Konten dari Pengguna

Kesenian Trengganon di Tengah Gempuran Modernisasi

Afiqa Ishlahun Natsa

Afiqa Ishlahun Natsa

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afiqa Ishlahun Natsa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tari Trengganon. Foto oleh Firda Khoirun Nisa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tari Trengganon. Foto oleh Firda Khoirun Nisa

Berbicara soal seni, kesenian bisa dibilang kebutuhan manusia terkait hiburan. Bahkan di Indonesia sendiri, kesenian dianggap bagian dari pola hidup masyarakat, contohnya kesenian Trengganon. Tari Trengganon menjadi salah satu kesenianTrengganon merupakan kesenian tari tradisional yang dibawa oleh seorang ulama bernama K.H. Syahid tahun 1930 di Dusun Parakan Kulon, Sendangsari, Minggir, Sleman, Yogyakarta. Pada mulanya, kesenian ini muncul sebagai sarana penyebarluasan ajaran agama Islam. Sebab, pada masa itu para pemeluk agama Islam kurang memahami kaidah agama Islam. Dengan perpaduan jurus bela diri dan syair selawat dari Kitab Barzanji, kesenian ini mampu menarik minat masyarakat.

Namun karena pengelolaan yang kurang, masyarakat Dusun Parakan Wetan, Sendangsari pun mengambil alih kepengurusan. Barulah tahun 1936, kesenian itu menjadi hak milik masyarakat Parakan Wetan yang diberi nama Trengganon Ikhsan Al-Fatah. Tahun demi tahun berganti, Trengganon mau tidak mau harus menghadapi sejumlah tantangan perkembangan zaman. Anggota kesenian ini saja hanya sekitar 60 orang, baik muda, tua, penari, bahkan pengurus. Sekarang pun kesenian ini bisa dibilang ada dan tidak, nyatanya tidak pernah digelar latihan tari. Dulu latihan biasa dilaksanakan seminggu 2 kali, malam minggu dan malam kamis setelah isya. Namun, minimnya panggilan tampil membuat kelompok kesenian ini jarang berlatih. Terlebih di masa pandemi virus COVID-19, kesenian ini seakan benar-benar mati. Mengingat kesenian ini hanya menunggu “penanggap”, sumber pemasukan kelompok ini cenderung tidak pasti.

Selain itu, regenerasi menjadi tantangan terbesar yang menyesakkan kelompok kesenian tari ini untuk berkembang. Padahal regenerasi budaya menjadi penting guna keberlanjutan pelestarian kesenian bagi anak cucu. Sejumlah anak muda sekarang lebih memilih yang simpel, sebab gerakan tari Trengganon cenderung sulit. Selain itu, faktor busana yang identik dengan memakai peci hitam menjadi salah satu alasan sejumlah perempuan yang memutuskan berhijab akhirnya berhenti terlibat. Keberadaan musik modern turut mempersempit ruang gerak kesenian Trengganon bertahan. Misalnya saja musik pop, k-pop, dan dangdut koplo yang lebih menarik minat anak muda. Sehingga sejumlah anak muda hanya tertarik pada kesenian yang telah dicampur dengan gaya modern seperti Kubro Dangdut (Brodut).

Sebagai upaya menarik minat dan partisipasi pemuda, pengurus kelompok Trengganon pernah menyerahkan pengelolaan pada Karang Taruna setempat. Memang sempat berlatih beberapa kali, namun usaha tersebut tidak berjalan lancar dan kembali berhenti. Dukuh selaku pimpinan dusun setempat pun kurang berpartisipasi aktif dalam upaya pengelolaan. Sudah semestinya para pemuda yang paham teknologi memiliki kesadaran pelestarian kesenian tradisional ini. Sehingga dapat dilakukan upaya strategi promosi baik melalui brosur, sosialisasi pentingnya pelestarian kesenian tari Trengganon maupun pemanfaatan media sosial sebagai media difusi informasi. Dengan begitu kesenian ini lebih mudah dikenal masyarakat luas. Sehingga sejumlah anak-anak dan pemuda mau belajar dan berlatih agar kesenian ini terus terjaga ke generasi berikutnya.