Memahami Konsep Takdir dan Pilihan Hidup dengan Mudah

Mahasiswi jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Afri Syaharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seringkali ketika manusia dihadapkan oleh suatu kondisi baik ataupun kondisi buruk tidak sedikit dari mereka yang berucap “Memang sudah begini jalan takdirnya”.
Sehingga terbentuk sebuah kebiasaan apabila manusia mendapatkan suatu keberhasilan atau berada pada kondisi yang baik, maka dia akan merasa begitu bahagia dan membanggakan jalan takdir. Namun sebaliknya, apabila yang didapatkan adalah sebuah kegagalan atau kondisi keterpurukan, maka seringkali dia akan begitu kecewa dan menyalahkan takdir hidup seraya mempertanyakan mengapa takdir tidak sejalan dengan kehendaknya.
Lantas kedua posisi tersebut menimbulkan kebingungan sebenarnya apa yang menjadi sebab dari keberhasilan dan kegagalan, apakah manusia atau takdir itu sendiri?
Sebelum membahas lebih lanjut, kita perlu memahami konsep takdir. Dalam ajaran Islam takdir disebut juga dengan qada dan qadar. Keduanya adalah ketetapan Allah yang telah ditentukan jauh sebelum Allah menciptakan dunia dan seisinya. Seorang Muslim wajib mengimani qada dan qadar serta harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-satunya Khaliq atau Sang Pencipta.
Maka dengan begitu, sudah menjadi keharusan karena kita meyakini bahwa Allah adalah Sang Khaliq seharusnya mudah bagi seorang muslim menerapkan pemahaman bahwa Allah yang paling mengerti kita, dan Allah pasti telah menuliskan segala takdir hidup yang terbaik untuk kita. Sehingga apa pun takdir yang kita dapatkan pada hakikatnya semuanya adalah takdir baik, namun seringkali kita yang belum mengerti bahasa cinta Allah yang diselipkan melalui takdir tersebut.
Lalu jika keberhasilan dan kegagalan telah Allah tuliskan dan tetapkan, lantas mengapa kita berusaha? Mengapa kita tidak menunggu saja keberhasilan datang sendiri pada waktunya, atau kegagalan menghampiri dengan sendirinya tanpa harus mengorbankan jerih payah kita?
Maka jawabannya, memang benar dalam kehidupan ini kita terikat dengan takdir yang telah ditetapkan, tetapi janganlah lupa bahwa Allah juga memberikan Freewill atau kebebasan memilih dan berkehendak untuk setiap hambaNya. Allah telah membekali kita akal, naluri, dan panca indra dengan tujuan untuk menguji kita apakah kita dapat menentukan pilihan hidup yang sejalan dengan syariat Allah atau pilihan hidup yang bertentangan dengan syariat Allah.
Perlu kita pahami bahwa takdir atau qada dan qadar yang menghampiri kita baik itu berupa keberhasilan dalam suatu pencapaian atau bahkan kegagalan, semua itu tidaklah akan Allah hisab atau tidak mendatangkan dosa atau pahala karena memang asalnya dari ketentuan Allah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa, sebab yang akan Allah hisab (mendatangkan pahala atau dosa) adalah respon dan pilihan kita terhadap takdir.
Oleh karena itu, dari sini dapat kita pahami bahwa keberhasilan dan kegagalan yang kita dapat memang pada dasarnya bersumber dari ketentuan Allah tetapi bagaimana usaha kita, perjuangan kita itulah yang terpenting karena Allah menilai usaha kita bukan hasil. Hasil akhir dari perjuangan kita adalah ketentuan Allah dan tidak akan Allah hisab, tetapi usaha dan proses yang kita perjuangan dalam mencapai sesuatu itulah yang akan Allah nilai dan kelak proses itulah yang dapat mendatangkan keridhaan Allah apabila dalam proses tersebut kita menentukan pilihan yang sesuai dengan syariat.
Kita perlu membedakan bahwa kendali kehidupan terbagi dua, ada bagian yang berada di atas kendali Allah dan ada pula bagian yang berada dalam kendala manusia sendiri. Perkara kegagalan dan keberhasilan adalah kendali Allah, maka kita tidak perlu pusing ataupun kecewa apabila mengalami kegagalan atau jangan pula terlalu senang apabila mendapatkan keberhasilan karena itu semua berada dalam kendali Allah.
Sedangkan, bagian kita yang bisa kita kendalikan adalah usaha dalam mencapai sesuatu, serta kendali atas respon kita ketika menjumpai suatu takdir. Apabila usaha dan respon kita baik maka akan mendatangkan pahala, tetapi sebaliknya apabila hal tersebut dilakukan dengan cara buruk maka akan mendatangkan dosa.
Sekarang kita telah memahami bagaimana hubungan antara takdir dengan pengaruhnya terhadap keberhasilan dan kegagalan. Kemudian kita juga harus mengambil sikap washatiyah atau posisi tengah, yaitu meyakini bahwa kehidupan berada di atas takdir Allah, tetapi Allah juga menyediakan pilihan-pilihan yang bebas dipilih oleh seorang hambaNya.
Namun, perlu diingat segala pilihan dan keputusan yang kita ambil kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Manusia dianjurkan untuk berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh sesuatu, dan menerimanya dengan ikhlas dan rasa puas disertai dengan keyakinan inilah takdir yang terbaik.
Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin agar proses yang dijalani dapat mendatangkan keridhaan Allah, dan apa pun hasil yang diterima hendaklah selalu berprasangka baik kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu sesuai prasangka hambaNya. Maka dengan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa hasil dari perjuangan kita baik itu berupa kegagalan atau keberhasilan dua hal tersebut adalah ranah Allah.
Kita sebagai manusia fokuslah kepada usaha dan proses karena di situlah medan juang kita. Tidak perlu khawatir dengan hasil akhir baik itu keberhasilan atau kegagalan semuanya berada dalam perencanaan Allah dan Allah pasti akan memberikan takdir yang terbaik untuk kita.
