Konten dari Pengguna

Merah, Dupa, Lalu Konghucu: Sesederhana Itukah Cara Kita Memandang Kelenteng?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aghitsna Najwa Syakira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba bayangkan sebuah kelenteng. Apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Bangunan serba merah, lampion bergelantungan, kepulan asap dupa, patung dewa-dewi, dan satu hal yang sepertinya langsung muncul di kepala: Konghucu.

Tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Menganggap semua kelenteng sebagai tempat ibadah umat Konghucu sama saja dengan menilai isi buku hanya dari sampulnya. Padahal, ada banyak hal yang luput dari perhatian jika kita hanya berhenti pada kesan pertama.

Salah satu tempat yang bisa membantu kita memahami hal tersebut adalah Kelenteng Liong Hok Bio di Kota Magelang, Jawa Tengah. Berdiri di kawasan Pecinan, tidak jauh dari Alun-Alun Magelang, kelenteng ini bukan sekadar bangunan berwarna merah dan ornamen khas Tionghoa. Di dalamnya terdapat tradisi peribadatan Tridharma yang memuat unsur ajaran Buddha, Konghucu, dan Taoisme.

Kelenteng yang Menyimpan Cerita Panjang

Sebelum membahas identitas keagamaannya, ada baiknya kita menengok sedikit ke belakang. Keberadaan Kelenteng Liong Hok Bio tidak bisa dilepaskan dari kedatangan masyarakat Tionghoa ke Magelang.

Berdasarkan penuturan Pak Gunawan, salah satu pengurus kelenteng, masyarakat Tionghoa yang berpindah dari Kutoarjo ke Magelang pada periode 1825–1830 membawa dua patung Dewa Bumi dari Tiongkok. Awalnya, kedua patung tersebut digunakan sebagai sarana peribadatan di kawasan Jalan Daha sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi kelenteng yang sekarang.

Pembangunan kelenteng ini juga melibatkan peran sejumlah tokoh. Be Koen Wie atau Tjok Lok disebut sebagai sosok yang menyediakan lahan di kawasan Pecinan Magelang. Sebagian tanah tersebut kemudian disumbangkan untuk pembangunan tempat ibadah. Proses pembangunan berlangsung sekitar 1860–1864 dan kelenteng diresmikan pada 1864.

Sejak saat itu, Kelenteng Liong Hok Bio menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Tionghoa di Magelang. Namun, cerita menariknya bukan hanya soal kapan bangunan ini berdiri atau siapa yang terlibat dalam pembangunannya. Ada hal lain yang tidak kalah menarik, yaitu tradisi keagamaan yang hidup di dalamnya.

Lalu, apa yang membuat kelenteng ini menarik untuk dibicarakan?

Jawabannya adalah Tridharma. Secara sederhana, istilah ini merujuk pada tradisi yang melibatkan tiga unsur ajaran, yakni Buddha, Konghucu, dan Taoisme. Ketiganya bukan ajaran yang sama. Masing-masing memiliki pemikiran dan penekanan yang berbeda.

Buddha, misalnya, mengajarkan jalan menuju pencerahan dan pembebasan manusia dari penderitaan atau dukkha. Konghucu menekankan nilai moral, etika, kesopanan, serta hubungan manusia dengan keluarga dan masyarakat. Sementara itu, Taoisme mengajarkan keseimbangan hidup dan keharmonisan dengan alam.

Ketiga ajaran tersebut memiliki sejarah dan tradisinya masing-masing. Namun, dalam praktik peribadatan Tridharma, unsur-unsur tersebut dapat hadir dalam satu lingkungan kelenteng. Di sinilah kita bisa melihat bahwa kehidupan keagamaan di kelenteng tidak selalu sesederhana yang dibayangkan orang dari luar.

Berdasarkan keterangan pengurus, Kelenteng Liong Hok Bio pernah menginduk pada agama Buddha sekitar 1950-an. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari perkembangan identitas kelembagaannya hingga dikenal dengan tradisi Tridharma. Karena itu, menyebut kelenteng ini semata-mata sebagai tempat ibadah Konghucu jelas belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan identitasnya.

Barangkali di sinilah letak persoalannya. Kita sering kali lebih cepat mengenali simbol daripada memahami maknanya. Melihat ornamen Tionghoa, langsung menghubungkannya dengan Konghucu. Melihat dupa dan patung dewa, lalu menganggap seluruh praktik peribadatannya sama. Padahal, simbol budaya dan identitas keagamaan bukanlah dua hal yang bisa begitu saja disamakan.

Jangan Berhenti pada Tampilan Luar

Kesalahpahaman terhadap kelenteng menunjukkan bahwa pengetahuan tentang agama dan tradisi sering kali dibentuk oleh apa yang terlihat di permukaan. Padahal, memahami suatu tempat ibadah tidak cukup hanya dengan mengenali simbol-simbolnya. Ada sejarah, ajaran, dan praktik keagamaan yang perlu diketahui agar kita tidak buru-buru menarik kesimpulan.

Kelenteng Liong Hok Bio sendiri mulai menerima kunjungan wisatawan dan menyelenggarakan kegiatan edukasi sekitar 2019–2020. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan tradisi keagamaan kepada masyarakat, termasuk pelajar. Dengan begitu, kelenteng tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar mengenal tradisi yang mungkin belum pernah mereka jumpai sebelumnya.

Salah satu wisatawan yang pernah berkunjung adalah Ibu Yah, asal Yogyakarta. Ia mengetahui Kelenteng Liong Hok Bio dari rekomendasi seorang teman dan akhirnya menyempatkan diri mampir ketika sedang dalam perjalanan menuju Temanggung. Meski belum bisa memasuki seluruh bagian kelenteng, ia tetap tertarik melihat patung-patung dewa sekaligus mengenal tempat ibadah dengan tradisi yang berbeda dari kesehariannya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kunjungan ke tempat ibadah bisa menjadi ruang belajar bagi siapa saja. Wisatawan tidak harus menganut agama yang sama untuk mengenal tradisi keagamaan suatu kelompok. Terkadang, melihat secara langsung justru menjadi langkah awal untuk memahami sesuatu yang sebelumnya terasa asing.

Namun, mengenal bukan berarti merasa bebas melakukan apa saja. Ada batas-batas yang tetap perlu dihormati ketika mengunjungi tempat ibadah. Rasa ingin tahu sebaiknya berjalan beriringan dengan kesediaan mematuhi aturan dan menghargai kegiatan peribadatan masyarakat setempat. Sebab, tempat ibadah bukan sekadar objek wisata yang bisa dinikmati sesuka hati.

Pada akhirnya, Kelenteng Liong Hok Bio mengingatkan kita bahwa sebuah tempat ibadah tidak selalu bisa dipahami hanya dari penampilan fisiknya. Warna merah, dupa, lampion, dan ornamen Tionghoa memang menjadi bagian yang mudah dikenali. Namun, di balik semua itu terdapat sejarah panjang dan tradisi keagamaan yang jauh lebih beragam daripada dugaan kita.

Jadi, lain kali ketika melihat kelenteng, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa itu pasti tempat ibadah Konghucu. Sebab, mengenali sesuatu tidak cukup hanya dengan melihatnya. Terkadang, kita perlu sedikit meluangkan waktu untuk mencari tahu sebelum merasa paling tahu.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi penulis, 28 September 2026.