‘Mesin Gol’ Bernama Ika Wonda dan Jalan Panjang Sepak Bola Putri di Pentas Dunia
·waktu baca 4 menit

Usianya baru enam tahun ketika Ika Wonda berkenalan dengan sepak bola. Kecintaan terhadap olahraga itu tumbuh usai kakak laki-laki dan perempuannya mengenalkannya kepada si kulit bundar.
“Saya dari dulu memang suka bermain sepak bola, dan saya ingin menunjukkan bahwa saya juga bisa,” kata Ika Wonda.
Demi mendapat pendidikan layak, Ika bertolak 3.057 km dari tempat asalnya di Distrik Ilu, Jaya Wijaya, Papua, menuju Surakarta pada 2022. Selain bersekolah, di sini Ika juga rajin berolahraga dan mulai menyeriusi sepak bola yang disenanginya.
Di Surakarta, Ika tinggal bersama sembilan rekan asal Papua lainnya. Mereka awalnya mengandalkan penghidupan dari kanal YouTube “Jalak Lawu 94” yang pengikutnya mencapai 16,8 ribu. Namun di balik itu, ada juga uluran tangan donatur yang tergerak untuk membiayai Ika dan anak-anak asal Papua lainnya untuk berkembang.
Tak dinyana, tinggal jauh dari kampung halamannya di Distrik Ilu, Puncak Jaya, Papua Tengah, Ika sedang menulis babak baru dalam sejarah sepak bola putri usia dini Indonesia.
Berlatih bersama SD Kristen Manahan Surakarta, perlahan bakat Ika terasah tajam. Pada MilkLife Soccer Challenge Solo Series 1 2024, ia tampil sebagai ujung tombak dan mengemas 32 gol sepanjang turnamen, membawa timnya menjadi juara sekaligus mengantarnya menyandang status pencetak gol terbanyak di kelompok umur (KU) 10.
Pada Series 2 tahun yang sama, catatannya makin fantastis: 43 gol, mengantarkan SD Kristen Manahan meraih gelar juara secara back-to-back.
Konsistensi Ika di atas lapangan tergambar jelas dari rekam jejak resminya. Sejak 2024 hingga musim 2025-2026, ia tercatat sebagai Top Scorer sebanyak lima kali berturut-turut: di MilkLife Soccer Challenge Solo Series 1 2024, MilkLife Soccer Challenge Solo Series 2 2024, MilkLife Soccer Challenge Solo Seri 1 2025-2026, MilkLife Soccer Challenge Solo Seri 2 2025-2026, hingga MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026.
Total gol yang ia kumpulkan dari seluruh turnamen yang tercatat sudah menembus angka 200 gol—capaian yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Yang membuatnya makin istimewa, perempuan kelahiran Ilu, 11 Juni 2014, itu tak hanya berlaga di kelompok umur (KU) 10 dan KU 12, tetapi juga sudah merambah kompetisi U-15 lewat Hydroplus Soccer League Kudus 2025-2026, di mana ia turut mencetak 31 gol—bukti bahwa jam terbang dan levelnya terus meningkat lebih cepat dari usianya sendiri.
Selain bakat dan usahanya, salah satu kegemilangan Ika juga didorong oleh sosok penting yakni Kurniawan Iman Santoso–yang menjadi ayah angkatnya selama di Surakarta. Sebagai ayah angkat, Iman tak hanya mendukung kiprah Ika dalam sepak bola, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab.
Jalan Panjang Menuju Panggung Dunia
Namun, jalan menuju panggung dunia bagi para pemain perempuan Indonesia masih panjang. Dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain seperti Filipina dan Vietnam yang sudah menembus kualifikasi Piala Dunia, Indonesia masih perlu mengejar ketertinggalan.
Langkah paling awal adalah segera membentuk kembali liga putri yang ditargetkan bergulir pada 2027. Namun federasi tidak bisa bergerak sendiri—dibutuhkan uluran tangan dari banyak pihak, mulai dari masyarakat, sponsor, klub, hingga pelatih di tingkat akar rumput.
Ika Wonda hanyalah satu dari banyak anak perempuan yang ingin menunjukkan bahwa sepak bola juga milik mereka, bahwa rumput hijau bukan hanya mimpi kaum laki-laki. Dalam setiap latihan dan pertandingan, mereka menggantungkan mimpi.
Langkah-langkah kecil itu boleh jadi sejarah yang tengah diukir untuk masa depan. Sebab, dalam setiap tendangan turut tumbuh harapan, dan peluh yang bercucuran menyimbolkan tekad kuat—pesan bahwa pesepak bola putri Indonesia tengah bersiap melangkah ke pentas dunia.
Kisah Ika adalah potret kecil dari perjalanan panjang yang harus ditempuh sepak bola putri Indonesia: dari Puncak Jaya, ke lapangan hijau Kota Barat, dan suatu hari nanti, mungkin ke panggung dunia.
Setiap gol yang ia bukukan bukan sekadar angka di papan skor, melainkan bukti bahwa dengan dukungan yang tepat—dari keluarga asuh, sekolah, hingga program pembinaan talenta akar rumput—mimpi anak-anak dari pelosok negeri bisa terus tumbuh bersama Indonesia.

