Keamanan Afrika Tidak Bisa Diselesaikan dengan Senjata Saja

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari R M Agil Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Krisis Keamanan Afrika di Kawasan Sahel
Keamanan Afrika Tidak Bisa Diselesaikan dengan Senjata Saja. Afrika kerap dibicarakan sebagai kawasan yang identik dengan konflik, kudeta, dan terorisme. Tetapi masalah sebenarnya bukan sekadar banyaknya ancaman keamanan, melainkan cara dunia meresponsnya. Di kawasan Sahel terutama Mali, Burkina Faso, dan Nigeria, kekerasan telah berkembang menjadi konflik regional yang panjang, sementara data terbaru menunjukkan bahwa pada 2025 Sahel menyumbang lebih dari separuh seluruh kematian akibat terorisme di dunia. ACLED juga menegaskan bahwa konflik di central Sahel telah menjadi perang lintas batas yang dipicu oleh kelompok bersenjata beragam, bukan sekadar gangguan lokal.
Fakta ini penting karena memperlihatkan satu hal: keamanan di Afrika bukan lagi persoalan penyelesaian konflik di satu negara saja, tetapi mencegah konflik yang menyebar. Dalam laporan terbaru, ACLED mencatat bahwa aktivitas JNIM dan IS Sahel tidak hanya mempertahankan tekanan tinggi di Burkina Faso, Mali, dan Niger, tetapi juga meluas ke Benin dan Togo. Di sisi lain, GTI 2026 menunjukkan Nigeria mengalami kenaikan fatalitas terorisme sebesar 46 persen menjadi 750 korban pada 2025, sementara di Republik Demokratik Kongo jumlah kematian terkait terorisme naik hampir 28 persen menjadi 467. Artinya, ancaman keamanan di Afrika sedang bergeser dari kasus terpisah menjadi pola regional yang saling terhubung. Sumber
Inilah sebabnya pendekatan yang terlalu bergantung pada kekuatan militer sering gagal. Ketika negara hanya merespons dengan operasi bersenjata, masalah akar seperti lemahnya tata kelola, ketimpangan sosial, dan krisis legitimasi negara justru dibiarkan. ACLED mencatat bahwa serangan militan di Sahel kini menekan juga pusat-pusat urban, sementara kelompok bersenjata memanfaatkan wilayah pinggiran kota dan perbatasan yang rapuh untuk memperluas pengaruhnya. Dalam situasi seperti ini, kehadiran aktor eksternal, termasuk tentara asing atau kontraktor militer, tidak otomatis menciptakan stabilitas; justru sering memperumit konflik dan memperkuat logika perang tanpa akhir.
Masalah lain yang sering diabaikan adalah bahwa konflik keamanan di Afrika tidak berdiri sendiri dari masalah pemerintahan. African Union sendiri menegaskan bahwa strategi yang berkelanjutan untuk “silencing the guns” harus menyentuh akar struktural konflik, termasuk defisit tata kelola dan pengelolaan sumber daya alam yang adil bagi warga. Ini penting karena keamanan yang hanya diukur dari jumlah operasi militer, tanpa perbaikan layanan publik dan kepercayaan masyarakat, pada akhirnya hanya menghasilkan stabilitas yang sia-sia. Negara mungkin terlihat kuat di peta, tetapi kehilangan dukungan warga di lapangan.
Karena itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah Afrika membutuhkan lebih banyak senjata, tetapi keamanan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan Afrika. Opsinya adalah keamanan yang dibangun dari dalam. Itu berarti memperkuat pemerintahan sipil, memperbaiki hubungan negara dengan warga, membangun kerja sama intelijen dan perbatasan antarnegara Afrika, serta memprioritaskan pembangunan ekonomi di wilayah rentan. Tanpa itu, kelompok bersenjata akan terus menemukan ruang tumbuh, dan setiap kemenangan militer hanya akan menjadi jeda singkat sebelum kekerasan kembali muncul dalam bentuk baru.
Pada akhirnya, keamanan Afrika tidak bisa ditangani dengan logika darurat permanen. Selama dunia masih memandang Afrika terutama sebagai objek intervensi, bukan mitra yang memiliki kapasitas menentukan masa depannya sendiri, maka siklus konflik akan terus berulang. Yang dibutuhkan Afrika bukan sekadar operasi tempur, melainkan kontrak sosial baru antara negara dan rakyatnya. Di situlah akar keamanan sejati dibangun: bukan dari senjata yang lebih banyak, tetapi dari negara yang lebih hadir, lebih adil, dan lebih dipercaya.
Referensi:
Institute for Economics and Peace. (2026). Global Terrorism Index 2026. sumber
ACLED. (2025). Conflict intensifies and instability spreads beyond Burkina Faso, Mali, and Niger. sumber
