan ikut menghitung waktu menuju azan Maghrib.

Kala Ramadan, ngabuburit di pantai bukan hanya tentang menunggu berbuka. Ini tentang menenangkan diri, menyendiri sejenak dari riuh dunia, dan menikmati karya alam yang agung. Laut menjadi cermin langit senja, dan di balik langit keperakan itu, kita disadarkan: betapa banyak hal yang patut disyukuri.

foto pribadi

Aku berdiri di sana, ditemani pantulan cahaya keemasan yang menari di permukaan air. Tak ada musik, tak ada keramaian, hanya desir angin dan gemuruh ombak yang menjadi lantunan dzikir alam.

Di bulan ramadhan, pantai bukan hanya tempat melepas penat. Ia adalah ruang kontemplasi, tempat menyelaraskan hati sebelum kembali ke rutinitas esok hari.Ramadan, laut, dan senja. Tiga elemen yang menyatu dalam momen sederhana, namun begitu membekas dalam ingatan.