Literasi dan Numerasi: Bukan Sekadar Bisa Membaca dan Menghitung

Seorang Guru Bahasa Inggris di Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Agi Julianto Martuah Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Saya bisa menghitung, Pak.”
Dua kalimat sederhana yang mungkin sering kita dengar di sekolah.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah sudah membaca berarti sudah memahami?
Apakah sudah bisa menghitung berarti sudah mampu menggunakan matematika?
Pertanyaan sederhana ini membawa kita pada dua kemampuan penting dalam pendidikan: literasi membaca dan numerasi.
Keduanya bukan hanya tentang nilai pelajaran. Keduanya adalah keterampilan yang kita gunakan setiap hari—ketika membaca informasi, memahami aturan, menghitung uang, membandingkan pilihan, membaca data, dan mengambil keputusan.
Literasi dan Numerasi Bukan Sekadar Pelajaran
Literasi membaca secara sederhana adalah kemampuan memahami informasi tertulis dan menggunakan informasi tersebut dengan tepat.
Sementara itu, numerasi adalah kemampuan menggunakan konsep matematika untuk memahami dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, literasi bukan sekadar bisa membaca, dan numerasi bukan sekadar bisa menghitung.
Seorang murid mungkin mampu membaca sebuah pengumuman, tetapi belum tentu memahami informasi penting di dalamnya.
Seorang murid mungkin mampu menghitung persentase, tetapi belum tentu mampu menentukan pilihan mana yang lebih menguntungkan.
Karena itu, yang penting bukan hanya “Saya bisa.”
Tetapi:
“Saya bisa menggunakan apa yang saya pelajari.”
Ketika Membaca Tidak Berarti Memahami
Mari kita mulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan murid.
Guru mengirimkan pengumuman melalui WhatsApp.
Murid membacanya.
Beberapa menit kemudian muncul pertanyaan:
“Besok masuk jam berapa?”
“Tugasnya dikumpulkan kapan?”
Padahal, informasi tersebut sebenarnya sudah tertulis dalam pengumuman.
Situasi sederhana ini menunjukkan bahwa membaca tidak selalu berarti memahami.
Kita dapat membaca dengan cepat, tetapi tidak selalu memberikan perhatian yang cukup terhadap informasi yang kita baca. Inilah salah satu hal yang relevan ketika membicarakan hasty reading, yaitu kecenderungan membaca atau merespons informasi secara terburu-buru.
Dalam PISA 2025, OECD memberikan perhatian terhadap kecenderungan peserta didik memberikan respons secara cepat tetapi salah. Pada rata-rata 35 negara OECD yang dianalisis, proporsi hasty readers meningkat dari sekitar 6,6% pada 2018 menjadi 11,4% pada 2025.
Bagaimana dengan Indonesia?
Pada PISA 2025, skor membaca Indonesia berada pada angka 365, sedangkan rata-rata OECD 461. Sekitar 27% peserta didik Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, dibandingkan dengan 69% pada rata-rata OECD.
Angka-angka tersebut bukan untuk membuat kita berhenti pada perbandingan.
Justru, angka tersebut dapat menjadi bahan untuk bertanya:
Apakah kita sudah membaca dengan cukup teliti?
Ketika Matematika Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Hal yang sama terjadi pada numerasi.
Murid mungkin dapat mengerjakan soal persentase di buku.
Tetapi bagaimana ketika mereka berada di supermarket dan melihat dua pilihan:
Diskon 30%
atau
Beli 2 Gratis 1.
Mana yang lebih menguntungkan?
Untuk menjawabnya, kita tidak hanya membutuhkan kemampuan menghitung.
Kita perlu membaca informasi, memahami kondisi, melakukan perhitungan, membandingkan pilihan, dan akhirnya mengambil keputusan.
Itulah numerasi.
Hasil PISA 2025 menunjukkan skor matematika Indonesia sebesar 364, sementara rata-rata OECD adalah 472. Sekitar 28% peserta didik Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika, dibandingkan dengan 69% pada rata-rata OECD.
Sekali lagi, angka tersebut dapat menjadi bahan refleksi:
Apakah kita hanya belajar matematika untuk mendapatkan jawaban, atau belajar matematika untuk memahami kehidupan?
Literasi dan Numerasi Ada di Sekitar Kita
Sebenarnya, kita tidak perlu mencari contoh yang terlalu jauh.
Literasi dan numerasi ada di sekitar kita.
Ketika murid membaca pengumuman sekolah dan menemukan informasi tentang kegiatan, waktu, tempat, dan hal yang harus dipersiapkan, ia sedang menggunakan literasi membaca.
Ketika murid membaca instruksi tugas dan memahami apa yang harus dilakukan, ia juga sedang menggunakan literasi.
Ketika murid menghitung apakah uang sakunya cukup untuk membeli makanan dan memenuhi kebutuhan selama beberapa hari, ia sedang menggunakan numerasi.
Ketika murid membandingkan harga dua produk atau menghitung diskon sebelum membeli sesuatu, ia juga sedang menggunakan numerasi.
Bahkan ketika murid melihat sebuah grafik di media sosial dan mencoba memahami apakah data tersebut benar-benar mendukung suatu pernyataan, literasi dan numerasi bekerja bersama.
Ketika Literasi Bertemu Numerasi
Dalam kehidupan nyata, literasi dan numerasi sering kali tidak dapat dipisahkan.
Bayangkan seorang murid melihat informasi:
Minuman A mengandung 25 gram gula. Minuman B mengandung 15 gram gula.
Untuk memahami informasi tersebut, kita perlu membaca.
Untuk mengetahui perbedaannya, kita menggunakan angka.
Untuk menentukan pilihan, kita perlu berpikir dan mengambil keputusan.
Di sinilah literasi dan numerasi bertemu.
Literasi membantu kita memahami informasi.
Numerasi membantu kita memahami angka dan data.
Keduanya membantu kita membuat keputusan yang lebih tepat.
Bagaimana Murid Bisa Membaca Lebih Teliti?
Membaca teliti tidak harus sulit.
Ada tiga kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan.
1. Baca sampai selesai
Jangan langsung menyimpulkan hanya dari judul atau kalimat pertama.
Biasakan membaca informasi secara utuh.
2. Cari informasi penting
Tanyakan:
Apa? Siapa? Kapan? Di mana? Bagaimana?
Pertanyaan sederhana ini membantu menemukan informasi utama.
3. Jelaskan kembali
Setelah membaca, tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa yang saya pahami?”
Cobalah menjelaskan kembali dengan kata-kata sendiri.
Jika kita mampu menjelaskan isi informasi dengan baik, kemungkinan besar kita tidak hanya membaca, tetapi juga memahami.
Bagaimana Guru Dapat Membantu?
Bagi guru, membangun literasi dan numerasi tidak selalu membutuhkan kegiatan yang rumit.
Mulailah dari situasi yang dekat dengan kehidupan murid.
Gunakan pengumuman sekolah, jadwal, poster, daftar harga, struk belanja, kemasan makanan, grafik, hasil survei, berita sederhana, atau informasi dari media digital sebagai bahan belajar.
Kemudian, jangan hanya bertanya:
“Apa jawabannya?”
Cobalah bertanya:
“Mengapa?”
“Bagaimana kamu mengetahuinya?”
“Apa informasi pentingnya?”
“Apakah ada cara lain?”
“Apa keputusan yang dapat kamu ambil?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut memberikan ruang kepada murid untuk menjelaskan proses berpikirnya.
Jangan Hanya Menguji dengan Soal
Literasi dan numerasi tidak harus selalu diukur melalui ulangan.
Guru dapat memberikan masalah sederhana yang meminta murid:
membaca → memahami → menghitung → menganalisis → mengambil keputusan.
Misalnya, murid diberikan sebuah brosur belanja.
Mereka membaca informasi produk, menghitung harga setelah diskon, membandingkan dua pilihan, kemudian menentukan produk yang akan dipilih dan menjelaskan alasannya.
Dalam satu aktivitas sederhana, murid menggunakan literasi dan numerasi sekaligus.
Di sinilah pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan.
Dari Menghafal Menjadi Menggunakan
Pada akhirnya, tujuan literasi dan numerasi bukan sekadar membuat murid mendapatkan nilai yang tinggi.
Kita ingin murid mampu memahami informasi, menggunakan angka dan data, memecahkan masalah, mempertimbangkan pilihan, menjelaskan alasan, dan mengambil keputusan.
Untuk murid, ini berarti belajar bukan hanya untuk menjawab soal.
Belajar adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai situasi yang akan ditemui dalam kehidupan.
Untuk guru, ini berarti pembelajaran tidak harus selalu dimulai dari buku teks dan berakhir pada lembar jawaban.
Kadang-kadang, sebuah pengumuman WhatsApp, daftar harga, grafik sederhana, atau kemasan makanan dapat menjadi bahan belajar yang sangat bermakna.
Read It. Count It. Use It.
Literasi membuat kita mampu memahami informasi.
Numerasi membuat kita mampu memahami angka, data, dan hubungan kuantitatif.
Namun, tujuan akhirnya sama: menggunakan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan nyata.
Karena pendidikan bukan hanya tentang membuat murid mampu membaca teks dan menghitung angka.
Pendidikan juga tentang membantu mereka memahami informasi, berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Maka, lain kali ketika seorang murid berkata,
“Saya sudah baca, Pak.”
Mungkin pertanyaan berikutnya bukan:
“Sudah?”
Tetapi:
“Apa yang kamu pahami dari apa yang kamu baca?”
Dan ketika seorang murid berkata,
“Saya sudah menghitung, Pak.”
Kita dapat bertanya:
“Lalu, apa arti hasil perhitunganmu?”
Karena pada akhirnya, literasi dan numerasi bukan hanya tentang apa yang kita bisa kerjakan di kelas, tetapi tentang apa yang mampu kita gunakan dalam kehidupan.
Read it. Count it. Understand it. Use it.
Penulis:
Christian Javieri, S.Pd.
Agi Julianto Martuah Purba, M.Pd.
