Ingin Menjadi Dokter Konflik, Malah Jadi 'Dokter Fakta'

Jurnalis Liputan Khusus kumparan
Konten dari Pengguna
27 Juni 2022 17:24
·
waktu baca 7 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Agaton Kenshanahan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar pertama yang saya ambil saat bergabung menjadi wartawan kumparan. Foto: Agaton/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gambar pertama yang saya ambil saat bergabung menjadi wartawan kumparan. Foto: Agaton/kumparan
ADVERTISEMENT
Menjadi wartawan bukanlah mimpi saya. Saat baru memasuki kuliah di Prodi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, 2014 lalu, saya justru lantang mengatakan di hadapan kawan-kawan seangkatan dan dosen yang mengajar kala itu ingin menjadi dokter saja.
ADVERTISEMENT
“Dokter konflik,” kata saya pede diiringi tepuk tangan 70 rekan-rekan angkatan kami, itu kalau tidak salah hitung dan kalau tidak ada yang bolos atau titip absen. Saat itu saya mengira, hanya diplomat yang bisa meredakan konflik dan menegakkan perdamaian dunia, jadi jalan pendidikan di Unpad itulah yang saya pilih.
Sekarang, saya tertawa terbahak-bahak menulis ini sambil mengingat masa-masa itu. Dan jadilah saya kini seorang wartawan, terdampar di profesi ini hampir 4 tahun lamanya.
Meski demikian, pivot antara pendidikan dan karier ini bukan tanpa alasan. Lucunya karena berkuliah di HI Unpad itulah, karier kewartawanan saya temukan. Di sini saya jadi suka menulis.
Kesukaan dengan kegiatan tulis menulis itu berasal dari inspirasi saya ke tokoh Alif dalam Trilogi Negeri 5 Menara karya novelis Ahmad Fuadi yang saya baca bukunya ketika SMA medio 2011-2014. Kebetulan, Alif—yang merupakan representasi kisah Fuadi—berkuliah di kampus dan jurusan yang sama dengan saya.
ADVERTISEMENT
Dalam satu plot kisahnya di seting tahun 90-an, Alif yang berasal dari Sumatera Barat mengalami kesulitan uang karena kiriman ortu tak kunjung datang. Ia pun putar otak agar bisa menyambung hidup di perantauan tempatnya kuliah. Bertemulah ia dengan Bang Togar, kakak tingkat yang mengajarinya menulis di media, agar dapat honor.
Dari pertemuan dengan Bang Togar, kehidupan Alif di rantau jadi tercukupi. Ia rajin menulis di media, mendapat uang, dan berhasil menyambung hidup di bangku perkuliahan.
Bersumber cerita itulah saya bertemu dengan seorang kakak tingkat yang hobi menulis di media. Di kampus, ia memang terkenal sebagai aktivis dan penulis. Kebetulan, ia juga membaca novel trilogi Fuadi tersebut dan mengatakan bahwa sosok Bang Togar memang masih ada di kampus Unpad, dan kini berprofesi sebagai dosen.
ADVERTISEMENT
Sang kakak tingkat ini juga pernah digosipkan mendapat nilai A gratis dari dosen. Sebab, ada beberapa dosen di HI Unpad yang memang mendorong mahasiswa untuk menjadi intelektual publik dengan mengirim tulisan kolom ke media massa. Yang berhasil diganjar nilai.
Maka, mulai detik itu juga saya memutuskan untuk menjadikan kakak tingkat itu ‘Bang Togar’ bagi saya. Saya minta arahan dan bimbingan untuk bisa menulis di media massa.
Di saat yang sama, ada seorang dosen yang memberikan tantangan. Bilamana ada mahasiswa yang berhasil menembuskan artikelnya ke media, maka ia akan mendapat nilai A gratis dari sang dosen dan bebas tidak mengikuti perkuliahan 1 semester.
Terdorong oleh kata ‘bebas tak mengikuti perkuliahan 1 semester itu’ saya putuskan untuk menerima tantangan tersebut. “Lumayan bisa leha-leha di kamar indekos, tidur, dan mengosongkan satu jadwal kosong satu semester penuh,” pikir saya.
ADVERTISEMENT
Waktu itu, beberapa media massa nasional masih menyediakan ruang artikel opini bagi mahasiswa. Setelah lebih dari empat kali penolakan (atau lebih tepatnya pengabaian), saya tak kunjung menyerah. Pada artikel kelima yang saya kirimkan, akhirnya tulisan saya tayang juga di salah satu koran nasional.
Saat itu saya memantau publikasi tersebut terlebih dahulu di koran online-nya. Setelahnya, barulah saya beli koran fisiknya ketika sudah mengetahui bahwa tulisan saya dimuat. Esoknya, saya semringah menenteng-nenteng koran tersebut ke ruang dosen, dan menagih janji tadi. Sang dosen pun mengabulkannya.
Selama 4 tahun berkuliah, saya setidaknya sudah berhasil mendapat tiga kali nilai 'A' gratis karena tulisan-tulisan di media tersebut. Saya leha-leha di indekos sementara mahasiswa lain kuliah. Saat saya iseng masuk kelas yang mana saya sudah dapat jaminan nilai, saya malah disuruh pulang sama dosennya. “Sudah tidur saja, sana,” begitu katanya.
ADVERTISEMENT
Selain karena ‘insentif’ tersebut, belakangan saya suka menulis memang bukan termotivasi oleh novel Ahmad Fuadi atau ingin dapat nilai A gratis dari dosen. Namun saya menyadari, tulisan-tulisan yang acap dikirimkan ini juga berbuah honor yang tidak sedikit.
Ada satu masa di mana satu tulisan yang dimuat media cetak kenamaan nasional kala itu dihargai Rp 400 ribu sekali tayang. Waktu masih jadi mahasiswa di Jatinangor, duit sebesar itu bisa untuk makan setengah bulan.
Padahal tulisan itu hanya sekadar cerita-cerita kegiatan Kuliah Kerja Nyata saya di sebuah desa antah berantah di Ciamis, Jawa Barat. Dari sini saya menyadari, kegiatan tulis menulis ini adalah profesi yang bisa digeluti di kemudian hari.
Keinginan menjadi ‘dokter konflik’ lambat laun tandas seiring dengan saya melihat cas-cis-cusnya kawan-kawan seangkatan saya yang terlihat lebih fasih bicara bahasa Inggris. Melihat digdayanya kemampuan bahasa para kolega kala itu, saya makin tidak pede jadi diplomat karena persaingan pasti akan ketat.
ADVERTISEMENT
Akhirnya saya mencari jalan yang lebih realistis: menjadi seorang wartawan. Sebab, kegiatan ini sudah saya tekuni betul-betul sejak kuliah.
Menjajaki pertengahan masa kuliah, saya ikutan pers mahasiswa, lalu ikut bergaul dengan kawan-kawan di Prodi Jurnalistik. Bahkan di akhir masa kuliah saya membuat skripsi bertema media, dan mengerjakannya pun di Fakultas Ilmu Komunikasi. Seniat itulah usaha pivot pendidikan dan karier saya upayakan.
Setelah lulus dan wisuda, saya sempat menganggur sebulan lamanya. Sebenarnya bukan menganggur, tetapi sedang di tahap mencari pekerjaan. Berbekal puluhan portofolio tulisan di media yang saya buat semasa kuliah, saya melamar pekerjaaan sebagai wartawan. Ada beberapa media yang tertarik merekrut, walaupun banyak juga yang memang mengabaikan lamaran saya begitu saja.
ADVERTISEMENT
kumparan adalah media pertama yang menerima saya dengan tangan terbuka. Yang pertama juga saya iyakan. Setelah melalui proses interview dengan user di kantornya di daerah 'istimewa' Jakarta Selatan, saya akhirnya ditelepon pihak HRD untuk last interview menuju tahap offering.
Saya yang sedang mengendarai motor kala itu langsung beringsut meminggirkan dan mengangkat telepon dari HRD itu. Beberapa yang ditanyakan: soal gaji, kapan bisa bergabung, dan kesibukan saya belakangan ini. Untuk pertanyaan terakhir, tentu saya tidak mungkin menjawab ‘lagi nganggur’.
“Belakangan saya sibuk menulis, Mbak,” jawab saya.
“Emm, menulis apa ya, Mas?”
“Menulis lepas,” kata saya tak mengelaborasi lebih jauh. Mbak-mbak HRD kumparan di ujung telepon sepertinya hanya manggut-manggut sambil berkata ‘ooh’ panjang.
ADVERTISEMENT
Menurut saya, itu adalah satu-satunya jawaban yang tetap elegan, tapi juga tidak berbohong. Bagaimanapun kejujuran mesti tetap dipertahankan, apalagi mau menjadi wartawan.
Walapun faktanya, saya belakangan memang menulis lepas seperti menulis status di Facebook atau menulis surat lamaran ke berbagai perusahaan kala itu, haha. Tapi perlu dicatat bahwa saat menganggur itu, saya juga sempat menulis lepas ke media daring nasional, walaupun hanya satu artikel saja yang naik dalam sebulan. Honornya kira-kira Rp 225.000 sekali tayang waktu itu.
Tak terasa, sudah hampir 4 tahun saya menjadi wartawan di kumparan. Memang menjadi wartawan asyik, tapi juga penuh tantangan dan tak seindah yang dibayangkan. Kalau mau mengenang, saya lebih suka menceritakan sepenggal pengalaman-pengalaman yang menurut saya absurd, di antaranya:
ADVERTISEMENT
  • Ditugaskan meliput konser dugem semalam suntuk di Kemayoran, saya malah tertidur di tempat liputan.
  • Saat bertugas meliput kegiatan di sebuah bar di Kemang, Jakarta Selatan, saya bertanya kepada resepsionis di sana perihal apakah ada tempat salat saat memasuki waktu magrib. Ternyata sang resepsionis malah bingung dan mengarahkan saya salat di luar gedung tersebut.
  • Saat diberi goodie bag yang berisi amplop, saya mendadak takut sekali dan berkeringat, lalu mengejar orang yang memberi bingkisan itu dan mengembalikannya.
  • Ada juga orang yang giliran berkeringat dingin saat bertemu saya. Katanya dia takut menghadapi wartawan, khawatir pekerjaannya terancam. Padahal saya liputan pakai baju koko, dan tak memaksakan jawaban darinya.
  • Saya pernah menyamar sebagai mahasiswa untuk ikut kencan buta antar kampus saat saya baru dua bulan menikah. Ini adalah bentuk jurnalisme partisipatif di mana pewarta turut menjadi bagian dari subjek yang diberitakan. Saya kencan buta hingga tengah malam dengan tiga mahasiswi secara online di sebelah istri saya, saat masih numpang di rumah mertua. Liputan terhoror sejauh ini.
ADVERTISEMENT
  • Saat merencanakan liputan yang aneh-aneh, saya meminta izin istri dahulu sebelum mengusulkan bahan untuk dirapatkan, misalnya izin untuk liputan soal jasa pacar sewaan di media sosial. Di mana saya sudah merencanakan untuk melakukan jurnalisme partisipatif lagi, haha.
Itulah sepenggal pengalaman absurd selama menjadi wartawan. Tentu ada pahit-getir yang dirasakan, akan tetapi kalau dipikir-pikir banyak juga senang dan lucunya.
Yang menantang pasti ada, salah satunya soal Uji Kompetensi Wartawan yang tahun ini kembali digelar kumparan 25-26 Juni 2022 untuk mensertifikasi wartawannya. Saya sempat gugup karena tak ada waktu persiapan. Akan tetapi setelah dijalani dan mempraktikkan apa yang dikerjakan sehari-hari, alhamdulillah, akhirnya lulus juga.
Mari hadapi kenyataan, saya mungkin tidak akan/belum tersertifikasi sebagai "dokter konflik". Namun, biarlah kali ini saja saya tersertifikasi menjadi "dokter fakta" dan diakui menjadi seorang pewarta.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·