Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN UINSA Petakan Potensi dan Permasalahan RW 10 Darmo Melalui FGD

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afiv Mujadi Qostholani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi FGD bersama RW dan RT serta perwakilan masyarakat RW 10 Darmo milik pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi FGD bersama RW dan RT serta perwakilan masyarakat RW 10 Darmo milik pribadi

Surabaya – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama pengurus RW, ketua RT, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga RW 10 Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mengidentifikasi kondisi lingkungan sekaligus menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hasil FGD menjadi dasar penyusunan intervensi program KKN berbasis potensi dan permasalahan lokal.

Dalam forum yang berlangsung secara partisipatif tersebut, masyarakat menyampaikan berbagai perkembangan wilayah yang telah terjadi selama satu dekade terakhir. Dari aspek sumber daya alam, warga mengungkapkan bahwa akses air bersih kini telah mengalami peningkatan signifikan. Jika pada periode 2016–2025 masih terdapat sekitar lima persen warga yang menggunakan air sumur, maka pada tahun 2026 hampir seluruh masyarakat telah memanfaatkan layanan PDAM sebagai sumber air bersih utama.

Meski demikian, tantangan lingkungan masih menjadi perhatian. Alih fungsi lahan hijau menjadi bangunan sejak tahun 2016 menyebabkan ruang terbuka semakin terbatas. Sebagai bentuk adaptasi, sebagian warga tetap mempertahankan budaya berkebun menggunakan pot sebagai upaya penghijauan lingkungan di tengah kawasan yang hampir seluruhnya telah dipaving.

Isu banjir menjadi salah satu persoalan utama yang mengemuka dalam diskusi. Warga menjelaskan bahwa curah hujan yang semakin tidak menentu sering kali memicu genangan di beberapa titik wilayah RW 10. Meski sistem drainase telah mengalami banyak perbaikan melalui pembangunan saluran U-ditch, masih terdapat titik yang membutuhkan penyempurnaan, khususnya di RT 02 yang direncanakan memperoleh pembangunan tambahan saluran sepanjang sekitar 170 meter.

Pada sektor infrastruktur, warga mengapresiasi peningkatan kualitas jalan lingkungan yang kini telah diaspal dan dipaving dengan baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun, mereka juga mencatat pernah terjadi kerusakan jalan akibat pergerakan tanah saat musim hujan pada tahun 2025. Sementara itu, penerapan teknologi lingkungan seperti lubang biopori dinilai belum memungkinkan mengingat hampir seluruh permukaan wilayah telah tertutup aspal maupun paving block.

Diskusi juga menyoroti pengelolaan sampah. Warga mengisahkan pengalaman kurang baik saat bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pengelolaan bank sampah pada tahun 2024. Kerja sama tersebut tidak berjalan sesuai kesepakatan karena muncul persoalan penumpukan limbah yang menimbulkan bau dan polusi. Ke depan, masyarakat berharap adanya edukasi mengenai pengolahan sampah organik menjadi kompos sebagai alternatif pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih berkelanjutan.

Dari sisi ekonomi, RW 10 memiliki potensi pengembangan usaha mikro, meskipun jumlah pelaku UMKM saat ini diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen dari total warga. Hasil FGD juga menunjukkan bahwa baru sekitar 20 persen pelaku usaha yang telah memanfaatkan platform digital untuk pemasaran produknya. Kondisi tersebut membuka peluang bagi mahasiswa KKN untuk menghadirkan program pendampingan digitalisasi UMKM sebagai salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menariknya, masyarakat juga meluruskan persepsi publik mengenai identitas wilayahnya. Selama ini RW 10 sering dikaitkan dengan Pasar Burung Kupang. Namun, warga menjelaskan bahwa pasar tersebut bukan merupakan aset ataupun dikelola oleh masyarakat RW 10, bahkan saat ini telah direlokasi ke kawasan Gunungsari. Selain itu, wilayah RW 10 juga tidak memiliki destinasi wisata yang dapat dikembangkan sebagai potensi pariwisata lokal.

Melalui FGD ini, mahasiswa KKN tidak hanya memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi sosial, lingkungan, dan ekonomi masyarakat, tetapi juga membangun komunikasi yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan di tingkat RW. Forum tersebut menghasilkan berbagai masukan yang akan menjadi dasar penyusunan program kerja selama masa pengabdian di RW 10 Darmo, dengan harapan setiap kegiatan yang dilaksanakan mampu memberikan solusi nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Forum semacam ini merupakan pendekatan yang umum digunakan mahasiswa KKN untuk menyusun program berbasis kebutuhan riil masyarakat melalui dialog partisipatif.