Konten dari Pengguna

Sudahkah Kau Berusaha Menjadi Mata Air?

Afifah Aryani

Afifah Aryani

Guru SDIT Al-Furqon

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afifah Aryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Picture source: Pinterest, edited by Canva
zoom-in-whitePerbesar
Picture source: Pinterest, edited by Canva

Sejauh mana kaki melangkah, pijakan kita sama-sama tanah. Lalu mengapa ada perbedaan antara orang kaya dan miskin jika waktu yang dimiliki sama-sama 24 jam dalam sehari? Apakah ini tentang seberapa banyak warisan yang ditinggalkan keluarga? Tentu saja bukan, ini adalah tentang seberapa jauh kita sudah berusaha. Jika menilik pada perjalanan Ibunda Siti Hajar, mungkin usaha kita baru setipis tisu. Membayangkannya saja sangat berat, berada dalam situasi khawatir di tengah padang pasir karna suara rengekan anak yang haus, dengan keimanan yang sudah sangat kokoh Ia percaya bahwa Allah akan menolongnya untuk menemukan air, Ia berusaha berlari ke tempat yang terlihat seperti ada air yang Ketika dihampiri justru tidak terdapati air. Apakah Ibunda Siti Hajar berputus asa lalu terdiam? Justru tidak. Ia Kembali mendapati tempat yang terlihat seperti ada air di sebrang dan Ia Kembali berlari menghampirinya hingga kejadian sebelumnya terulang, begitulah seterusnya sampai tujuh kali putaran. Setelah itu, apa yang terjadi? Air yang Ia cari sebegitunya ternyata menghampiri anaknya. Air itu keluar dibawah kaki anaknya karna gesekan kaki Ketika menangis. Lihat, betapa dekatnya pertolongan Allah. Dari cerita ini, apakah air ditemukan oleh Siti Hajar dari usahanya berlari? Jawabannya tidak, maka apalah arti Beliau berusaha? Justru itulah poinnya. Kita memang tidak diperbolehkan untuk “menuhankan” usaha. Tugas kita hanyalah berusaha, hasilnya biar Allah yang memberi. Sulit dipahami bukan? Namun begitulah hadiah bagi yang percaya. matematikNya bukan matematika kita yang sangat logis sebagai manusia, bisa jadi untuk mendapatkan 10 kita hanya berpikir bahwa hasil 10 didapatkan dari perjumlahan 5 ditambah 5, padahal ada banyak cara untuk mendapatkan hasil 10.

Bagaimana dengan perjalananmu? Apakah sudah begitu melelahkan? Semoga meski Lelah tidak membuat langkah terhenti begitu saja. Perjalanan masih terlalu jauh, waktu akan terbuang begitu saja jika perjalanan terhenti. Salah satu kakak tingkat pernah bertanya “coba ada yang tau gak, kenapa ada istilah kajian haus ilmu bukan malah kajian lapar ilmu?” kami hanya terdiam bingung memikirkannya, lalu beliau menjelaskan bahwa sekuat apapun kita, kita tidak bisa hidup tanpa air. Selapar apapun kita, jika masih ada air yang bisa diminum, maka air itu akan mencukupi kebutuhan tubuh. Contoh kecilnya, lihat saja para pendaki gunung, beberapa darinya pulang dengan keadaan tak sadarkan diri karena dehidrasi. Nah, dari sanalah kajian haus ilmu tercipta, karna mungkin pengurus kajiannya berharap para jamaah selalu merasa haus akan ilmu, sehingga mereka tidak bisa hidup tanpa ilmu. sampai saat ini, kata-katanya masih selalu terngiang di telinga, bagaimana mungkin pemahaman tentang istilah air saja bisa sebegitu dalamnya. Dari air kita mendapatkan banyak kebermanfaatan bahkan sudah menjadi kebutuhan, maka mari mulai berusaha menjadi mata air dan membuat aliran air untuk disalurkan ke banyak orang. mata air ibarat Rizki yang bukan hanya berupa rupiah namun juga hadiah.

Jadi, sudah sejauh mana usahamu untuk menjadi mata air? Semoga apapun jawabannya, itu tidak melupakan langkah pertamamu. Seorang guru pernah berpesan “kita yang menjalani hidup dengan mengalir mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat terendah” sebagaimana kita ketahui, air memang mengalir ketempat terendah. maka jangan buat hidup yang sekali ini hanyut tanpa tersisa. Hal ini berbeda dengan mata air, mata air justru keluar dari dalam tanah ke permukaan lalu dibawa ke tempat tinggi atau sebut saja “bak” yang mungkin darinya terbagi ke beberapa aliran lagi untuk dipakai. disini kita tidak sedang mengalirkan kehidupan, melainkan sedang bangkit bersama dari keterpurukan. Hal ini didukung oleh kehadiran JNE dalam menghidupkan kembali semangat yang hampir mati ditelan berita kekhawatiran terpapar virus. Ia hadir menjadi perantara antara keluarga dan anak yang terpisah serta anggota-anggota lainnya yang terpaksa harus terpisah jarak. Mereka bisa sama-sama mensupport satu-sama lain dengan mengirimkan kebutuhan satu-sama lainnya.

Kebersamaan membuat kita berani dan optimis, seperti yang dikatakan oleh John F. Kennedy “jika ingin berjalan cepat, maka jalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, maka jalanlah Bersama-sama”. Kata-katanya menyadarkan betapa kebersamaan bisa membuat kita berjalan sebegitu jauhnya. Kita bisa berjalan jauh bukan karena kesendirian, namun karna kebersamaan. melewati kerikil bahkan tumpukan bebatuan bukanlah hal yang mudah, tapi kita bisa lebih kuat dari yang kita fikirkan karna ternyata kita hanya membutuhkan orang lain di garis yang sama untuk tahu bahwa kita tidak sedang sendiri. Disini, Covid berhasil membuat kita Bersatu, dari berbagai kalangan menyetujui bahwa pada waktu itu kita sama-sama punyai satu musuh, yaitu virus covid. Darinya, kita belajar berjalan sembari menguatkan satu-sama lain.

Semua perjalanan berhasil dilewati berkat kekuatan bersama, disaat banyaknya pegawai yang dirumahkan, mereka bangkit dengan berusaha merintis UMKM untuk menyambung hidup. Bersyukurnya, zaman sudah sebegitu canggihnya, hingga barang bisa dikirim ke belahan bumi manapun. Ini terjadi karna adanya jasa antar barang yang sangat membantu UMKM untuk mengirimkan pesanan ke tangan pembeli di belahan bumi manapun dengan aman. JNE menjadi perantara antara pengusaha UMKM dengan pelanggan-pelanggannya, Ia berhasil mengalirkan kebahagiaan antar pengirim dan penerima. Bagaimana tidak, JNE hadir dengan jaminan keamanan dan kualitas kecepatan pengirimannya yang sangat memuaskan. Mereka adalah rantai kebaikan yang sedang berusaha untuk terus menjadi mata air.

Untuk menjadi mata air tentu harus melewati berbagai perjuangan yang tak luput dari air mata. tak peduli harus jatuh seberapa kali, kita harus siap keluar melewati Lorong kegelapan dari dalam tanah. BJ Habibie pernah berkata “jadilah mata air yang jernih yang memberikan kehidupan kepada sekitarmu”. sebagaimana perjalanan yang beliau lalui, beliau berhasil menciptakan mata air dari karya yang banyak menginspirasi anak bangsa. Kali ini JNE sedang berusaha mengikuti jejaknya, JNE menjadi solusi untuk membantu mendekatkan jarak dengan segala hal yang dibutuhkan bahkan mengembalikan kobaran semangat bagi para UMKM yang baru merintis usahanya. layaknya mata air yang menebarkan air jernih untuk dipakai, bukan hanya jernih namun juga menjernihkan air keruh. Ia hadir untuk menebarkan berbagai manfaat bagi sekitar. Meski tidak ada tanda atas keberhasilan mencapai garis finish untuk menjadi mata air, namun JNE sudah dan sedang berusaha menjadi mata air agar bisa menebar kebermanfaatan bagi banyak orang. dan darinya kita bisa mengalirkan Kembali kebahagiaan.

Aliran kebahagiaan membuat damai banyak orang. Masa-masa Covid membuat kita sadar bahwa kita benar-benar tidak bisa bersandar kepada orang lain. Dan ternyata kita bisa dan diberi kemampuan untuk berdiri sendiri berkat kebersamaan. Apalah arti kemenangan tanpa adanya kerja sama. Hal ini persis seperti apa yang sedang dilalui oleh JNE, Perusahaan yang dibangun dari kebersamaan hingga bisa terbang tinggi untuk mengepakkan sayap-sayap indahnya setelah melalui 32 tahun yang tidak mudah untuk dilalui. Selamat ulang tahun JNE, semoga selalu menjadi mata air yang mengalirkan kebahagiaan pada banyak orang.

Bagaimana denganmu? Sudah sejauh mana usahamu untuk menjadi mata air? yuk mulai melangkah untuk berusaha menjadi mata air, karna kata Rosul, kita akan saling mencari dan bersaksi, maka mari saling mencari dan bersaksi untuk kebaikan.