Berlomba Branding Lewat Event Lari

Setiap pagi, kecuali hari Senin, Ratih Siubelan (38) selalu menyempatkan diri olahraga berlari. Rutinitas itu ia jalani usai mengantar anaknya sekolah—jaraknya bervariasi, dari lima kilometer di hari biasa, hingga delapan sampai sepuluh kilometer ketika sedang mempersiapkan diri untuk lomba maraton penuh (full marathon/FM).
Padahal, warga Kota Bogor ini baru mengenal lari pada 2022. Awalnya bukan niat pribadi, melainkan sekadar menemani sang ibu berolahraga usai pasang ring jantung.
"Kayak orang-orang tuh ngapain ya lari 5 kilo non stop gitu. Kan kayak ini aku aja kayak lari 200 meter aja udah capek," kenang Ratih mengenai keraguannya di masa-masa awal.
Ajakan seorang teman sesama ibu-ibu antar-jemput anak untuk ikut salah satu festival lari jadi titik baliknya. Sensasi berhasil menuntaskan 5 kilometer pertama itulah yang membuatnya ketagihan.
"Daftar race itu, itu yang bikin jadi ketagihan," ujarnya. Dari situ, jarak tempuhnya terus merangkak naik: dari 5K, 10K, half marathon (HM), hingga akhirnya menembus full marathon di ajang Maybank Marathon pada 2025.
Kini, dalam setahun, Ratih mengaku bisa mengikuti 10 sampai 15 event lari—sebagian berbayar, sebagian lagi undangan dari brand karena statusnya sebagai key opinion leader (KOL) di dunia lari.
"Kalau yang bayar sendiri tuh aku paling setahun dua tiga kali lah," ungkapnya.
Antusiasme serupa turut dirasakan Nur Alviansyah (26). Pelari asal Bogor yang kini menjadi founder sekaligus kapten komunitas lari Canda Tawa Runners ini mengaku hampir tiap minggu mengikuti event lari, dengan fokus jarak 10 kilometer.
"Kayaknya hampir tiap minggu ikut deh," kata Alvian, yang mengaku bisa merogoh kocek sekitar Rp2 juta sepanjang 2026 khusus untuk pendaftaran race berbayar—di luar event gratis maupun undangan komunitas.
Pertimbangan Alvian memilih race pun tak melulu soal harga atau lokasi. "Kita lihat dari dari sponsor. Kalau misalnya sponsornya banyak biasanya banyak orang-orang tertarik," ia menjelaskan.
Serbuan Nama Brand di Papan Nama Lomba
Sponsor rupanya bukan sekadar penambal biaya operasional di balik layar. kumparan mengumpulkan data 172 event lari yang digelar di kawasan Jabodetabek sepanjang 2026, dan menemukan sponsor, brand, atau institusi kerap ikut menempelkan namanya langsung di identitas acara.
kumparan mengolah datanya dengan cara mengumpulkan event lari pada 2026 baik di mesin pencarian Google, website resmi, hingga media sosial penyelenggara lari. Cut off datanya awal Agustus, sehingga kemungkinan event lari yang dipublikasikan setelahnya tapi masih diselenggarakan pada 2026 bisa jadi tidak termaktub.
Hasilnya, sebanyak 79 event menyandang nama brand maupun institusi sebagai bagian dari nama resminya, baik lewat status sponsor utama maupun sebagai penyelenggara langsung.
Kategori Retail dan F&B (makanan dan minuman) menjadi penyumbang terbanyak dengan 18 event, disusul beragam merek lain sebanyak 17 event. Instansi pemerintah, lembaga negara, hingga partai politik turut ambil bagian dengan 11 event, sementara universitas dan sekolah menyumbang 10 event. Sisanya tersebar di sektor elektronik/otomotif/teknologi (7 event), perbankan dan finansial (6 event), rumah sakit dan kesehatan (6 event), hingga media dan pemegang lisensi karakter (4 event).
Deretan brand ini rupanya tidak menyebar acak acara lari di seantero Jabodetabek. Mereka justru berebut satu titik yang sama.
Dari 172 event yang terdata, kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Senayan jadi lokasi paling favorit—tercatat 34 kali dijadikan venue penyelenggaraan lari sepanjang 2026, jauh meninggalkan kawasan BSD City, Tangerang yang berada di posisi kedua dengan 13 event.
Bukan tanpa alasan. Bagi Alvian yang berdomisili di Bogor, GBK adalah titik temu paling masuk akal antara kemudahan akses dan gengsi lokasi. "Posisinya itu lebih strategis. Dan kendaraan umum kan gampang tuh, kayak dari LRT, MRT, terus ada juga kereta kan deket," jelasnya.
Ia bahkan sudah hafal betul rute yang biasa ia tempuh dari rumah. "Dari Bogor ke Manggarai, Manggarai ke Sudirman. Itu bisa opsi pertama. Opsi kedua bisa turun di Cawang, naik lanjut (taksi online) itu kan masih bisa tuh ke GBK," urainya.
Bukan cuma soal transportasi, rute lari di kawasan ini pun sudah jadi semacam cetakan baku yang dipakai berulang oleh berbagai penyelenggara.
"Masalah rute lari pun itu template sih dari event-event juga banyak yang kayak gitu. Jadi emang udah settingannya udah di situ," tambah Alvian.
Gengsi di Balik Jersei Berlabel Brand Event Lari
Di balik decak kagum unggahan medsos para pelari yang berpose lengkap dengan jersei bertuliskan nama-nama besar usai menuntaskan lomba, sebenarnya tersimpan sebuah pertukaran yang lumrah: ruang promosi brand ditukar dengan identitas dan kebanggaan pelari.
Bagi Ratih, memamerkan jersei dari brand ternama bukan semata soal fesyen. Ada gengsi yang dipertaruhkan, khususnya jika event yang diikuti termasuk dalam jajaran bergengsi di Indonesia.
"Ya karena nama brand dan juga nama event-nya kan," ujarnya, ketika ditanya alasan di balik kebanggaan itu. "Kayak oh ya kan tandanya oh dia abis ikut race ini nih. Gengsi juga, kalau race-race besar itu gengsi."
Ia bahkan hafal betul brand mana saja yang tengah gencar merangsek ke ajang-ajang besar tahun ini.
“Makanya kenapa ketika eh suatu race itu kerja sama sama brand eh ya istilahnya wah lumayan nih daftarnya segini dapat jerseinya harga segini gitu, kualitas jerseinya bagus," katanya, sembari menyebut harga jersei serupa jika dibeli terpisah bisa menembus Rp 500 ribu.
Kebanggaan serupa juga diakui Alvian. Baginya, jersei dan atribut finisher dari brand besar adalah semacam portofolio pribadi yang tak semua orang bisa dapatkan.
"Ada kayak kemarin-kemarin juga ada reward nih kayak finisher segini. Nah itu kan kayak ada kebanggaan sendiri, enggak semua tuh bisa di posisi kayak gitu loh," ujar Alvian.
Para pelari sadar betul bahwa diri mereka adalah bagian dari mesin promosi berjalan bagi brand tersebut. Namun kesadaran itu tak lantas membuat mereka enggan.
Selama nama besar itu menjamin kualitas penyelenggaraan, para pelari akan tetap antre mendaftar—rela membayar demi pencapaian pribadi hingga adu gengsi.
