Konten dari Pengguna

ASN, Kopi, dan Dosa Bernama Pulang Tepat Waktu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AGMA YUSKA YS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Buatan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Buatan AI.

Fenomena ASN datang, absen, ngopi, lalu pulang belakangan ini memang menarik untuk dicermati. Publik menilai kinerja ASN masih jauh dari harapan. Maklum, ada anggapan sederhana: kalau gaji ASN dibayar dari pajak masyarakat, maka ASN harus terlihat bekerja setiap detik.

Kalau bisa, datang sebelum matahari terbit, pulang setelah petugas kebersihan mematikan lampu. Kalau pulang tepat waktu, jangan-jangan langsung dicap: “Wah, ini pasti tidak punya pekerjaan.”

Padahal ASN juga manusia.

Bukan robot fotokopi yang kalau tombolnya ditekan langsung bekerja tanpa bertanya apakah kertasnya masih ada.

Setiap ASN punya jobdesk, tupoksi, target, dan tanggung jawab masing-masing. Kalau pekerjaan hari itu sudah selesai, pertanyaannya sederhana:

Lalu harus bekerja apa lagi?

Apakah harus membuka laptop, lalu mengetik:

“Hari ini saya sangat sibuk.”

Kemudian menghapusnya.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Supaya layar komputer tetap menyala dan dari kejauhan terlihat produktif?

Atau mondar-mandir di lorong kantor sambil membawa map kosong?

Kalau ada yang bertanya, jawab saja:

“Sedang koordinasi.”

Koordinasi apa?

Tidak tahu.

Yang penting berjalan.

Sebab dalam sebagian persepsi masyarakat, berjalan ke sana kemari lebih meyakinkan daripada pekerjaan selesai.

Bayangkan seorang ASN yang bertugas melayani pembuatan KTP. Semua antrean sudah selesai. Berkas sudah diperiksa. Pelayanan sudah tuntas.

Tapi karena takut dianggap tidak bekerja kalau pulang, dia kemudian berpikir:

“Daripada pulang dan dianggap malas, lebih baik saya bantu memadamkan kebakaran.”

Besoknya dia datang ke kantor pemadam kebakaran.

Petugas bertanya:

-“Pak, ada keperluan apa?”

- “Saya mau membantu.”

-“Bapak dari mana?”

-“Pelayanan KTP.”

- “Terus kenapa di sini?”

-“Takut dianggap tidak bekerja karena pekerjaan saya sudah selesai.”

Petugas pemadam mungkin langsung menjawab:

“Pak, justru kalau tidak ada kebakaran, kami juga tidak keliling mencari api.”

Nah, di sinilah kita perlu membedakan antara produktif dan terlihat produktif.

ASN yang bekerja di pelayanan KTP tidak harus memadamkan kebakaran hanya supaya terlihat sibuk. Petugas pemadam kebakaran juga tidak perlu membuat KTP hanya agar jam kerjanya terlihat penuh.

Sebab kalau semua ASN harus mengerjakan semua pekerjaan agar dianggap berkinerja, lama-lama kita tidak membutuhkan jobdesk.

Cukup satu tupoksi:

“Pokoknya kelihatan sibuk.”

Robot saja kalau tugasnya sudah selesai akan berhenti bekerja.

Masa ASN harus terus bergerak ke sana kemari hanya untuk membuktikan bahwa dirinya masih hidup?

Tentu saja, bukan berarti budaya datang–absen–ngopi–pulang harus dibenarkan. Disiplin, kehadiran, pelayanan, dan tanggung jawab tetap merupakan kewajiban.

Kopi boleh menjadi teman kerja.

Tapi jangan sampai kopi lebih rajin hadir daripada ASN-nya.

Namun, barangkali sudah waktunya kita mengubah cara melihat kinerja.

Jangan hanya bertanya:

“Berapa lama dia duduk di kantor?”

Tapi tanyakan juga:

“Apa yang sudah dia selesaikan?”

Karena duduk delapan jam tidak otomatis berarti bekerja delapan jam. Sebaliknya, pekerjaan yang selesai lebih cepat juga tidak otomatis berarti orang tersebut malas.

Jangan sampai akhirnya muncul standar baru dalam dunia kerja:

“Kalau masih duduk berarti bekerja. Kalau sudah pulang berarti malas.”

Kalau begitu, kursi kantor sebenarnya pantas mendapatkan penghargaan ASN teladan.

Dia hadir setiap hari.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah izin.

Tidak pernah cuti.

Tidak pernah mengeluh.

Tidak pernah pulang duluan.

Bahkan kalau kantor kosong, dia tetap setia menunggu.

Bedanya, kursi memang tidak punya tupoksi.