Mahasiswa KKN UNS 14 Sulap Limbah Kayu Pantai Menjadi Produk Kreatif di Bimorejo
Tulisan dari AGIL ARIAN AZZRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyuwangi, 17 Agustus 2026 — Potongan kayu yang terbawa hingga kawasan pesisir Pantai Bimo, Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, selama ini lebih banyak dipandang sebagai material sisa yang perlu disingkirkan. Namun bagi mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 14, material tersebut menyimpan peluang lain yaitu diolah kembali menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui program kerja SAMUDRA LESTARI yang mengangkat pemanfaatan limbah kayu pesisir menjadi gantungan kunci. Program ini tidak sekadar berupaya memanfaatkan material yang tersedia di sekitar pantai, tetapi juga memperkenalkan cara pandang bahwa sesuatu tetapi juga memperkenalkan cara pandang bahwa sesuatu yang dianggap limbah masih dapat memiliki nilai apabila diolah dengan kreativitas.
Berawal dari Persoalan di Kawasan Pesisir
Keberadaan material kayu di kawasan Pantai Bimo menjadi salah satu kondisi yang diperhatikan mahasiswa KKN UNS selama melakukan pengamatan dan berkoordinasi dengan masyarakat setempat. Kayu, ranting, maupun material sejenis yang berada di kawasan pesisir dapat menjadi material yang belum termanfaatkan. Di sisi lain kayu memiliki karakteristik yang memungkinkan untuk diolah kembali menjadi berbagai produk kerajinan. Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa KKN untuk tidak berhenti pada pendekatan membersihkan atau menyingkirkan material yang ada. Mereka mencoba mencari alternatif pemanfaatan yang lebih produktif dengan mengolah sebagian limbah kayu yang masih layak menjadi produk kreatif.
Dari Kayu Pesisir Menjadi Gantungan Kunci
Proses pembuatan dilakukan melalui beberapa tahapan. Limbah kayu yang akan digunakan terlebih dahulu dipilih berdasarkan kondisi dan kelayakannya. Kayu kemudian dipotong dan dibentuk sesuai ukuran produk yang direncanakan.
Setelah pemotongan, permukaan kayu dihaluskan agar lebih siap digunakan sebagai media produk. Tahap berikutnya adalah menyiapkan desain yang mengangkat identitas Pantai Bimo untuk kemudian diaplikasikan pada permukaan kayu.
Mahasiswa KKN UNS 14 menggunakan teknik transfer gambar untuk memindahkan desain ke media kayu. Setelah gambar berhasil diaplikasikan, produk melalui tahap penyelesaian akhir dan pemasangan komponen gantungan sehingga terbentuk produk gantungan kunci yang siap digunakan.
Proses tersebut memperlihatkan sebuah alur sederhana:
limbah kayu → pemilahan → pengolahan → pemberian desain → finishing → produk kreatif.
Tidak Berhenti pada Produk
Selain menghasilkan produk, program SAMUDRA LESTARI juga dilanjutkan dengan pemaparan kepada Pokdarwis Desa Bimorejo. Pemaparan mengenai hasil dan konsep pemanfaatan limbah kayu tersebut dilakukan pada 17 Agustus 2026 malam di kawasan pesisir Pantai Bimo. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan latar belakang pemilihan limbah kayu sebagai bahan, proses pengolahannya, hingga gagasan pengembangan produk sebagai cenderamata.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting karena produk yang dibuat mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai hasil karya selama KKN. Gantungan kunci yang dihasilkan diposisikan sebagai prototipe yang dapat menjadi contoh apabila nantinya masyarakat atau Pokdarwis ingin mengembangkan produk serupa.
“Bagi kami gantungan kunci ini sebenarnya bukan sekadar produk hasil KKN. Yang lebih penting adalah proses bagaimana kami mencoba melihat sesuatu yang awalnya dianggap sebagai limbah menjadi sesuatu yang masih punya nilai. Kami sadar apa yang kami lakukan masih sederhana dan belum bisa menyelesaikan persoalan limbah di Pantai Bimo secara keseluruhan. Tapi setidaknya kami ingin meninggalkan sebuah contoh bahwa dari sesuatu yang ada di sekitar kita, ternyata masih bisa lahir sebuah karya yang punya nilai guna dan potensi ekonomi”
“Kami berharap setelah KKN selesai, ide ini tidak berhenti sebagai produk yang kami buat selama program berlangsung. Kalau nantinya Pokdarwis atau masyarakat bisa mengembangkan, memperbaiki desain, atau bahkan menjadikannya sebagai salah satu cinderamata Pantai Bimo, menurut kami itu sudah menjadi keberlanjutan yang sangat berarti dari program ini. ” ujar Agil Arian Azzra, penanggung jawab Program SAMUDRA LESTARI.
Pada akhirnya, SAMUDRA LESTARI bukan sekadar tentang mengubah potongan kayu menjadi gantungan kunci. Lebih dari itu, program ini menjadi upaya kecil mahasiswa KKN UNS untuk memperkenalkan cara pandang baru terhadap material yang selama ini dianggap sebagai limbah.
Kedepannya keberlanjutan gagasan ini tidak hanya bergantung pada mahasiswa KKN, tetapi juga pada bagaimana masyarakat dan Pokdarwis dapat mengembangkan ide tersebut sesuai dengan potensi Desa Bimorejo. Sebab menjaga lingkungan tidak selalu berarti hanya mengambil sesuatu dari alam, tetapi juga belajar memberi nilai kembali pada apa yang telah ada di sekitar kita.
Informasi terbaru serta dokumentasi perjalanan Program SAMUDRA LESTARI dapat diikuti melalui akun media sosial KKN UNS Kelompok 14.
Instagram : @angsana.bimorejo

