Konten dari Pengguna

Cancel Culture Kontrol Digital Sosial Indonesia: Mengakar atau Hanya Sebuah Fase

Afina Zahra Lutfiana

Afina Zahra Lutfiana

Mahasiswa Baru Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afina Zahra Lutfiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: paxels.com/Markus Winkler
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: paxels.com/Markus Winkler

Sejumlah public figure tengah menjadi sorotan tajam netizen karena diterpa kontroversi mengenai rumah tangganya. Dari hujatan hingga penghakiman, netizen lontarkan untuk menyalurkan kekesalan. Hal ini tidak hanya memberikan dampak kepada kehidupan pribadi mereka, tetapi juga menghancurkan karier sebagai seorang influencer dengan citra yang telah mereka bangun sedemikian rupa.

Sebab, brand-brand kenamaan tengah menarik kerja sama eksklusif mereka dengan sang public figure. Kini, netizen mengenalnya dengan fenomena Cancel Culture. Lantas, apa itu Cancel Culture?

Menurut Profesor Sosiologi dan Kriminologi di Universitas Villanova, Dr Jill McCorkle, Cancel Culture merupakan proses pengusiran publik yang kemudian berevolusi. Istilah ini mulai populer di Indonesia di kalangan Kpopers yang akrab dengan aksi penolakan terhadap idol Korea yang terkena skandal.

Para idol di sana benar-benar dituntut memiliki masa lalu dan perilaku yang bersih. Jika tidak, mereka harus siap-siap kehilangan tempat di ruang publik atau bahkan pekerjaan mereka yang merupakan bentuk dari Cancel Culture. Lalu, seberapa besar pengaruh Cancel Culture terhadap public figure dan ruang lingkup tanah air?

Setahun belakangan, aktor layar lebar hingga influencer Instagram tengah mengalami pemboikotan massal. Dimulai dari aktor yang membintangi salah satu film adaptasi Webtoon Korea, mengungkapkan bahwa ia tidak menonton maupun membaca karya asli dari film yang akan ia adaptasi sehingga akan membawakan karakter utama versinya sendiri. Hal ini membuat fans dari film tersebut menganggap sang aktor tidak layak berperan sebagai karakter utama.

Kemudian, diperparah dengan ungkapan “fans fanatik” dan tidak membutuhkan dukungan mereka memicu aksi penolakan terhadap film adaptasi tersebut dari penggemar film korea. Sebagai akibat, angka rating dan jumlah penonton film tersebut anjlok. Dari sini tentunya dapat disimpulkan bahwa tidak hanya karier sang aktor yang dipertaruhkan, tetapi juga merugikan Production House serta orang-orang yang bekerja dibalik layar.

Sepintas, Cancel Culture ini memberikan efek domino yang positif. Public figure lebih memperhatikan etika dan juga tingkah laku yang mereka bawakan ke hadapan publik. Karena pengaruhnya, followers mereka tentunya akan meneladani citra baik dari sang public figure. Namun, coba kita renungkan, bagaimana pengaruh Cancel Culture dari berbagai sudut pandang?

Tentunya setiap hal memiliki dua sisi yang saling bertentangan. Dalam kasus ini, Cancel Culture membawa dampak positif, negatif, dan bahkan area abu-abu yang masih dapat diperdebatkan tergantung dari sudut pandang siapa. Dampak positifnya, individu yang seterusnya dirasa dapat membahayakan masyarakat luas tidak mendapatkan panggung untuk semakin bersinar dan memberi pengaruh buruk.

Di sisi lain, mengejutkannya, masyarakat tidak menyadari bahwa mereka telah menutup kesempatan kedua bagi individu yang terkena Cancel Culture. Individu akan merasakan ketidakadilan dan bahkan masyarakat akan melupakan bahwa selain menjaga kebaikan, memperbaiki kesalahan juga hal yang penting.

Belum lagi jika isu belum terbukti kebenarannya, individu yang terdampak Cancel Culture akan menanggung kerugian akibat ulah netizen dan mereka tidak dapat memperbaikinya. Lantas, akankah Cancel Culture mengakar atau hanya sebuah fase?

Sejauh ini, rata-rata penerapan Cancel Culture di Indonesia masih berdasarkan target pasarnya. Seringkali, brand yang menarik kontrak eksklusif dengan public figure yang terkena Cancel Culture memiliki pasar yang masih berhubungan dengan fans K-Pop atau pun pecinta K-Drama.

Selain itu, beberapa brand terkadang masih mempertahankan ambassador mereka yang terkena Cancel Culture, meskipun mendapatkan peringatan keras dari berbagai pihak. Oleh karena itu, belum dapat dipastikan keberlanjutan dari Cancel Culture di Indonesia.

Meskipun demikian, Cancel Culture akan terus ada dan berevolusi. Pengaruh kolektif netizen terbukti dapat menghukum perilaku individu yang tidak etis dan mempengaruhi keputusan sebuah brand. Saat ini, tantangan yang nyata adalah cara masyarakat menyoroti dan menyikapi suatu isu. Dengan harapan, hukuman yang diberlakukan bersifat positif dan tidak merusak. Tentunya, hal ini tidak dapat berlaku tanpa ada kesadaran yang kuat dari berbagai pihak.