Siol Saragi, Pemuda Penggagas Kegiatan Kopi Toleransi yang Menyatukan Masyarakat

Mahasiswi Semester 1 FK Universitas Airlangga
Tulisan dari Maria Agatha Arlean tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Petrus H, Hasiholan Saragi atau lebih dikenal orang dengan nama Siol Saragi Dabukke merupakan founder Kopi Toleransi Medan. Pemuda Katolik ini lahir di Sumbul, 15 Agustus 1992 dan sudah mendirikan kegiatan Kopi Toleransi tersebut sejak 2016 bersama temannya yang bernama Bikhu Dhira Puno. Kopi Toleransi sendiri merupakan kegiatan untuk membuka ruang-ruang diskusi bagi orang Indonesia untuk berbincang mengenai mengenai pandangan akan perbedaan dalam berbagai keragaman dan budaya yang ada.
Diawali dengan beredarnya stigma yang menyatakan bahwa agama Muslim merupakan teroris yang dibentuk di Pesantren, maka dari situ Siol memutuskan untuk mecari kebenaran dibalik stigma tersebut, dengan mengikuti sebuah program bernama INGAGE yang dilaksanakan di ICRS. Dalam acara tersebut Siol memilih unuk melakukan Live-in disebuah pesantren yang bernama Nurul Hakim. Ternyata ia mendapatkan sebuah fakta yang jauh berbeda dengan apa yang dinyatakan pada stigma tersebut. Ia tidak menmukan sedikit pun tanda bahwa para santri disana dididik dengan metode teroris, melainkan mereka dididik dan dipersiapkan untuk menjadi santri-santri yang nasionalis.
Dari pengalamannya tersebut, akhirnya ia membuat kesimpulan bahwa stigma yang sedang beredar pada saat itu salah besar. Dari situlah kemudian muncul kesadaran untuk membangun toleransi antar berbagai agama yang ada. Hingga terciptalah suatu kegiatan yang bernama "Kopi Toleransi". Siol aktif untuk mengadakan berbagai diskusi lintas agama dan percaya bahwa hal tersebut akan menghadirkan kesadaran yang timbul untuk meningkatkan toleransi dan menjaga persatuan disamping perbedaan yang ada. Namun dalam diskusi yang dilakukan sebelumnya, Siol belum berbicara menganai toleransi dari sudut pandang Katolik, karena ia sadar bahwa bukan wewenang dan kapasitasnya untuk membahasnya, maka dari itu ia mengajak sahabatnya, yaitu Romo Emmanuel Sony Wibisono, O.Carm untuk berbicara mengenai toleransi dari sudut pandang Katolik.
Dikarenakan eksistensi toleransi merupakan hal yang paling krusial dan sangat dibutuhkan, mengingat bahwa Indonesia merupakan negara pluralitas yang memiliki banyak perbedaan didalamnya. Menurut Siol toleransi di Indonesia saat ini bagaikan toleransi yang dipermainkan untuk sebuah konflik yang memiliki tujuan kekuasaan. Masyarakat yang awalnya nyaman hidup berdampingan, namun berubah seiring berjalannya waktu karena muncul kelompok-kelompok tertentu yang berniat untuk menggesek keakraban masyarakat dengan isu-isu beredar dan saling menjatuhkan. Maka dari itu, seharusnya kita sebagai masyarakat harus bijak dalam menyortir berbagai informasi mengenai isu yang beredar. Karena memang nyatanya dalam kehidupan kita tidak bisa terlepas dari adanya perbedaan. Namun bagaimana agar kita bisa tetap saling berdampingan dalam perbedaan tersebut menjalankan kepentingan dan kepercayaan masing-masing, tanpa merasa lebih unggul atau mendominasi satu sama lain.
Dari perbedaan tersebut patutnya kita bersyukur karena memiliki keberagaman yang istimewa, dan kita bisa belajar untuk membuka pikiran untuk menerima berbagai pandangan disekitar kita dengan menumbuhkan semangat toleransi. Kita harus bisa memaknai semboyan dari negara kita yakni “Bhinneka Tunggal Ika” untuk hidup bersatu dalam perbedaan, yang menerima semua orang apa adanya tanpa memandang latar belakang dan tanpa ada kata mayoritas maupun minoritas, karena kita memiliki martabat yang sama sebagai warga negara. Kita harus bisa menyatukan visi untuk bersama mewujudkan perdamaian di negara Indonesia ini.
