Konten dari Pengguna

Mengenal Silent Divorce: Suami Istri Asing Serumah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afifa Lika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

image by: shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
image by: shutterstock

Setiap pernikahan tidak selalu berakhir di ruang pengadilan. Ada juga sepasang suami istri masih tinggal di dalam rumah yang sama, masih tercatat sebagai pasangan sah, tapi secara emosional sudah tidak saling terhubung satu sama lain. Fenomena inilah yang sering dikenal dengan istilah silent divorce atau “perceraian diam-diam”. Istilah ini kerap kali muncul di berbagai platform media sosial setelah banyak pasangan berbagi hal yang sama tentang bagaimana rumah tangga mereka berjalan tanpa konflik yang terlihat, tetapi juga tanpa kehangatan yang seharusnya ada dalam sebuah pernikahan. Bukannya bertengkar, pasangan yang mengalami silent divorce ini justru lebih memilih diam dan menjalani hidup masing-masing di bawah atap yang sama.

Apa Itu Perceraian Silent Divorce? Silent Divorce memberikan gambaran tentang kondisi di mana sebuah pernikahan sudah kehilangan esensinya, meski secara administratif dan fisik pasangan tersebut belum bercerai. Namun, secara emosional tidak lagi saling terhubung, komunikasi yang dulunya intens berubah menjadi seperlunya, keintiman fisik maupun psikis menurun drastis, tidak adanya lagi keharmonisan dalam rumah tangga dan masing-masing pihak mulai membangun kehidupan yang berbeda, baik dari segi minat, aktivitas, maupun ruang lingkup pertemanan. Berbeda dengan perceraian pada umumnya yang diawali dengan konflik terbuka, silent divorce justru berjalan tanpa suara. Tanpa pertengkaran besar, tanpa drama, tanpa kekerasan, hanya kesunyian yang perlahan mengikis hubungan.

Ciri-ciri Silent Divorce Beberapa ciri yang sering muncul pada pasangan yang mengalami silent divorce, antara lain: • Minimnya komunikasi. Percakapan biasanya hanya tertuju pada hal-hal teknis rumah tangga, seperti jadwal anak atau tagihan bulanan. • Keintiman yang berkurang, sehingga sentuhan fisik maupun kedekatan emosional semakin merenggang. • Alur hidup yang paralel. Biasanya, suami dan istri yang mengalami silent divorce akan menjalani aktivitas masing-masing tanpa banyak melibatkan pasangan. • Tidak ada usaha untuk memperbaiki hubungan. Kedua belah pihak seolah menerima kondisi tersebut sebagai hal yang "biasa saja". • Perasaan kesepian meski tinggal bersama. Salah satu atau kedua pasangan merasa terasing walaupun tinggal serumah.

Penyebab Silent Divorce Berikut beberapa faktor yang dapat memicu munculnya silent divorce dalam sebuah rumah tangga, antara lain: • Kesibukan kedua pihak yang berlebihan, sehingga waktu untuk berbincang dengan pasangan semakin berkurang. • Konflik yang tidak pernah terselesaikan hingga akhirnya kedua pihak memilih diam daripada membahasnya. • Perbedaan kebutuhan emosional yang tidak lagi bisa dipenuhi oleh pasangan. • Rasa nyaman yang berubah menjadi rutinitas, tanpa adanya usaha untuk terus menumbuhkan hubungan.

• Adanya perasaan gengsi untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang dirasa oleh masing-masing pihak.

Dampak bagi Pasangan dan Keluarga Silent divorce dapat berdampak pada kesehatan mental kedua belah pihak, mulai dari rasa kesepian, kecemasan, hingga menurunnya rasa percaya diri dalam menjalani rumah tangga. Jika ada anak dalam rumah tangga tersebut, kondisi rumah yang dingin dan minim interaksi juga berpotensi mempengaruhi perkembangan emosional dan juga berdampak pada mental si anak, meski tidak selalu disadari secara langsung. Silent divorce juga dapat memicu perselingkuhan karena tidak adanya komunikasi dalam rumah tangga.

Bagaimana Mengatasinya? Pengamat hubungan umumnya menyarankan beberapa langkah berikut bagi pasangan yang sedang berada dalam kondisi tersebut untuk membenahi silent divorce: • Membuka komunikasi secara jujur tentang apa yang dirasakan kedua belah pihak. • Meluangkan waktu berkualitas bersama pasangan secara konsisten. • Mencari bantuan ahli, seperti konseling pernikahan, apabila komunikasi sulit dilakukan sendiri. • Mengevaluasi kembali tujuan bersama dalam rumah tangga, bukan membiarkan hubungan berjalan tanpa arah. Silent divorce mengingatkan bahwa sebuah pernikahan tidak cukup jika hanya dipertahankan dengan status, tetapi juga perlu dirawat secara emosional. Tanpa kesadaran dan komunikasi yang baik, dua orang yang tinggal serumah bisa saja menjadi seperti orang asing yang kebetulan berbagi atap yang sama.