Konten dari Pengguna

Penyakit Kuning pada Bayi; Cukupkah dengan Sinar Matahari?

Ageng Budiananti

Ageng Budiananti

General Practitioner (Dokter Umum)

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ageng Budiananti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit Kuning pada Bayi; Cukupkah dengan Sinar Matahari?
zoom-in-whitePerbesar

Gambar: Health&. Jaundice in newborns. 13 September 2018. Available at: https://healthand.com/au/topic/general-report/jaundice-in-newborn-babies.

Kuning pada bayi baru lahir dapat dikatakan normal, tetapi juga bisa menjadi suatu tanda awal penyakit, baik penyakit yang berhubungan dengan infeksi ataupun kelainan bawaan. Kuning pada kulit dan sklera mata bayi yang dikenal dengan istilah ikterus pada bidang medis, terjadi karena tingginya kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin merupakan suatu produk dari pemecahan hemoglobin (komponen sel darah merah) yang mengalami metabolisme di liver, dan selanjutnya masuk ke dalam usus melalui saluran bilier (saluran penghubung antara liver, kandung empedu, dan pankreas). Selain dikeluarkan pada feses melalui usus, sebagian dari bilirubin juga akan diserap kedalam pembuluh darah, yang kemudian dikeluarkan melalui urine. Bilirubin berguna sebagai penanda (marker) dari kelainan fungsi liver atau adanya sumbatan dari saluran yang dilewatinya.

Meningkatnya kadar bilirubin darah pada bayi baru lahir merupakan suatu hal normal apabila terjadi pada saat bayi berusia lebih dari dua sampai 14 hari dengan kadar bilirubin darah tidak melebihi batas normal bilirubin pada bayi. Peningkatan bilirubin ini terjadi karena pemecahan sel darah merah pada bayi akan meningkat, sedangkan sel-sel liver bayi belum sepenuhnya matang, sehingga metabolisme bilirubin pada liver belum optimal dan menyebabkan peningkatan bilirubin darah. Meningkatnya bilirubin darah (hiperbilirubinemia) diatas 4 mg/dL akan membuat warna kulit dan sklera mata bayi tampak kuning. Hiperbilirubinemia hanya bisa dibuktikan melalui pemeriksaan darah bayi di laboratorium. Meskipun fisiologis, peningkatan bilirubin tidak boleh dibiarkan mencapai kadar yang terlalu tinggi, karena memiliki efek toksik terhadap sel-sel tubuh, terutama otak. Hiperbilirubinemia terlalu lama dapat merusak otak dan menimbulkan gejala diantaranya seperti kejang dan gagal napas. Jika dibiarkan dalam jangka waktu panjang, selanjutnya dapat timbul komplikasi seperti gangguan pendengaran, retardasi mental dan gangguan motorik.

Sinar matahari berperan penting pada bayi dengan hiperbilirubinemia fisiologis untuk menurunkan konsentrasi bilirubin darah. Salih dalam jurnalnya mengenai penggunaan sinar matahari sebagai pengganti fototerapi pada ikterus neonatorum (kuning pada bayi baru lahir) menyatakan bahwa penurunan kadar bilirubin darah dapat mencapai 84% setelah paparan sinar matahari kurang lebih selama 30 menit. Paparan sinar matahari yang lebih lama dikatakan tidak berpengaruh secara signifikan dalam mengurangi kadar bilirubin. Selain itu, sinar matahari dengan efek UV dan panas yang dihasilkan akan mempengaruhi peningkatan suhu bayi. Oleh karena itu, menjemur bayi dibawah sinar matahari pagi memang efektif untuk menurunkan kadar bilirubin, tetapi tidak dianjurkan untuk dilakukan dalam rentang waktu yang terlalu lama.

Tapi, yang perlu diperhatikan adalah, apakah menjemur bayi dibawah sinar matahari pagi sudah cukup? Pada bayi-bayi dengan kadar bilirubin tidak meningkat terlalu tinggi, tidak tampak kuning, dan tidak didapatkan gejala-gejala abnormal lainnya, menjemur bayi dibawah sinar matahari cukup untuk mencegah peningkatan bilirubin yang lebih tinggi lagi. Tetapi, jika kulit bayi Anda terlihat kuning pada hampir seluruh bagian tubuh, atau tampak kuning segera setelah lahir dan masih tampak kuning dalam jangka waktu lebih dari 10-14 hari, disertai bayi tampak lemas, muntah, perut kembung, kurangnya konsumsi ASI, demam, feses berwarna pucat seperti dempul, atau urine tampak kuning pekat seperti teh, maka Anda disarankan untuk segera konsultasi dengan dokter terdekat.

Banyak kemungkinan lain yang dapat menyebabkan kuningnya bayi selain penyebab fisiologis yang sudah disebutkan sebelumnya, seperti adanya infeksi pada bayi (hepatitis), kurangnya konsumsi ASI, penggunaan susu formula, atau penyakit yang jarang ditemukan dan juga kurang dihiraukan, yaitu kelainan kongenital pada bayi.

Terdapat beberapa kelainan kongenital atau bawaan pada bayi yang menyebabkan hiperbilirubinemia. Kelainan kongenital adalah kelainan yang terjadi selama janin masih berkembang didalam rahim dan dapat disebabkan oleh banyak faktor. Kelainan-kelainan itu bisa menyebabkan tersumbatnya saluran yang dilewati bilirubin untuk menuju kedalam usus, seperti:

  1. Atresia bilier (tidak terbentuknya saluran bilier)

  2. Kista choledocal (kista pada saluran bilier), ataupun

  3. Annular pancreas (pankreas yang membentuk cincin mengelilingi saluran bilier).

Terhambatnya bilirubin masuk kedalam usus, menyebabkan bilirubin yang terserap kedalam darah meningkat. Selain kelainan-kelainan tersebut, masih ada beberapa kelainan kongenital lain yang bisa menyebabkan hiperbilirubinemia. Kelainan kongenital pada umumnya memerlukan manajemen atau pengobatan dari bagian bedah anak yang saat ini tengah berkembang di Indonesia, meskipun tidak seluruh penyakit memerlukan tindakan operatif sebagai jalan keluarnya. Pertama, pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan yang menyeluruh perlu dilakukan untuk menentukan diagnosis penyakit penyebab ikterus, dimulai dari yang paling sederhana.

Deteksi dini kelainan kongenital dapat dilakukan pada janin maupun pada bayi baru lahir, dan mempengaruhi manajemen penyakit, sehingga kelainan tidak menimbulkan komplikasi yang berlarut-larut. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2015, 303.000 dari 2.68 juta kematian pada bayi disebabkan oleh kelainan kongenital di dunia. Meskipun jarang, penyakit-penyakit yang terjadi segera setelah bayi lahir banyak disebabkan oleh kelainan kongenital (WHO, 2015). Stigma pada masyarakat mengenai kelainan bawaan juga harus ditinggalkan, guna mengurangi tindakan yang justru menunda pemeriksaan dan penanganan dini pada anak.

Oleh karena itu, pemantauan yang baik pada bayi sangat diperlukan dari orangtua. Gejala kuning pada bayi tidak boleh hanya dianggap sebagai suatu hal yang fisiologis/ normal, melainkan juga perlu evaluasi lebih lanjut karena dapat disebabkan oleh banyak kemungkinan lainnya. Orangtua dihimbau untuk tidak panik jika bayi tampak kuning, tetapi pengetahuan akan kapan kuning dianggap normal atau tidak, perlu diketahui dan diperhatikan. Maka dari itu, jangan ragu untuk segera mengkonsultasikan bayi Anda dengan dokter terdekat!