Konten dari Pengguna

Sriwijaya Sebagai Kerajaan Maritim Terbesar Pertama di Nusantara

Ageng Rachmad

Ageng Rachmad

Saya seorang mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu PendidIkan, Universitas Jember.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ageng Rachmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi | Foto Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi | Foto Pixabay

‘Sriwijaya.., sang maharaja laut, mengarungi samudra waktu dengan kejayaan yang berkilau di perairan Nusantara’, ya.. setidaknya kalimat ini yang cocok menggambarkan gemilaunya kejayaan kemaritiman di Nusantara.

Berbicara soal Nusantara, agaknya istilah ini kian lama kian menarik untuk dikaji. Terlebih setelah namanya terpilih menjadi nama Ibu Kota Negara Republik Indonesia yang baru, sejak diumumkannya oleh Presiden Jokowi pada 2019 lalu.

Penggunaan istilah Nusantara sebenarnya tak sebatas merujuk pada satu wilayah administrasi, melainkan seluruh wilayah Asia Tenggara sekarang ini, khususnya bagi negara-negara yang memiliki kesamaan historis tentang keberadaan penguasa yang pernah eksis pada zamannya, seperti salah satunya Kerajaan Sriwijaya (kurun waktu antara abad ke 7-8).

Kerajaan ini didirikan oleh seorang tokoh lokal Melayu di Sumatra, yakni Dapunta Hyang Shri Jayanasa dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 670 hingga 1025. Kerajaan ini mendominasi perdagangan di Nusantara sebab kehebatannya dalam memanfaatkan potensi kelautan di selat Malaka yang saat itu merupakan pusat pelayaran paling penting yang menghubungkan pelayaran antara Cina dan India.

Medio abad ke 7, Sriwijaya memiliki dua pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan di kawasan pantai Tenggara Sumatera, yakni Palembang dan Jambi. Kedua pelabuhan ini pernah dikunjungi oleh peziarah Buddha dari Cina (I-Tsing) setelah berlayar selama 20 hari. Kemudian ia mengajarkan agama Buddha Mahayana selama tiga tahun sebelum ia kembali lagi ke negara asalnya Cina. Pemilihan kedua pelabuhan tersebut, terutama di wilayah Jambi memiliki keuntungan lebih dalam bidang perdagangan dan pelayaran, sebab dapat menghubungkan langsung ke selat Malaka.

Jalur perdagangan atau pelayaran pada masa Kerajaan Sriwijaya | Foto Mongabay

Sebagai kerajaan maritim klasik, Sriwijaya sangat menguasai jalur lalu lintas pelayaran sekaligus perdagangan internasional, bahkan setiap pelayaran dari Asia Barat (Timur Tengah) yang ingin menuju ke Asia Timur, harus melalui daerah kekuasaan Sriwijaya terlebih dulu. Meskipun ancaman dari luar seperti adanya pembajak laut, perampok dan lain sebagainya, kerajaan ini masih mampu menanggulanginya sebab Sriwijaya memiliki bala tentara yang sangat kuat dan disiplin, serta mampu menindas para pemberontak.

Awal abad ke 10, sebuah penanda puncak dari kejayaan kerajaan ini. Hal ini ditandai dengan terjalinnya perdagangan maritim antara Sriwijaya dengan pedagang-pedagang Arab, bahkan juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Chola dari India Selatan. Hubungan ini tidak hanya bertujuan untuk mementingkan dibidang politik dan ekonomi, melainkan juga menjadi satu hubungan yang mampu menyebarkan budaya dan dogma oleh para pedagang-pedagang yang masuk. Seperti upaya penyebaran agama Islam oleh pedagang Arab, dan agama Budha oleh pedagang dari India.

Produk lokal yang menjadi primadona melalui perdagangan maritim Kerajaan Sriwijaya, seperti beras, rempah-rempah, gading, kayu manis, kemenyan, emas, kulit binatang, dan lain-lain. Dalam mencapai target pasar tersebut, Sriwijaya kemudian memperluas wilayah kekuasaannya di perairan Laut Jawa, Laut Banda, bahkan laut timur Indonesia.

Pada puncaknya, awal abad 13 ialah momentum akhir dari gemilangnya kerajaan ini. Sriwijaya akhirnya runtuh. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti;

  1. Ketidakmampuan penguasa Sriwijaya dalam menyesuaikan diri terhadap pasar baru yang lebih kompetitif terhitung dari abad ke 12,

  2. Terjadi perubahan kekuasaan antara tahun 1178 dan 1183, di mana Kerajaan Sriwijaya diperintah oleh raja dari Melayu, yang sebelumnya merupakan bawahan dari Sriwijaya dan terjadinya ekspansi perdagangan dari Cina pada abad ke 12,

  3. Pengaruh niaga bangsa Arab ke pantai timur Afrika yang mulai mengancam perdagangan Sriwijaya, khususnya di Selat Malaka,

  4. Pengaruh bangsa Tamil di India yang menutup jalur perdagangan laut ke Sriwijaya, dan bangkitnya vassal (budak, pengikut) Sriwijaya, seperti Kedah di Semenanjung Malaya yang dengan cerdik memanfaatkan kemerosotan Kerajaan Sriwijaya untuk kebangkitan mereka.

Meskipun cerita-cerita ini telah terlampau jauh. Keeksisan dari gemilangnya Sriwijaya sebagai penguasa maritim pertama di Nusantara sudah cukup menjadi bukti tak terbantahkan akan kejayaan nenek moyang kita. Kejayaan mereka adalah bukti nyata bahwa Nusantara pernah menjadi pusat peradaban yang disegani bangsa asing. Hingga kini, kebanggaan itu masih melekat kuat di hati kita, mengingatkan kita akan tanggung jawab untuk menjaga dan terus melanjutkan warisan ini.

Dan akhirnya, tulisan ini meminjam lagu Ibu Soed; ‘nenek moyangku, seorang pelaut’.