Bukan Sekadar Gaya: Busana, Media dan Kreasi sebagai Masa Depan Industri Kreatif

Mahasiswa Program Studi ekonomi Syariah Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari afina islah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seringkali, indusri kreatif hanya melihat fashion sebagai masalah tren dan gaya hidup. Media dipandang sebatas sebagai media untuk menyampaikan informasi, sementara kreativitas kerap dipandang sebagai sesuatu yang sulit diukur secara ekonomi. Padahal, ketiganya berperan penting dalam menciptakan nilai ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menghidupkan identitas Indonesia.
Ekonomi kreatif tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi kreatif akan menyerap sekitar 27,40 juta orang pada tahun 2025, atau 18,70 persen dari tenaga kerja nasional, meningkat dari 26,48 juta orang pada tahun 2024. Ini menunjukkan bahwa kreativitas tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi jutaan orang.
Busana memiliki posisi yang menarik di antara berbagai subsektor tersebut, karena pakaian bukan hanya produk yang digunakan sehari-hari, tetapi juga dapat berfungsi sebagai media untuk menunjukkan identitas, budaya, dan kreativitas. Pemerintah mencatat subsektor fesyen sebagi tulang punggung ekonomi kreatif nasional, dan diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 14,77 persen pada tahun 2025 dengan pertumbuhan 5,07%.
Potensi pertumbuhan ini akan meningkat ketika busana bertemu dengan media. Produk saat ini tidak hanya harus berkualitas tinggi. Keberhasilan sebuah produk sangat bargantung pada cara ia dikenalkan kepada masyarakat. Pelaku bisnis dapat memperluas pelanggan melalui konten kreator digital, seperti foto, video pendek, dan media sosial.
Disinilah kreativitas menjadi penghubung. Pakaian dapat menjadi lebih berharga ketika memiliki cerita, visual, dan identitas yang kuat. Merek dapat dibentuk oleh elemen, termasuk deasin, fotografi, video, musik, periklanan, dan pembuatan konten. Dengan kata lain, industry busana tidak berdiri sendiri, tetapi dapat berkembang melalui ekositem industri kreatif yang lebih luas.
Ini juga sejalan dengan pertumbuhan pendataan ekonomi kreatif di Indonesia. berbagai subsektor ekonomi kreatif, menurut BPS, termasuk fashion, film, animasi, video, fotografi, penerbitan, periklanan, dan radio dan televisi. Hubungan antara produk, media, dan kreativitas sebenarnya berada dalam ekosistem yang saling berkaitan.
Tetapi peluang besar juga membawa masalah. Pelaku industri kreatif harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan keunikan produk mereka di tengah persaingan yang semakin kompetitif. Misalnya, dalam industri fesyen, identitas merek sangat penting agar produk tidak mudah kehilangan karakteristik unik. Selain itu, Kementerian Ekonomi Kreatif membantu jenama fesyen lokal memperkuat identitas merek mereka dan melindungi karya melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Kebutuhan akan data yang lebih lengkap merupakan masalah tambahan. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang perkembangan industri kreatif dan penerapan kebijakan yang lebih tepat, BPS dan Kementerian Ekonomi Kreatif akan meluncurkan Statistik Ekonomi Kreatif pada 2026. Statistik ini akan mencakup indikator seperti PDB ekonomi kreatif, ekspor produk ekonomi kreatif, dan penyerapan tenaga kerja.
Pada akhirnya, media, kreasi, dan busana tidak seharusnya dianggap sebagai tiga entitas terpisah. Kreativitas dapat menjadi kekuatan yang memberikan identitas dan nilai tambahan, sementara busana dapat menjadi produk, dan media menjadi jembatan untuk menjangkau masyarakat. Ketika ketiganya berkembang bersama, ada peluang untuk mengikuti tren dan membuat barang, pekerjaan, dan identitas baru yang dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Karena itu, tidak cukup untuk membicarakan masa depan industri kreatif Indonesia hanya dengan melihat seberapa cepat tren muncul; yang lebih penting adalah bagaimana industri kreatif dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan. Kreativitas bukan sekadar ide, mode bukan sekadar gaya, dan media bukan sekadar alat untuk menyebarkan informasi. Ketiganya mungkin merupakan bagian dari kekuatan ekonomi kreatif yang ada di Indonesia.
