Segitiga Emas Pengabdian oleh Mahasiswa sebagai Kunci Sukses Akselerasi SDGs

Mahasiswa S1 Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Afifah Rachmalia Azzhara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Mahasiswa adalah agen perubahan”, kata inilah yang sering ditujukan pada mahasiswa. Tapi, bagaimana langkah nyata mahasiswa sebagai agen perubahan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)?

Setiap tahun, ribuan mahasiswa turun ke desa untuk mengabdi. Mahasiswa datang dengan semangat untuk "membangun desa". Tapi, mari kita jujur, apakah program yang dibawakan ini benar-benar berlanjut? Atau, apakah ini hanya sebatas pasang plang nama dan foto bersama, lalu dilupakan begitu saja?
Sebenarnya, banyak program gagal bukan karena niatnya yang kurang, tapi karena caranya yang terpecah-pecah. Kita terbiasa bekerja di ranah kita masing-masing. Aktivis sibuk berdiskusi, akademisi sibuk meneliti, dan tim di lapangan sibuk berkerja sendiri. Kesimpulannya mereka tidak terhubung.
Padahal, agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah diusung adalah masalah kompleks yang saling berkaitan. Menurut PBB (2015), kemiskinan (SDG 1) tidak bisa dipisahkan dari pendidikan (SDG 4), kesehatan (SDG 3), dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8).
Berdasarkan pengalaman saya memegang tiga peran yang berbeda, saya percaya bahwa mahasiswa adalah kunci akselerasi SDGs. Kuncinya ada pada kemampuan kita untuk menyatukan "Segitiga Emas" pengabdian: idealisme Organisasi, metodologi Akademisi, dan realisme Eksekutor Lapangan.
Pilar pertama adalah Organisasi (Mahasiswa sebagai Idealis). Dalam peran saya di Organisasi, yakni staf ahli Kementerian Sosial dan Lingkungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), saya belajar bahwa organisasi mahasiswa adalah sensor moral kampus. Kami memiliki semangat besar untuk mengadvokasi isu-isu lingkungan dan sosial. Sayangnya, idealisme ini seringkali naif. Program kami didiskusikan dan dirancang sebagaimana rupanya di kampus, tanpa benar-benar memahami kenyataan di lapangan yang mungkin saja berbeda dari apa yang telah direncanakan.
Di sinilah pilar kedua berperan: Akademisi (Mahasiswa sebagai Analis). Sebagai Asisten Dosen Pengabdian Masyarakat, saya "dipaksa" berpikir sistematis. Kami tidak lagi bertanya "apa yang ingin kami lakukan?", tetapi "apa akar masalahnya?". Bank Dunia (2002), menekankan pentingnya pendekatan partisipatif, di mana program dirancang bersama warga, bukan untuk warga. Peran akademisi adalah membawa metodologi, seperti pemetaan sosial atau asset-based community development. Hal ini ada untuk memastikan program kita berbasis data, bukan asumsi.
Namun, idealisme dan metodologi akan lumpuh tanpa pilar ketiga: Eksekutor Lapangan (Mahasiswa sebagai Praktisi). Ini adalah peran terberat karena harus benar-benar merealisasikan apa yang telah dirancang. Sebagai Ketua Pelaksana program pengabdian, saya belajar bahwa di sinilah kenyataan diuji. Rencana metodologis yang sempurna bisa hancur oleh satu tokoh masyarakat yang menolak. Kunci di sini adalah adaptasi, negosiasi, dan membangun kepercayaan. Tanpa visi (Organisasi) dan metode (Akademisi), seorang eksekutor hanya akan sibuk mengurus masalah dadakan tanpa arah yang jelas.
Lalu, bagaimana "Segitiga Emas" ini bekerja?
Studi kasus terbaik adalah program 5 sektor yang saya pimpin. Visi Organisasi (idealisme) ingin membantu pendidikan dan kesehatan. Realitas Lapangan (kebutuhan warga) adalah pengembangan pariwisata.
Peran Akademisi (bekal Asisten dosen) membantu kami menyatukan keduanya. Kami tidak memilih. Kami menjalankan program holistik di mana semua sektor saling mendukung.
Kami mengadakan medical check-up (Sektor Kesehatan). Kami mengajar tari tradisional (Sektor Kebudayaan). Kami donasi buku dan memberi pengajaran tambahan dan pelatihan keterampilan berbasis psikologi (Sektor Pendidikan). Kami juga melatih tim editing pantai (Sektor Pariwisata) dan membangun mading untuk peta wisata (Sektor Pembangunan). Semuanya dirancang untuk satu tujuan: desa yang sehat, terdidik, dan mandiri secara ekonomi.
Idealisme tercapai, metode teruji, dan kebutuhan nyata warga terjawab.
Sinergi "Segitiga Emas" ini membuktikan bahwa mahasiswa bukan sekadar pelaksana. Kita adalah integrator. UNESCO (2017) menegaskan peran vital pendidikan tinggi dalam mencapai SDGs, dan mahasiswalah motor penggeraknya.
Pengalaman ini meyakinkan saya bahwa kolaborasi adalah keharusan. Tentu saja, model yang saya jalankan bukan satu-satunya. Bisa jadi mahasiswa di luar sana memiliki pengalaman dan model yang jauh lebih baik. Saya berharap mahasiswa lain bisa saling membagikan pengalaman dan gagasan demi model yang tepat untuk peran mahasiswa dalam mencapai SDGs, terlebih lagi mahasiswa yang mendapat kesempatan belajar di negeri lain. Semoga mereka kembali dengan membawa inspirasi, mengadaptasi, dan menerapkan berbagai model program holistik yang terbukti berhasil di sana, untuk kemudian diterapkan dan disesuaikan demi tujuan global yang kita perjuangkan bersama.
REFERENSI:
PBB (2015). Transforming our world: the 2030 Agenda for Sustainable Development. United Nations General Assembly.
UNESCO (2017). Education for Sustainable Development Goals: Learning Objectives.
World Bank (2002). Participation and Civic Engagement.
