Konten dari Pengguna

Dari Menimbun ke Merelakan: YONO (You Only Need One) Menjadi Antitetis Hoarding

Afifah Rachmalia Azzhara

Afifah Rachmalia Azzhara

Mahasiswa S1 Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afifah Rachmalia Azzhara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada dasarnya seseorang akan membeli atau menggunakan sesuatu sesuai dengan apa yang dibutuhan. Seperti pengertian dari perilaku konsumen, yakni perilaku individu atau kelompok yang dilakukan dengan tujuan memenuhi kebutuhan diri sendiri atau kelompok, tetapi tidak digunakan untuk hal lainnya seperti dijual belikan lagi. Pada faktanya banyak orang yang menggunakan dan membeli barang tidak berdasarkan apa yang mereka butuhkan, tetapi berdasarkan apa yang mereka inginkan. Hal ini bisa menyebabkan fenomena penimbunan barang yang menyebabkan rumah sesak akibat banyaknya barang. Penimbunan barang ini nantinya tidak hanya akan menjadi suatu kebiasaan buruk, tetapi juga bisa menjadi gangguan psikologi yakni hoarding disorder.

Hoarding disorder merupakan perilaku penimbunan barang dengan alasan barang tersebut akan berguna di kemudia hari, mengingatkan akan suatu hal, atau merasa tenang ketika benda tersebut ada di sekitar. Hoarding disorder ini bukan fenomena penumpukan barang biasa, tetapi bisa jadi terjadi dengan ekstrem. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-5), kondisi penumpukan barang ini bisa mengakibatkan banyak hal yang tentunya mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti ruang gerak, relasi sosial, dan kesehatan fisik. Seperti berita penderita hoarding disorder digerebek ibu kos yang berlokasi di Pondok Gede, Bekasi. Hal ini tentunya tidak hanya merugikan diri sendiri melainkan juga orang lain. Oleh karena itu diperlukannya suatu cara yang bisa membuat diri tidak melakukan penimbunan barang, yaitu dengan YONO.

YONO (You Only Need One) muncul sebagai prinsip hidup sederhana di tengah derasnya arus konsumtif atau penimpunan barang, yang bisa jadi seiring berjalannya waktu menjadi hoarding disorder. Filosofi YONO mengajak manusia menjalankan hidup dengan penuh kesadaran (mindfulnes). Dalam hidup yang dipenuhi banyak pilihan, YONO menawarkan ketenangan lewat pengurangan. Hoarding disorder dan YONO merupakan dua hal yang saling bertolak belakang. Hoarding disorder terkait penimbunan, sedangkan YONO terkait pelepasan. Terlepas dari hal tersebut, ternyata YONO bisa menjadi antitetis dari hoarding disorder, serta bisa membuka wawasan tentang potensi penyembuhan melalui hidup yang lebih sadar dan sederhana.

canva.com

Pada kasus yang sempat ramai di media sosial yakni ibu kos yang mengerebek penghuni kamar kos di Pondok Gede, Bekasi. Alasan yang melatarbelakangi hal tersebut yaitu adanya bau menyengat yang berasal dari sana. Setelah membuka kamar, didapatkan kondisi kamar sudah penuh dengan sampah dan barang-barang yang berserakan. Hal ini tentunya menyebabkan kerugian besar bagi pemilik kos. Karena hal tersebut, banyak yang menduga penghuni kos mengidap hoarding disorder.

Hoarding disorder menjadi dugaan orang-orang yang ada di media sosial karena memang memenuhi ciri-ciri, meskipun tidak bisa langsung disimpulkan. Kriteria hoarding disorder pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DMS-5), yaitu sebagai berikut:

  1. Merasa sulit untuk membuat barang yang sudah tidak digunakan atau diperlukan.

  2. Memiliki keinginan untuk menimbun banyak barang.

  3. Tempat tinggal penuh dengan barang yang bisa saja membahayakan diri dalam aspek keselamatan dan kesehatan.

  4. Barang yang ditimbun menyebabkan masalah lingkungan dan sosial

  5. Kebiasaan menimbun barang tidak ada kaitannya dengan adanya gangguan kesehatan lain.

Kondisi ini tidak hanya berat bagi pengidap, tetapi bisa juga memberatkan orang disekitarnya. Oleh karena itu, diperlukannya pengobatan untuk pengidap hoarding disorder. Hoarding disorder dapat diobati dengan konsumsi obat-obatan dan psikoterapi dari dokter, yang tentunya melibatkan orang terdekat. Selain kedua hal tersebut, ada cara yang bisa digunakan untuk membantu proses pemulihan atau untuk pengidap hoarding disorder ringan, cara tersebut yaitu YONO (You Only Need One).

YONO merupakan gagasan hidup dengan cukup. Prinsip ini menyarakan agar seseorang memiliki satu versi dari setiap barang yang dibutuhkan, seperti satu gawai, satu kendaraan, dan satu sepatu serbaguna. YONO ini bukan prinsip yang membatasi diri secara ekstrem, melainkan soal mengutamakan adanya pertimbangan kualitas, fungonalitas, dan hubungan sehat dengan benda. Prinsip ini lahir sebagai respon dari gaya hidup tanpa batas, yang mengakibatkan membeli apapun yang diinginkan, sehingga menyebabkan kekacauan ruang akibat penimbunan barang. YONO memiliki hubungan yang erat dengan mindfulness, yakni terkait kesadaran dan penerimaan.

Mindfulness merupakan keadaan dimana seseorang memiliki kesadaran penuh pada diri sendiri dan juga hadir utuh. Tidak hanya kesadaran, mindfulness juga terkait penerimaan yang berarti kemampuan untuk melihat dan menerima. Mindfulness berkaitan dengan YONO yaitu pada saat mengelola kebutuhan atau keinginan, yaitu kesadaran dan fokus pada saat mancari alasan apakah barang yang akan dibeli ini adalah kebutuhan atau sekadar keinginan. Hal ini juga dibutuhkan pada saat menerapkan prinsip YONO yang lainnya, seperti:

  1. Membeli barang yang benar-benar diperlukan, bukan membeli barang untuk memenuhi kebutuhan sosial atau ikut trend.

  2. Membeli barang dengan mempertimbangkan kualitas yang tinggi untuk penggunaan jangka panjang, bukan yang murah tapi kualitas buruk dan tidak bisa untuk jangka panjang.

  3. Menerapkan hidup sederhana dan tetap teratur, artinya sedikit barang yang dimiliki maka hidup akan semakin ringan dan lebih mudah untuk diatur.

Hoarding dan YONO adalah dua pendekatan berbeda terhadap kepemilikan. Namun lebih dalam, keduanya mencerminkan dua cara berpikir yang saling bertolak belakang. Hoarding didasari oleh rasa takut kekurangan, ketidakmampuan melepaskan, dan kebutuhan untuk merasa aman lewat barang. Sementara YONO lahir dari kesadaran bahwa cukup adalah cukup. YONO mengajarkan keberanian untuk memilih, melepaskan, dan percaya bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh jumlah barang yang dimiliki. Dari perspektif psikologis, YONO bisa menjadi pendekatan preventif terhadap perilaku menimbun ringan atau sebagai bagian dari strategi pemulihan dalam kasus hoarding yang belum berat. Ia memberi kerangka pikir baru yang lebih tenang dan terstruktur dalam memandang benda: bukan sebagai sumber rasa aman, melainkan alat penunjang fungsi hidup.

Meski YONO tidak dapat menggantikan terapi profesional bagi penderita hoarding disorder berat, ia tetap dapat menjadi prinsip pendukung yang aplikatif. Beberapa strategi sederhana meliputi:

1. “One in, one out rule”: setiap kali membeli barang baru, harus ada satu barang lama yang dilepas.

2. Refleksi kebutuhan vs. keinginan: membuat jurnal barang dan mengevaluasi alasan memilikinya.

3. Visualisasi ruang kosong sebagai nilai: mulai melihat ‘kosong’ bukan sebagai kekurangan, tetapi sebagai potensi.

4. Latihan letting go secara bertahap: mulai dengan barang yang minim nilai emosional, seperti kwitansi lama, hingga berlanjut ke barang-barang dengan ikatan lebih kuat.

Dalam jangka panjang, penerapan prinsip ini bisa menumbuhkan rasa lega dan kendali diri, yang termasuk dua hal yang sering hilang dalam hidup penderita hoarding.

Tetapi, tidak semua orang bisa serta-merta menjalani YONO, terlebih bagi mereka yang memiliki latar belakang trauma atau kecemasan tinggi yang berkaitan dengan hoarding. Selain itu, penerapan YONO yang terlalu kaku juga bisa memicu tekanan baru atau perasaan bersalah jika ‘gagal’ hidup minimalis. Oleh karena itu, pendekatan ini harus lentur, penuh empati, dan dikombinasikan dengan dukungan emosional, baik dari lingkungan maupun tenaga profesional.

Kesimpulan

Hoarding disorder merupakan gangguan yang ditandai dengan kecenderungan untuk menimbun barang secara berlebihan, yang sering kali tidak dilandasi oleh kebutuhan nyata, melainkan rasa takut kekurangan, keterikatan emosional, atau dorongan untuk merasa aman. Perilaku ini bisa menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar, seperti yang tampak dalam kasus penimbunan barang di sebuah kamar kos di Pondok Gede. Gangguan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan hidup, tetapi juga berdampak pada relasi sosial, kesehatan, dan keselamatan. Penanganan hoarding disorder memerlukan pendekatan profesional, namun kesadaran diri juga menjadi elemen penting dalam proses pemulihan.

Dalam konteks ini, prinsip YONO (You Only Need One) hadir sebagai pendekatan hidup yang sederhana namun bermakna. Dengan mengedepankan mindfulness, yaitu kesadaran penuh atas apa yang dibutuhkan dan kemampuan untuk membedakan kebutuhan dari keinginan, YONO mendorong seseorang untuk hidup cukup, teratur, dan tidak berlebihan. Melalui prinsip ini, individu diajak untuk membangun hubungan yang sehat dengan barang-barang yang dimiliki serta melepaskan keterikatan yang tidak perlu. Meskipun tidak bisa menggantikan terapi, YONO dapat menjadi langkah preventif maupun pendukung dalam menciptakan kehidupan yang lebih ringan, sadar, dan seimbang secara emosional.

Daftar Pustaka

admineastpro. (2025, March 11). YONO (You Only Need One): The New Lifestyle Trend of Gen Z. Retrieved from Citra Mandiri Kreatif: https://citra-mandiri-kreatif.com/en/blog/yono-(you-only-need-one):-the-new-lifestyle-trend-of-gen-z

detikcom. (2024, July 17). Penghuni yang Viral Digerebek Ibu Kos Diduga Idap Hoarding Disorder, Apa Itu? Retrieved from detikproperti: https://www.detik.com/properti/berita/d-7443421/penghuni-yang-viral-digerebek-ibu-kos-diduga-idap-hoarding-disorder-apa-itu

Hoshaw, C. (2022, March 29). What is Mindfulness? A Simple Practice for Greater Well-being. Retrieved from healthline: https://www.healthline.com/health/mind-body/what-is-mindfulness

Maulana, M. I. (2022). Perilaku Panic Buying dan Peninbunan Barang oleh Konsumen pada Masa Pandemi Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Yayasan Tinggi llmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara.