Konten dari Pengguna

Legenda Putri Tujuh: Asal Mula Kota Dumai

Agil Faisal

Agil Faisal

Saya bekerja di perusahaan Swasta yaitu PT. DFN Teknologi Indonesia. Posisi saya diperusahaan tersebut sebagai Manager NDT Saya juga sebagai Mahasiswa dari Universitas Pamulang Prodi Teknik Mesin.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agil Faisal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

*Sumber foto: Gemini Illustrator AI
zoom-in-whitePerbesar
*Sumber foto: Gemini Illustrator AI

Putri Tujuh adalah cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Kota Dumai, Provinsi Riau. Kisah ini menceritakan asal mula terbentuknya nama Dumai serta latar sejarah budaya di baliknya.

Pada zaman dahulu kala, di daerah yang kini dikenal sebagai Dumai, berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang ratu bijaksana bernama Cik Sima. Sang ratu memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan sebutan Putri Tujuh. Di antara mereka, putri bungsu bernama Mayang Sari adalah yang paling cantik.

*Sumber foto: Gemini Illustrator AI

Putri Mayang Sari memiliki paras yang sangat memesona. Kulitnya selembut sutra, wajahnya berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya lentik seperti semut beriring, dan rambut panjangnya yang ikal terurai bak mayang. Karena keindahan rambutnya, ia juga dijuluki Mayang Mengurai.

Pada suatu hari, ketujuh putri tengah mandi dan bersenda gurau di Lubuk Sarang Umai. Tanpa mereka sadari, keberadaan mereka diam-diam disaksikan oleh Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah tersebut. Pangeran memandangi para putri dari balik semak, dan seketika itu pula terpesona oleh kecantikan Putri Mayang Sari.

Tanpa sadar, sang pangeran bergumam lirih:

“Gadis cantik di lubuk Umai... cantik di Umai. Ya, ya... d'umai... d'umai...”

Ucapan "d'umai" itu terus terngiang di benaknya. Rupanya, pangeran telah jatuh hati dan berniat meminang sang putri.

Beberapa hari kemudian, Pangeran Empang Kuala mengirimkan utusan untuk meminang Putri Mayang Mengurai. Ia mengutus seorang pembawa tepak sirih sebagai simbol adat dan kehormatan pinangan kepada Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Ratu Cik Sima menyambut pinangan itu sesuai adat yang berlaku, yakni dengan mengisi pinang dan gambir pada combol (wadah kecil) yang paling besar di antara tujuh buah combol dalam tepak tersebut. Enam combol lainnya dibiarkan kosong, sebagai simbol bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu.

Mengetahui pinangannya ditolak secara halus, utusan pun kembali menghadap pangeran dan menyampaikan,

“Ampun, Baginda Raja. Hamba tak berniat mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistri Putri Mayang Mengurai.”

Mendengar penolakan tersebut, Pangeran Empang Kuala naik pitam. Ia merasa dipermalukan dan tidak mengindahkan lagi adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Diliputi amarah, sang pangeran segera memerintahkan pasukan dan para panglima untuk menyerang kerajaan tersebut.

Pertempuran sengit pun terjadi di pinggiran Selat Malaka. Di tengah peperangan, Ratu Cik Sima membawa ketujuh putrinya bersembunyi ke dalam hutan. Mereka disembunyikan di dalam sebuah lubang yang beratap tanah dan tersembunyi di bawah rindangnya pepohonan. Ratu juga meninggalkan bekal makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, ia kembali ke kerajaan untuk memimpin perlawanan.

Tiga bulan berlalu, namun perang tak kunjung usai. Ketika memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima mulai terdesak dan kewalahan. Akhirnya, Kerajaan Seri Bunga Tanjung runtuh. Banyak rakyat yang gugur. Dalam keputusasaan, Ratu Cik Sima memohon bantuan dari jin yang sedang bertapa di Bukit Hulu Sungai Umai.

Pada suatu senja, ketika pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai di bawah pohon-pohon bakau, terjadi peristiwa mengerikan. Secara tiba-tiba, ribuan buah bakau runtuh dan menimpa tubuh para prajurit. Dalam waktu singkat, pasukan pangeran dilumpuhkan.

Saat pasukan Empang Kuala dalam keadaan tak berdaya, utusan Ratu Cik Sima datang menemui sang pangeran. Meski dalam keadaan terluka, sang pangeran tetap bertanya,

“Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”

Utusan itu menjawab,

“Hamba datang menyampaikan pesan Ratu Cik Sima, agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita telah merusak bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa. Sebaliknya, siapa yang datang dengan niat baik ke negeri ini, akan hidup sejahtera.”

Pangeran pun tersadar bahwa dialah penyebab bencana tersebut. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk mundur dan kembali ke Negeri Empang Kuala.

Keesokan harinya, Ratu Cik Sima pergi ke tempat persembunyian putri-putrinya. Namun alangkah terkejutnya ia saat menemukan ketujuh putrinya telah meninggal dunia karena kelaparan dan kehausan. Bekal mereka ternyata hanya cukup untuk tiga bulan, sementara peperangan telah berlangsung hingga bulan keempat. Duka yang mendalam membuat Ratu Cik Sima jatuh sakit, dan tak lama kemudian ia pun wafat.

Pengorbanan Putri Tujuh dikenang masyarakat hingga kini. Lirik yang mengabadikan kisah mereka berbunyi:

“Umbut mari mayang diumbut,

Mari diumbut di rumpun buluh.

Jemput mari dayang dijemput,

Mari dijemput turun bertujuh.

Ketujuhnya berkain serong,

Ketujuhnya bersubang gading.

Ketujuhnya bersanggul sendeng,

Ketujuhnya memakai pending.”

Sejak peristiwa itu, masyarakat percaya bahwa nama Dumai berasal dari ucapan “d’umai” yang terus-menerus dilafalkan oleh Pangeran Empang Kuala saat melihat kecantikan Putri Mayang Mengurai.

*Sumber foto: Gemini Illustrator AI

Di Kota Dumai, masih dapat dijumpai situs bersejarah bernama Pesanggrahan Putri Tujuh yang terletak di dalam kompleks kilang minyak milik PT Pertamina Dumai. Beberapa nama tempat lainnya juga diabadikan untuk mengenang kisah ini, seperti:

Kilang Minyak Putri Tujuh,

Bukit Jin (tempat pertapaan jin di Hulu Sungai Umai).

Lirik Tujuh Putri juga kerap dijadikan sebagai pengiring dalam Tari Pulai dan Asyik Mayang, terutama oleh para tabib tradisional ketika mengobati orang sakit.