Konten dari Pengguna

Sekolah Rakyat: Harapan yang Dipertaruhkan

Agil Widiatmoko

Agil Widiatmoko

Penulis dan Editor Buku di Eiga Media Creative

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agil Widiatmoko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kamu harapan orang tuamu." Kalimat itu diucapkan Presiden Prabowo Subianto ketika mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, awal Juni lalu. Di hadapan para siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga prasejahtera, Sekolah Rakyat diperkenalkan dengan spirit "memuliakan keluarga miskin dan memfasilitasi kebangkitan wong cilik".

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ia membawa imajinasi yang lebih besar daripada sekadar nasihat seorang presiden kepada para siswa. Di dalamnya tersimpan keyakinan lama yang tak pernah benar-benar pudar, bahwa pendidikan masih dipercaya sebagai jalan untuk mengubah nasib dan memutus keterbatasan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tidak mengherankan jika Sekolah Rakyat segera disambut sebagai ruang harapan baru. Persoalannya, harapan tidak pernah datang sendirian, karena selalu membawa ekspektasi yang sama besarnya.

Di situlah sebuah kebijakan memasuki wilayah yang lebih kompleks. Menghadirkan optimisme mungkin bukan perkara yang paling sulit, tetapi menjaga agar optimisme tersebut tidak berubah menjadi kekecewaan merupakan pekerjaan yang jauh lebih rumit.

Bahasa, Kuasa, dan Produksi Harapan

Setiap kebijakan pada akhirnya membutuhkan bahasa untuk menjelaskan formulasinya. Dalam konteks Sekolah Rakyat, berbagai narasi mengenai kesempatan, kerja keras, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik terus dihadirkan. Pendidikan diposisikan sebagai jalan untuk memutus rantai kemiskinan dan memperluas kesempatan hidup bagi kelompok yang selama ini berada di pinggiran.

Di dalam berbagai narasi tersebut, kemiskinan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai persoalan ekonomi, melainkan juga sebagai sesuatu yang dapat diatasi melalui pendidikan. Dengan demikian, pembicaraan mengenai Sekolah Rakyat tidak hanya menyangkut pembangunan institusi pendidikan, tetapi juga menyangkut cara tertentu dalam memandang hubungan antara kemiskinan, pendidikan, dan masa depan.

Michel Foucault melihat bahasa sebagai bagian dari praktik kuasa yang membentuk pengetahuan dan cara manusia memahami kenyataan. Kuasa tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan yang kasatmata, tetapi bekerja melalui berbagai diskursus yang secara perlahan membentuk apa yang dianggap benar, normal, dan layak diperjuangkan. Dalam pengertian inilah bahasa menjadi medium yang memungkinkan lahirnya hubungan antara kuasa dan pengetahuan.

Melalui berbagai pidato dan narasi yang mengiringinya, Sekolah Rakyat tidak hanya hadir sebagai program pendidikan, tetapi menghadirkan cara pandang baru tentang masa depan. Pendidikan diposisikan sebagai jalan untuk memutus rantai kemiskinan, sementara negara tampil sebagai pihak yang membuka kesempatan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.

Dengan kata lain, Sekolah Rakyat sesungguhnya tidak hanya berbicara mengenai sekolah sebagai ruang belajar, tetapi juga mengenai bagaimana harapan dibangun dan dipelihara sebagai keyakinan bersama. Harapan tidak lagi sekadar menjadi perasaan individual, melainkan energi kolektif yang membuat perubahan nasib tetap dipandang sebagai sesuatu yang mungkin diwujudkan melalui pendidikan.

Harapan yang tumbuh menjadi keyakinan bersama selalu membawa konsekuensinya sendiri. Ketika harapan itu gagal menemukan bentuknya dalam kenyataan, yang terkikis bukan hanya kepercayaan terhadap sebuah program, tetapi juga keyakinan bahwa negara masih mampu menghadirkan masa depan yang lebih baik.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, pada Minggu (7/6/2026). Foto: Kemensos RI

Ketika Harapan Menjadi Pertaruhan

Namun, harapan selalu memiliki sisi paradoksnya sendiri. Semakin besar harapan yang diproduksi, semakin besar pula tanggung jawab untuk mewujudkannya. Terlebih, harapan yang hanya bersemayam dalam pidato, slogan, dan berbagai janji masa depan harus diuji oleh kenyataan sehari-hari yang berlangsung di ruang kelas.

Di titik inilah pertanyaan penting perlu diajukan. Siapa yang sesungguhnya akan menjaga agar harapan tersebut tidak padam?

Jawabannya tentu bukan semata bangunan sekolah atau kurikulum, melainkan para guru yang menjadi garda terdepan dalam proses pembelajaran. Di tengah proses pembukaan 3.050 formasi guru Sekolah Rakyat yang sedang berlangsung, negara tidak hanya sebatas merekrut tenaga pengajar, tetapi juga memilih mereka untuk memikul pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran.

Para siswa Sekolah Rakyat tidak datang sebagai bejana kosong. Mereka membawa pengalaman hidup yang dibentuk oleh keterbatasan ekonomi, lingkungan sosial, bahkan berbagai stigma yang selama ini melekat pada kemiskinan. Sebagian dari mereka mungkin baru pertama kali merasakan ruang belajar yang layak, perhatian yang cukup, dan kesempatan untuk membayangkan masa depan yang berbeda.

Fenomena ini membuat pendidikan melalui Sekolah Rakyat tidak hanya berurusan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga dengan pembentukan mentalitas. Bung Karno pernah mengingatkan bahwa revolusi bukan hanya berarti menjebol, tetapi juga membangun. Menjebol berbagai bentuk ketidakberdayaan yang membuat seseorang merasa kecil, sekaligus membangun manusia baru yang memiliki keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Guru Sekolah Rakyat tidak hanya dituntut mengajarkan berbagai pengetahuan, tetapi juga menjadi penuntun yang membantu peserta didik menjebol berbagai batas psikologis yang selama ini membelenggunya, sekaligus membangun keberanian untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik. Tugas semacam itu tentu jauh lebih rumit dibanding sekadar menyampaikan materi pelajaran. Dalam konteks inilah, membangun keyakinan menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting dibanding membangun kemampuan akademik.

Keberhasilan Sekolah Rakyat pada akhirnya tidak hanya diukur dari kemampuannya memutus mata rantai kemiskinan. Yang tidak kalah penting ialah kemampuannya menjaga agar para siswa memiliki keyakinan untuk berdiri di atas kaki sendiri dan menentukan masa depannya secara merdeka.

Pendidikan yang Memerdekakan

Persoalannya, pendidikan seperti apa yang mampu menjaga harapan tersebut? Dalam tradisi pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan tidak sekadar memindahkan pengetahuan, melainkan menuntun tumbuhnya segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada terbukanya akses, tetapi juga pada kemampuannya menghadirkan manusia yang mampu menentukan jalan hidupnya secara merdeka.

Dalam konteks tersebut, Sekolah Rakyat memperlihatkan ikhtiar untuk menghadirkan pendidikan yang lebih utuh. Sistem multi entry–multi exit memungkinkan peserta didik berkembang sesuai dengan kesiapan dan kebutuhan belajarnya. Kehidupan berasrama, layanan bimbingan dan konseling, pendampingan pekerjaan sosial, hingga pemanfaatan teknologi digital menunjukkan bahwa pendidikan tidak dipahami semata sebagai aktivitas belajar di ruang kelas. Ada upaya untuk melihat peserta didik sebagai manusia yang membawa pengalaman sosial, psikologis, dan latar kehidupan yang berbeda-beda.

Meskipun demikian, desain kelembagaan yang baik tidak dengan sendirinya melahirkan pendidikan yang memerdekakan. Yang lebih penting ialah bagaimana pendidikan menjadi ruang bagi tumbuhnya manusia yang mengenal dirinya, percaya pada kemampuannya, dan memiliki keberanian untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Jika orientasi tersebut hilang, berbagai inovasi yang dirancang berisiko hanya melahirkan pembaruan administratif tanpa menghadirkan pembaruan cara pandang tentang manusia.

Jika spirit tersebut mampu dijaga, Sekolah Rakyat berpeluang menjadi lebih dari sekadar program afirmasi bagi keluarga miskin. Ia dapat menjadi laboratorium pendidikan Indonesia yang menawarkan perspektif baru memandang pendidikan bagi kelompok rentan. Sebaliknya, jika berbagai inovasi yang dirancang hanya berhenti sebagai desain kelembagaan tanpa perubahan cara pandang tentang pendidikan, yang lahir sesungguhnya hanyalah ruang kelas baru dengan persoalan lama.

Tidak ada yang salah ketika negara menghadirkan harapan melalui Sekolah Rakyat. Bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran, harapan sering kali menjadi modal pertama untuk percaya bahwa masa depan masih dapat diperjuangkan.

Mungkin di situlah pertaruhan terbesar Sekolah Rakyat sesungguhnya berada. Bukan sekadar menghadirkan ruang belajar bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran, melainkan menjaga agar harapan yang telah dibangkitkan tidak berhenti sebagai janji yang indah untuk didengar. Pendidikan memang selalu dimulai dari harapan. Namun, harapan akan memperoleh maknanya ketika mampu menemukan bentuknya dalam kehidupan mereka yang mempercayainya.