Konten dari Pengguna

Propaganda Ketakutan: Bagaimana Fear Appeal Digunakan dalam Konflik Global

R M Agil Fahrezi

R M Agil Fahrezi

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari R M Agil Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Source: Pixabay

Propaganda ketakutan atau fear appeal kini menjadi strategi yang efektif dalam membentuk opini publik di tengah konflik global.Sejak awal abad ke-20, propaganda telah digunakan negara untuk membentuk opini publik dan menggalang dukungan domestik. Harold Lasswell menunjukkan bagaimana negara menggunakan pesan-pesan emosional untuk membangkitkan kebencian terhadap musuh dan menyatukan dukungan domestik (Lasswell, 1938). Salah satu teknik yang paling kuat dan masih relevan hingga hari ini adalah fear appeal, atau propaganda berbasis ketakutan.

Fear appeal bekerja dengan cara menciptakan persepsi ancaman yang mendesak, lalu mengarahkan publik untuk menerima kebijakan atau sikap tertentu sebagai solusi. Ketika rasa takut sudah tertanam, individu cenderung mencari perlindungan dan stabilitas, bahkan jika itu berarti mendukung kebijakan yang lebih keras atau restriktif (Jowett & O’Donnell, 2012).

Fear Appeal sebagai Strategi Propaganda Modern

Dalam praktiknya, teknik ini sering dipadukan dengan penyajian informasi yang selektif dan penekanan berlebihan pada risiko terburuk. Ancaman diperbesar, sementara konteks yang lebih kompleks disederhanakan. Ketika publik diyakinkan bahwa situasi berada dalam kondisi genting, respons emosional akan lebih dominan dibanding pertimbangan rasional (Shabo, 2008).

Contohnya terlihat dalam narasi persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Di satu sisi, Tiongkok dibingkai sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Di sisi lain, narasi dari Beijing menekankan ancaman hegemoni Barat terhadap kedaulatan negara berkembang. Kedua narasi ini sama-sama mengandalkan rasa takut untuk membangun solidaritas internal dan memperkuat legitimasi eksternal.

Edward Bernays menjelaskan bahwa opini publik dapat diarahkan melalui manipulasi simbol dan emosi (Bernays, 1928). Ketakutan menjadi efektif karena ia memicu respons instan dan mengurangi ruang refleksi kritis. Ketika publik merasa terancam, mereka lebih mudah menerima peningkatan anggaran militer, kebijakan keamanan yang ketat, atau pembatasan tertentu atas nama stabilitas nasional.

Teknik ini juga tampak dalam konflik Rusia–Ukraina. Narasi tentang ancaman ekspansi NATO digunakan untuk membangun justifikasi domestik, sementara di sisi lain ancaman agresi Rusia dipakai untuk memperkuat solidaritas dan dukungan militer negara-negara Barat. Ketakutan menjadi alat mobilisasi politik lintas batas.

Bahasa memainkan peran penting dalam strategi ini. Istilah seperti “ancaman eksistensial”, “krisis keamanan”, atau “bahaya laten” bukan sekadar deskripsi netral, melainkan perangkat retoris yang membangun urgensi. Dalam konteks propaganda, pilihan kata dapat menentukan bagaimana publik memahami realitas (Jowett & O’Donnell, 2012).

Masalahnya, politik ketakutan cenderung menyederhanakan dinamika global yang kompleks. Ketika suatu aktor terus-menerus digambarkan sebagai ancaman permanen, ruang dialog menjadi semakin sempit. Publik lebih mudah menerima narasi “kita versus mereka” dibanding memahami kepentingan strategis yang lebih luas.

Propaganda berbasis ketakutan akan terus digunakan karena ia efektif dan mudah menyentuh sisi emosional publik. Namun, memahami cara kerjanya adalah langkah awal untuk tidak sepenuhnya terjebak di dalamnya. Dalam politik global hari ini, ketakutan mungkin mampu memenangkan dukungan jangka pendek, tetapi stabilitas jangka panjang tetap membutuhkan rasionalitas dan pemahaman yang lebih mendalam.

Referensi:

Bernays, E. L. (1928). Propaganda. Liveright Publishing Corporation.

Jowett, G. S., & O’Donnell, V. (2012). Propaganda and persuasion (5th ed.). SAGE Publications.

Lasswell, H. D. (1938). Propaganda technique in the World War. Alfred A. Knopf.

Shabo, M. E. (2008). Techniques of propaganda and persuasion. Prestwick House Inc.